GATRABALI.COM, DENPASAR – Bagi sebagian orang, sepeda motor tua mungkin hanya dipandang sebagai kendaraan lawas yang sudah kalah pamor dengan motor-motor keluaran terbaru. Namun, bagi Wawan, warga asal Denpasar, Bali, sebuah GL Pro tahun 1990 memiliki cerita dan nilai tersendiri.
Motor tersebut bukan sekadar kendaraan yang digunakan untuk beraktivitas. GL Pro 1990 miliknya sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membuat Wawan enggan melepasnya, meski belakangan motor lawas tersebut semakin banyak diburu orang.
Di tengah tren motor klasik yang kembali diminati, GL Pro generasi lawas kini mulai mendapat perhatian dari para penghobi dan kolektor. Kondisi motor yang masih terawat, karakter mesin yang khas, serta desain yang mengingatkan pada era 1990-an membuat kendaraan seperti milik Wawan semakin menarik perhatian.
Tak sedikit orang yang kemudian tertarik dan mencoba menanyakan apakah motor tersebut dijual. Namun, bagi Wawan, tawaran tersebut belum cukup untuk membuatnya berpaling.
“Saya sayang dengan motor ini. Banyak yang mencari dan menanyakan, tetapi untuk sekarang belum ada niat menjual,” ujar Wawan.
Baginya, mempertahankan GL Pro 1990 bukan semata-mata soal harga. Ada unsur kenangan dan kepuasan tersendiri ketika masih bisa merawat serta mengendarai motor yang usianya sudah lebih dari tiga dekade.

GL Pro juga memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sepeda motor modern. Suara mesin, bentuk bodi, hingga sensasi berkendara menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta motor lawas.
Apalagi, semakin tua usia sebuah motor dan semakin sulit menemukan unit yang masih memiliki kondisi baik serta komponen yang sesuai, nilai historisnya pun semakin terasa.
Wawan memilih untuk tetap merawat motor kesayangannya tersebut. Ia menyadari bahwa motor yang dahulu mungkin dianggap sebagai kendaraan biasa kini justru menjadi barang yang dicari oleh para penggemar motor klasik.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepeda motor era 1990-an perlahan kembali mendapatkan tempat di hati generasi sekarang. Bukan hanya karena nostalgia, tetapi juga karena keberadaan motor lawas dalam kondisi terawat semakin sulit ditemukan.
Bagi Wawan, GL Pro 1990 itu akhirnya bukan sekadar motor tua. Ia adalah kendaraan yang menyimpan cerita, kenangan, sekaligus menjadi bukti bahwa sebuah motor bisa memiliki nilai emosional yang jauh lebih tinggi dibandingkan sekadar angka dalam sebuah tawaran.
Dan selama Wawan masih menyayanginya, GL Pro 1990 tersebut tampaknya akan tetap menjadi koleksi kesayangan yang sulit berpindah tangan. (gatrabali)


