spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungKUR BRI Perkuat Modal Usaha Petani Bunga Pacah di Kabupaten Badung-Bali

KUR BRI Perkuat Modal Usaha Petani Bunga Pacah di Kabupaten Badung-Bali

GATRABALI.COM, MANGUPURA – Made Tarji, petani bunga pacah di Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Kabupaten Badung, berpandangan akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pertaniannya.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi penopang modal untuk membiayai kebutuhan produksi, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga perawatan tanaman.

Tarji menuturkan, biaya produksi untuk satu siklus tanam bunga pacah dapat mencapai sekitar Rp20 juta. Modal tersebut diperlukan sebelum tanaman menghasilkan, sehingga dukungan pembiayaan menjadi penting agar proses budidaya dapat berjalan optimal.

“Bantuan modal sangat membantu petani. Karena sebelum panen, biaya untuk pengolahan lahan, bibit, pupuk sampai perawatan sudah lebih dulu dikeluarkan,” ujar Tarji ditemui di sawahnya, pada Senin, 27 Juli 2026.

Baca Juga  100 Hari Kepemimpinan Bang Ipat, Pemkab Jembrana Kembali Gulirkan Program Bedah Warung Harmoni

Menurut Tarji, bunga pacah merupakan komoditas yang membutuhkan perawatan intensif. Tanaman mulai berbunga sekitar tiga minggu setelah ditanam dan dapat dipanen setiap hari selama dua hingga tiga bulan apabila pertumbuhannya baik. Pada masa panen awal, hasil produksi dapat mencapai sekitar 35 kilogram per hari sebelum menurun menjadi sekitar 25 hingga 27 kilogram per hari.

Meski permintaan bunga untuk kebutuhan upacara keagamaan di Bali relatif stabil, pendapatan petani tidak selalu meningkat. Harga bunga pacah sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Saat pasokan melimpah, harga dapat turun hingga sekitar Rp10.000 per kilogram. Sebaliknya, ketika produksi berkurang, harga bisa mencapai sekitar Rp40.000 per kilogram. Selain fluktuasi harga, cuaca menjadi tantangan utama karena dapat memengaruhi kualitas maupun volume panen.

Baca Juga  DisdagperinkopUKM Buleleng Terus Menggagas Langkah Progresif

Bunga yang telah dipanen, ujar dia, tidak dapat disimpan terlalu lama sehingga harus segera dipasarkan. Kondisi tersebut membuat petani kerap menerima harga yang ditetapkan pasar maupun pengepul. Oleh karena itu, efisiensi biaya produksi dan ketersediaan modal menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Bagi Tarji, dukungan modal melalui KUR menjadi salah satu bekal untuk mempertahankan usahanya. Dengan modal yang tersedia, ia dapat memenuhi kebutuhan produksi sehingga pasokan bunga pacah untuk kebutuhan upacara masyarakat Bali tetap terjaga di tengah dinamika harga dan tantangan cuaca.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus memperkuat penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif, termasuk pertanian, sebagai upaya meningkatkan kapasitas usaha para pelaku UMKM.

Baca Juga  Pj Ketua Forikan Bali Dorong Masyarakat Karangasem Konsumsi Ikan untuk Cegah Stunting

Menurutnya, pembiayaan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha. “Kami melihat sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian daerah,” ucap Hery.

Melalui KUR, BRI ingin memastikan para petani memiliki akses pembiayaan yang memadai sehingga dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, serta menjaga kesinambungan produksi. Harapannya, pembiayaan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekosistem pertanian di Bali.

Ia menambahkan, BRI akan terus memperluas akses pembiayaan kepada pelaku usaha produktif yang memiliki prospek usaha dan dikelola secara baik. Dengan dukungan permodalan yang berkelanjutan, sektor pertanian diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi tantangan, sekaligus mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.(ism/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments