Gatrabali.com, DENPASAR
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari kekurangan. Dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun berbangsa, perbedaan sifat, watak, dan kemampuan seringkali menjadi sumber gesekan yang, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat merusak keharmonisan bersama. Namun demikian, ajaran agama Hindu menawarkan sebuah cara pandang yang mendalam untuk menyikapi kenyataan ini, yakni melalui sikap “bersahabat dengan ketidaksempurnaan”. Sikap ini bukan berarti membiarkan kesalahan tanpa perbaikan, melainkan sebuah kesadaran spiritual untuk menerima keberagaman kualitas manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Filosofi ini berakar kuat pada ajaran Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana, dua konsep fundamental yang menjadi pedoman hidup umat Hindu dalam membangun keutuhan keluarga, masyarakat, dan negara.
Tat Twam Asi: Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku
Salah satu ajaran filosofis tertinggi dalam Hindu termuat dalam Chandogya Upanishad, yaitu Tat Twam Asi, yang secara harfiah berarti “Itu adalah Engkau” atau “Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku”. Kalimat ini diucapkan oleh Rsi Uddalaka kepada putranya, Svetaketu, dalam Chandogya Upanishad VI.8.7, sebagai puncak dari serangkaian perumpamaan tentang kesatuan segala sesuatu dengan sumber tunggalnya:
“Sa ya eṣo ‘ṇimaitadātmyam idaṁ sarvaṁ, tat satyaṁ, sa ātmā, tat tvam asi, Śvetaketo.” (“Yang paling halus itu adalah hakikat segala sesuatu ini. Itulah kebenaran sejati, itulah Atman, dan itu adalah engkau, wahai Svetaketu.”)
Ajaran ini menegaskan bahwa hakikat setiap makhluk hidup (Atman) pada dasarnya bersumber dan menyatu dengan Brahman, sang sumber kehidupan semesta. Kesatuan ini juga ditegaskan dalam Brihadaranyaka Upanishad I.4.10 melalui ungkapan “Aham Brahmasmi” (“Aku adalah Brahman”), yang menunjukkan bahwa penyadaran diri sejati manusia tidak lain adalah penyadaran akan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Dengan kata lain, tidak ada sekat sejati antara “aku” dan “orang lain”, sebab pada tataran spiritual yang paling dalam, semua makhluk berasal dari percikan yang sama.
Kesadaran akan kesatuan ini juga digemakan dalam Bhagavad Gita VI.29, ketika Sri Krishna bersabda kepada Arjuna tentang jiwa yang telah mantap dalam yoga:
“Sarvabhūtastham ātmānaṁ sarvabhūtāni cātmani, īkṣate yoga-yuktātmā sarvatra sama-darśanaḥ.” (Ia yang telah bersatu dalam yoga memandang dirinya hadir di dalam semua makhluk, dan memandang semua makhluk hadir di dalam dirinya, dengan pandangan yang setara ke segala arah.)
Konsekuensi dari pemahaman ini sangat luas. Jika seseorang menyakiti orang lain, sesungguhnya ia sedang menyakiti dirinya sendiri. Jika seseorang mencela kekurangan sesamanya, ia sesungguhnya sedang mencela bagian dari dirinya sendiri, karena “yang lain” itu sejatinya adalah “aku” juga. Kesadaran inilah yang mendorong manusia untuk menerima kekurangan dan kelebihan sesamanya bukan sebagai sesuatu yang asing dan layak dihakimi, melainkan sebagai bagian dari perjalanan bersama menuju kesempurnaan. Menerima ketidaksempurnaan orang lain, dalam pandangan ini, sama artinya dengan menerima ketidaksempurnaan diri sendiri, sebab keduanya berasal dari sumber yang satu.
Tri Hita Karana: Tiga Jalan Menuju Keharmonisan
Kesadaran Tat Twam Asi tersebut kemudian diperkuat dan diwujudkan secara nyata melalui ajaran Tri Hita Karana, yang secara harfiah berarti “tiga penyebab kesejahteraan”. Ajaran ini menuntun manusia untuk senantiasa membina hubungan yang harmonis dalam tiga dimensi:
- Parahyangan — hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan vertikal ini menjadi fondasi spiritual yang menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa segala sesuatu berjalan atas kehendak-Nya, termasuk keberagaman sifat manusia.
- Pawongan — hubungan harmonis antara sesama manusia. Dimensi ini menuntut sikap saling menghormati, tolong-menolong, dan tenggang rasa, termasuk kemampuan untuk menerima perbedaan pendapat, sifat, dan kekurangan orang lain tanpa kehilangan rasa persaudaraan.
- Palemahan — hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Dimensi ini mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam yang harus dijaga keseimbangannya.
Ketiga dimensi ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Ketika seseorang mampu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, ia akan lebih mudah bersikap arif terhadap sesama manusia, termasuk terhadap kekurangan-kekurangan yang mereka miliki. Demikian pula, hubungan yang harmonis dengan sesama manusia akan menciptakan lingkungan sosial yang sehat, yang pada gilirannya turut menjaga keseimbangan alam semesta.
Hubungan Pawongan yang menuntut sikap penuh kasih terhadap sesama, terlepas dari kekurangannya, selaras dengan pesan Bhagavad Gita XII.13-14 tentang sifat seorang bhakta sejati:
“Adveṣṭā sarva-bhūtānāṁ maitraḥ karuṇa eva ca…” (Ia yang tidak membenci makhluk apa pun, yang bersahabat dan berbelas kasih kepada semuanya, itulah yang dikasihi Tuhan.)
Ayat ini menegaskan bahwa sikap bersahabat—termasuk bersahabat dengan ketidaksempurnaan sesama—bukan sekadar anjuran moral, melainkan wujud nyata dari bhakti (pengabdian) itu sendiri.
“Obat Pengertian” dalam Sarasamuccaya
Kitab Sarasamuccaya, susastra etika Hindu susunan Bhagawan Wararuci yang memuat 511 sloka, mengenalkan konsep yang dapat disebut sebagai “obat pengertian”. Secara khusus, kitab ini bahkan memuat larangan tegas untuk mencela sesama yang memiliki kekurangan:
“Nyan inilagakén, hana wwang wukāra, kurang lwih awayawanya, tan wruh mangaji kunang, wwang durbhāga, durbala inupét kunang, wwang ahala, wwang tanpamās, wwang mudha, wwang wédi-wédi kunang, yatika tan tiraskaran tanuyan.” (Inilah yang patut dihindari: mencela orang yang cacat karena kurang atau lebih anggota tubuhnya, orang buta huruf, orang yang sengsara dan tak berdaya, orang yang tercela, orang miskin, orang bodoh, maupun orang yang penakut. Orang-orang seperti itu tidak boleh dicerca atau diabaikan.)
Sloka ini secara eksplisit mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan fisik, ekonomi, maupun intelektual seseorang tidak pernah menjadi alasan untuk merendahkan martabatnya. Semangat yang sama juga termuat dalam Sarasamuccaya sloka 99, yang menautkan sikap ini langsung pada kesadaran akan kesatuan diri dengan sesama—gaung dari Tat Twam Asi:
“Apayapan ikang wwang upasama, tan pahi lawan awaknya ta pwa ikang sarwabhawa…” (Orang yang berpandangan tenang, yang memandang segala makhluk tidak berbeda dari dirinya sendiri—orang seperti inilah yang tidak akan pernah menjadi egois, melainkan penuh kasih kepada seluruh alam semesta, dan hanya orang seperti inilah yang mampu memperoleh kebahagiaan sejati.)
Ajaran-ajaran ini menegaskan bahwa setiap persoalan dalam kehidupan hendaknya diselesaikan dengan kebijaksanaan dan pengertian, bukan dengan amarah, cercaan, atau tindakan yang justru menambah persoalan baru. Sikap “bersahabat dengan ketidaksempurnaan” dapat dipahami sebagai penerapan nyata dari obat pengertian ini.
Ketika seseorang dihadapkan pada kekurangan pasangan hidup, anak, orang tua, tetangga, rekan kerja, atau bahkan sesama warga bangsa, respons pertama yang diajarkan bukanlah penghakiman, melainkan pengertian. Dengan pengertian, seseorang mampu melihat persoalan secara utuh, mencari akar penyebabnya, dan menyelesaikannya dengan cara yang tidak menambah luka atau konflik baru. Inilah esensi dari harmoni sosial yang dibangun di atas landasan kasih dan pemahaman, bukan di atas tuntutan kesempurnaan yang justru rapuh dan mudah retak.
Penerimaan sebagai Kekuatan, Bukan Kelemahan
Ada pandangan keliru yang sering muncul di masyarakat modern bahwa menerima kekurangan orang lain adalah bentuk kelemahan atau kepasrahan yang tidak produktif. Ajaran Hindu justru menegaskan sebaliknya. Penerimaan terhadap keterbatasan manusia bukanlah sikap lemah, melainkan jalan menuju kebahagiaan hakiki (ananda). Sebab, tuntutan akan kesempurnaan yang berlebihan justru sering kali menjadi sumber kekecewaan, kemarahan, dan perpecahan.
Bersahabat dengan ketidaksempurnaan berarti memiliki keberanian untuk melihat kekurangan sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama, bukan sebagai cacat yang harus disingkirkan. Sikap ini menumbuhkan kedewasaan spiritual, karena seseorang yang mampu menerima ketidaksempurnaan orang lain pada dasarnya juga sedang belajar menerima dan memperbaiki ketidaksempurnaan dirinya sendiri.
Implementasi dalam Kehidupan Keluarga
Dalam lingkup keluarga, ajaran Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana dapat diwujudkan melalui sikap saling memahami antara suami dan istri, orang tua dan anak, serta antaranggota keluarga besar. Tidak ada keluarga yang sempurna; setiap anggota keluarga memiliki keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Ketika kesadaran “aku adalah engkau” tertanam dalam keluarga, konflik kecil tidak lagi berubah menjadi perpecahan besar, karena setiap anggota keluarga menyadari bahwa menyakiti yang lain sama dengan menyakiti diri sendiri. Keluarga yang dibangun atas dasar pengertian, bukan tuntutan kesempurnaan, akan menjadi tempat berlindung yang hangat bagi setiap anggotanya.
Implementasi dalam Solidaritas Masyarakat
Pada tataran masyarakat yang lebih luas, sikap bersahabat dengan ketidaksempurnaan menumbuhkan solidaritas sosial yang tulus. Masyarakat yang majemuk, dengan latar belakang suku, agama, ekonomi, dan pendidikan yang berbeda-beda, membutuhkan landasan pemahaman bahwa setiap individu memiliki keterbatasan yang berbeda pula. Gotong royong, tolong-menolong, dan kepedulian sosial akan tumbuh subur ketika masyarakat tidak lagi saling menuntut kesempurnaan, melainkan saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Prinsip Pawongan dalam Tri Hita Karana menjadi pedoman nyata bagi terciptanya masyarakat yang rukun dan penuh kasih.
Implementasi dalam Semangat Kebangsaan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, khususnya di Indonesia yang majemuk, ajaran ini memiliki relevansi yang sangat besar. Semangat kebangsaan yang inklusif hanya dapat terwujud apabila setiap warga negara mampu menerima perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ancaman. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan tidak perlu dipandang sebagai ketidaksempurnaan yang harus diseragamkan, melainkan sebagai keberagaman yang saling melengkapi dalam bingkai persatuan. Nilai-nilai Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana, meskipun berakar dari tradisi Hindu, pada hakikatnya bersifat universal dan selaras dengan semangat Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Penutup: Hati Senang Walaupun Tak Punya Uang
Ungkapan populer “Hati Senang Walaupun Tak Punya Uang” secara sederhana namun mendalam menggambarkan esensi ajaran ini. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada kesempurnaan materi maupun kesempurnaan manusia di sekitar kita, melainkan pada kemampuan hati untuk menerima kenyataan hidup apa adanya, dengan penuh syukur dan pengertian. Bhagavad Gita XII.13-14 menutup gambaran tentang jiwa yang dikasihi Tuhan dengan menyebutnya sebagai sosok yang santuṣṭaḥ — senantiasa merasa cukup dan puas, apa pun keadaan lahiriahnya. Ketika manusia mampu bersahabat dengan ketidaksempurnaan dirinya sendiri dan sesamanya, ia akan menemukan kedamaian batin yang tidak bergantung pada keadaan luar.
Dengan demikian, Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana menjadi landasan filosofis yang kokoh untuk membangun kehidupan yang damai, mulai dari lingkup keluarga terkecil hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Penerimaan terhadap ketidaksempurnaan bukanlah tanda kekalahan, melainkan wujud kebijaksanaan tertinggi yang mengantarkan manusia pada harmoni sejati—harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Artikel ini disusun berdasarkan ajaran filosofis Hindu yang termuat dalam Chandogya Upanishad VI.8.7 (mahāvākya Tat Twam Asi), Bhagavad Gita VI.29 dan XII.13-14, Sarasamuccaya (susunan Bhagawan Wararuci, abad ke-9), serta konsep Tri Hita Karana sebagai pedoman hidup umat Hindu Bali dan Nusantara.
Oleh : Dr. I Ketut Sudira, SH.,MH.
Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar
Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar


