spot_img
BerandaBaliArief Wibisono Kupas UKW dan Teknik Jurnalistik di OKK PWI Bali 2026

Arief Wibisono Kupas UKW dan Teknik Jurnalistik di OKK PWI Bali 2026

GATRABALI.COM, DENPASAR – Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Bali, Arief Wibisono, S.I.Kom., M.I.Kom., CT BNSP, mengingatkan peserta Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Bali 2026 bahwa kompetensi wartawan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menulis berita, tetapi juga mencakup pengetahuan, etika, keterampilan, hingga kemampuan menghadapi situasi di lapangan.

Hal itu disampaikan Arief saat menjadi pembicara dalam OKK PWI Bali 2026 dengan materi Kompetensi Wartawan (UKW) dan Teknik Dasar Jurnalistik, Jumat, 21 Agustus 2026.

Arief menjelaskan, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pada dasarnya menguji kembali kemampuan yang semestinya sudah menjadi bagian dari aktivitas jurnalistik sehari-hari. Karena itu, wartawan tidak perlu memandang UKW sebagai sesuatu yang terpisah dari pekerjaan mereka di lapangan.

Menurutnya, salah satu kemampuan yang sangat penting adalah melakukan wawancara. Sebelum bertemu narasumber, wartawan harus memiliki persiapan yang cukup, mulai dari memahami isu, mempelajari latar belakang narasumber, hingga menyiapkan data dan pertanyaan yang relevan.

“UKW itu sebenarnya merekonstruksi apa yang kita lakukan sehari-hari di lapangan. Ketika melakukan wawancara secara langsung, wartawan harus sudah memahami materi yang akan dibicarakan dengan narasumber,” kata Arief.

Dalam wawancara, lanjut dia, wartawan tidak cukup hanya menyiapkan daftar pertanyaan. Wartawan juga harus mampu mengikuti alur pembicaraan dan menangkap informasi yang disampaikan narasumber untuk kemudian dikembangkan menjadi pertanyaan lanjutan.

Arief mengingatkan agar wartawan tidak terburu-buru memotong penjelasan narasumber. Justru dari jawaban yang disampaikan, wartawan dapat menemukan celah untuk menggali informasi lebih dalam.

Baca Juga  Hadiri Konferensi PWI Bali 2025, Wagub Giri Prasta Dorong Pers Jaga Marwah Jurnalisme dan Budaya Daerah

“Dengarkan dulu apa yang disampaikan narasumber. Dari jawaban itu biasanya ada informasi lain yang bisa kita gali. Di situlah wawancara menjadi percakapan, bukan sekadar tanya jawab,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sikap dan penampilan ketika bertemu narasumber. Menurut Arief, profesionalitas wartawan tidak hanya terlihat dari pertanyaan yang diajukan, tetapi juga dari cara membawa diri ketika menjalankan tugas jurnalistik.

Dalam konteks UKW, Arief meminta peserta mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Penguji maupun situasi yang dihadapi peserta tidak selalu dapat diprediksi sehingga wartawan dituntut memiliki kemampuan beradaptasi dan tetap aktif dalam proses peliputan.

Ia mencontohkan sesi konferensi pers. Peserta tidak hanya dituntut hadir dan mendengarkan, tetapi juga harus menunjukkan keaktifan dalam menggali informasi karena kemampuan tersebut merupakan bagian dari kompetensi wartawan.

Materi Arief juga menyoroti tiga aspek utama yang harus dimiliki seorang wartawan, yakni kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Kesadaran berkaitan dengan tanggung jawab profesi, pengetahuan menyangkut pemahaman terhadap dunia jurnalistik, sedangkan keterampilan merupakan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik.

Ketiga aspek itu kemudian diperkuat dengan sejumlah kompetensi, antara lain pemahaman etika dan hukum, kepekaan terhadap fakta yang memiliki nilai berita, kemampuan membangun jejaring dan lobi, penguasaan bahasa jurnalistik, pengumpulan serta analisis informasi, penyajian dan penyuntingan berita, hingga kemampuan menggunakan teknologi pemberitaan.

Arief juga mengajak peserta memahami nilai berita atau news values sebagai dasar dalam menentukan kelayakan sebuah informasi untuk diberitakan.

Ia menyebut terdapat sembilan nilai berita yang dapat digunakan wartawan maupun editor, yakni magnitude, impact, proximity, prominence, timeliness, human interest, oddity, currency, dan usefulness.

Baca Juga  Pullman Bali Legian Beach Mengundang Tamu Menikmati Ravishing Rum Rivals, Bar Takeover di Infinity Pool Bar

Menurut Arief, wartawan tidak harus menemukan seluruh unsur tersebut dalam satu peristiwa. Satu atau dua nilai berita yang kuat sudah dapat menjadi alasan sebuah informasi memiliki daya tarik bagi redaksi.

“Jangan berpikir sebuah berita harus memenuhi sembilan nilai berita sekaligus. Kalau ada satu atau dua nilai yang kuat, itu sudah bisa menjadi daya tarik. Yang penting wartawan mampu menemukan dan menjelaskan nilai tersebut,” jelasnya.

Karena itu, sebelum mengirim berita kepada redaksi, wartawan perlu membiasakan diri bertanya mengenai apa yang membuat informasi tersebut penting bagi publik. Apakah terdapat data atau angka yang signifikan, siapa yang terdampak, seberapa besar dampaknya, apakah peristiwa memiliki kedekatan dengan audiens, melibatkan tokoh penting, baru terjadi, memiliki unsur kemanusiaan, unik, sedang menjadi perhatian publik, atau memberikan manfaat dan solusi.

Dengan kemampuan tersebut, wartawan tidak sekadar menjadi pengumpul informasi, tetapi juga mampu menentukan relevansi sebuah peristiwa bagi masyarakat.

Dalam teknik wawancara, Arief kembali menekankan pentingnya persiapan. Wartawan perlu membuat kesepakatan dengan narasumber mengenai waktu dan tempat, menyiapkan pertanyaan serta data pendukung, dan memahami persoalan yang akan dibahas.

“Kalau kita tidak melakukan riset sebelum wawancara, pertanyaan yang muncul biasanya hanya pertanyaan permukaan. Sebaliknya, ketika kita memahami isu dan latar belakang narasumber, kita bisa masuk lebih jauh dan mendapatkan informasi yang lebih bernilai,” paparnya.

Baca Juga  Emmanuel Dewata Oja: Wartawan Tak Kebal Hukum, Pahami Batas Aman dalam Jurnalistik

Arief juga mengingatkan peserta agar tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Media Siber dalam menjalankan tugas. Prinsip keberimbangan, verifikasi, serta cek dan ricek harus menjadi bagian dari proses peliputan.

Ia menegaskan, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Wartawan memang dituntut mampu bekerja cepat, tetapi informasi yang disampaikan kepada publik tetap harus melalui proses verifikasi.

“Menjadi yang pertama bukan berarti menjadi yang paling baik. Yang lebih penting adalah memastikan informasi yang kita sampaikan benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Di tengah perkembangan teknologi, Arief juga mengingatkan peserta mengenai perubahan pola distribusi informasi melalui konvergensi media. Media kini memanfaatkan berbagai saluran, termasuk media sosial, untuk mendistribusikan produk jurnalistik kepada masyarakat.

Menurutnya, konvergensi media bukan berarti menghilangkan peran media utama. Konvergensi lebih kepada penggabungan berbagai saluran distribusi agar informasi dapat menjangkau publik secara lebih luas.

Sementara dalam penulisan berita, Arief mengingatkan wartawan untuk tetap menempatkan akurasi, aktualitas, dan kemudahan pemahaman sebagai dasar.

Proses penulisan mencakup pengumpulan informasi, pencatatan unsur 5W+1H, penyusunan teras dan isi berita, hingga penyuntingan untuk memastikan fakta, bahasa, ejaan, serta penerapan kode etik jurnalistik.

Melalui materi tersebut, Arief mendorong peserta OKK PWI Bali untuk terus meningkatkan kompetensi dan tidak berhenti belajar.

Standar kompetensi wartawan pada akhirnya bukan sekadar persyaratan untuk mengikuti UKW, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga profesionalitas dan martabat wartawan serta memastikan kerja jurnalistik tetap berpihak pada kepentingan publik.(ri/gatrabali)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments