spot_img
BerandaBaliDari Tumpukan Koran Bekas Jadi Cuan, Kerajinan Luh Rusmiati Tembus Pasar Jepang...

Dari Tumpukan Koran Bekas Jadi Cuan, Kerajinan Luh Rusmiati Tembus Pasar Jepang dan Afrika

GATRABALI.COM, BULELENG – Tumpukan koran bekas yang terlihat sederhana justru menjadi awal perjalanan Luh Rusmiati dalam mengembangkan usaha kerajinan.

Perempuan asal Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Buleleng, tersebut mulai belajar mengolah kertas bekas secara mandiri sejak 2016 hingga menghasilkan beragam produk yang memiliki nilai ekonomi.

Rusmiati tidak memiliki pendidikan khusus di bidang kerajinan. Ketertarikannya bermula ketika melihat banyak koran bekas di rumah saudaranya. Dari sana, ia mencoba membuat keranjang sederhana yang digunakan untuk tempat air mineral.

Produk pertama yang dibuatnya ternyata mendapat respons positif. Sejumlah orang mulai tertarik dan meminta Rusmiati membuat berbagai produk lainnya.

“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang dan ada yang meminta dibuatkan produk lain seperti bokor,” tuturnya saat ditemui di galerinya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Seiring waktu, usaha yang diberi nama “Gegaen Lima Craft” tersebut terus berkembang. Rusmiati kini menghasilkan berbagai kerajinan, mulai dari anyaman, tempat pensil, nampan, tatakan gelas dan gantungan kunci hingga perabotan seperti meja dan kursi.

Baca Juga  Indonesia Anti-Scam Centre, Langkah OJK Tangani Penipuan Keuangan Secara Efektif

Untuk bahan bakunya, Rusmiati menggunakan berbagai jenis kertas. Koran bekas diperoleh dengan cara membeli, sedangkan jenis kertas lainnya banyak didapatkan dari donasi teman-temannya.

Ia juga menerapkan sistem barter dengan sejumlah penyumbang. Kertas bekas yang diberikan kepadanya diolah menjadi produk kerajinan, kemudian sebagian hasilnya dikembalikan kepada penyumbang dalam bentuk barang, seperti tempat pensil atau nampan kecil.

“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” jelasnya.

Perjalanan usaha tersebut perlahan membawa produk Gegaen Lima Craft ke pasar yang lebih luas. Pada 2017, Rusmiati sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar. Sejumlah produknya, seperti tatakan gelas dan nampan, bahkan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.

Produk kerajinannya juga menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke homestay di sekitar tempat usahanya. Mereka membeli sejumlah produk untuk dijadikan suvenir dan dibawa pulang ke negara masing-masing.

Dari usaha kerajinan tersebut, Rusmiati memperkirakan omzetnya bisa mencapai sekitar Rp5 juta per bulan. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama setiap bulannya.

Baca Juga  Transformasi Posyandu Denpasar, Kader Dibekali Pelatihan dan Bantuan dari Tim Provinsi Bali

Harga yang ditawarkan juga bervariasi. Gantungan kunci sebagai salah satu produk sederhana dibanderol mulai sekitar Rp5 ribu per buah. Sedangkan meja dan kursi dijual dalam bentuk set dengan harga yang menyesuaikan jenis dan ukuran.

Rusmiati berharap usaha yang dijalaninya tidak berhenti sebagai sumber penghasilan semata. Ia ingin kerajinan dari kertas bekas tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” ungkapnya.

Perjalanan Gegaen Lima Craft juga mendapat perhatian melalui berbagai kesempatan promosi yang diberikan pemerintah. Rusmiati beberapa kali mengikuti pameran dan kegiatan promosi produk lokal, di antaranya Lovina Festival, Buleleng Festival serta kegiatan di tingkat kecamatan.

Bagi Rusmiati, kesempatan tersebut sangat membantu untuk mengenalkan produk kerajinannya kepada masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu, Perbekel Desa Sudaji I Made Ngurah Fajar Kurniawan memberikan apresiasi terhadap semangat para pelaku UMKM di desanya. Rusmiati menjadi salah satu pelaku usaha yang dinilai mampu mengubah limbah kertas menjadi karya seni yang memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga  Bupati Jembrana Tinjau PLUT KUMKM, Tegaskan Dukungan untuk Program Bedah Warung hingga Creative Hub

Menurut Fajar, kreativitas seperti yang dilakukan Rusmiati masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Dengan pengembangan tersebut, produk UMKM Desa Sudaji diharapkan tidak hanya menjangkau pasar lokal, tetapi juga dapat dipasarkan lebih luas hingga tingkat nasional dan internasional.

“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujarnya.

Fajar menambahkan, pemerintah desa juga berupaya membantu mengantisipasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku UMKM, terutama terkait permodalan, pemasaran dan kebutuhan pengembangan usaha lainnya. Dukungan tersebut dilakukan melalui motivasi, pembinaan serta membangun hubungan dengan berbagai stakeholder yang dapat mendukung kemajuan UMKM di Desa Sudaji.

Ia berharap dukungan terhadap para pelaku UMKM semakin kuat, baik dari pemerintah maupun stakeholder lainnya. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan produk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(adv/gatrabali)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments