GATRABALI.COM, BULELENG – Hari suci Pagerwesi merupakan salah satu hari raya penting bagi umat Hindu yang jatuh setiap 210 hari menurut sistem wariga.
Hari suci ini merupakan perpaduan dari Urip Budha Kliwon dan wuku Pagerwesi. Di berbagai daerah, pelaksanaan euforia Pagerwesi memiliki nilai yang sangat harmonis, meskipun terdapat perbedaan tradisi dalam perayaannya.
Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, mengungkapkan bahwa konsep Pagerwesi memiliki makna khusus di Buleleng.
“Jika kita melihat sejarah, konsep Pagerwesi yang selalu diagungkan di Buleleng merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan pada masa Hindia Belanda. Buleleng adalah pusat ibukota yang disebut dengan Sunda Kecil, tempat kejayaan kerajaan yang memegang tampuk kekuasaan,” ungkapnya dalam wawancara di ruang kerjanya pada Selasa, 11 Februari 2025.
Lebih lanjut, Irma menjelaskan bahwa Buleleng Timur berkembang dengan ajaran Siwa Pasupata, yang mengagungkan Siwa sebagai pusat setiap ritual untuk menyeimbangkan Tri Guna dalam esensi Satwika, Rajasika, dan Tamasika. Sementara itu, di Buleleng Barat berkembang ajaran Buddha Mahayana yang menekankan kasih sayang dalam memuliakan Sang Pencipta.
“Di Buleleng, Pagerwesi dirayakan dengan euforia yang hampir setara dengan Galungan. Ini adalah bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, yang mengajarkan umat untuk mengendalikan emosi dan mengekang Sad Ripu serta Sapta Timira. Salah satu tradisi simbolis dalam pengendalian diri ini adalah penyembelihan hewan yang juga berfungsi sebagai bentuk peningkatan derajat hewan dalam konsep karma yoga,” paparnya.
Makna Spiritual Pagerwesi
Pagerwesi berasal dari kata “pager” (pagar) dan “wesi” (besi), yang melambangkan perlindungan diri dengan ilmu pengetahuan dan spiritualitas agar tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh negatif. Hari suci ini juga berhubungan erat dengan peringatan Saraswati, di mana setelah menerima ilmu, manusia harus menguatkan diri agar tidak tersesat dalam kebodohan dan kesesatan (ajñana).
“Di kawasan Sunda Kecil, Pagerwesi telah lama dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Guru Agung. Akar tradisi ini dapat ditelusuri hingga masa kerajaan Hindu di Nusantara, khususnya di Bali dan Buleleng, di mana ajaran Siwa Siddhanta memandang Siwa Guru sebagai sumber kebijaksanaan tertinggi,” jelasnya.
Di Buleleng, Pagerwesi memiliki nilai yang lebih menekankan pada kekuatan spiritual dan perlindungan diri, mengingat sejarah daerah ini yang kaya akan pengaruh intelektual dan spiritual dari para Brahmana dan Bhujangga Waisnawa.
Tradisi Perayaan Pagerwesi di Buleleng
Perayaan Pagerwesi di Buleleng memiliki tradisi khas, antara lain:
- Upacara di Pura Jagatnatha Singaraja serta pura-pura desa sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Hyang Pramesti Guru.
- Pemujaan leluhur melalui persembahyangan di merajan atau sanggah.
- Kunjungan warga ke setra untuk membawa punjung sebagai bentuk harmonisasi dengan para Pitara sesuai dengan dresta masing-masing.
Menjaga Warisan Leluhur
Menurut Irma, Pagerwesi adalah momentum untuk menyadarkan hati dan memagari diri dengan ajaran luhur leluhur Nusantara, terutama dalam mengamalkan nilai Tri Hita Karana.
“Bagaimana kita menjaga kelestarian alam, memiliki kepedulian kepada lingkungan, sesama, dan Sang Pencipta. Semua itu bisa diwujudkan melalui rutinitas yang menjadikan ajaran ilmu pengetahuan sebagai benteng agar kita selalu berada di jalan Dharma,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Pagerwesi bukan hanya sekadar perayaan rutin, tetapi merupakan momen untuk memperkuat benteng spiritual, sebagaimana Arjuna dipandu oleh Sri Krishna dalam pustaka suci Bhagavad Gita.
“Perayaan Pagerwesi di Buleleng menunjukkan keberagaman ritual dan tradisi yang kaya. Ini mencerminkan usaha masyarakat dalam menjaga warisan leluhur serta memperkuat spiritualitas di tengah perubahan zaman,” tutupnya.(adv/gb)





