GATRABALI.COM, BULELENG – Pemerintah Kabupaten Buleleng memastikan keberlanjutan pengembangan Kawasan Sistem Pertanian Terpadu di Kelurahan Banyuasri, meski jembatan bailey penghubung kawasan tersebut telah ditarik untuk penanganan darurat bencana di NTT.
Pemkab telah mengalokasikan anggaran pembangunan jembatan permanen dalam RAPBD 2026.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan penarikan jembatan dilakukan oleh Kodam IX/Udayana karena dibutuhkan segera di Kabupaten Nagekeo yang mengalami kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang.
“Kami tentu memahami, karena kondisi di sana mendesak. Namun untuk di Buleleng, sudah disiapkan pembangunan jembatan permanen tahun 2026,” jelasnya, Kamis, 2 Oktober 2025.
Menurut Sutjidra, jembatan baru ini menjadi kebutuhan mendesak agar akses transportasi menuju kawasan pertanian terpadu kembali lancar.
Kawasan tersebut dirancang sebagai laboratorium pertanian modern, sekaligus lokasi percontohan berbagai komoditas unggulan Kabupaten Buleleng.
“Kami ingin kawasan ini menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan pertanian. Dari sini, komoditas unggulan bisa diuji coba dan kemudian dikembangkan lebih luas oleh para petani,” ujar bupati asal Desa Bontihing ini.
Sebelumnya, jembatan bailey sepanjang 33 meter dengan lebar 6,2 meter itu dipasang sejak Januari 2024 untuk mendukung aktivitas pertanian terpadu. Namun, setelah masa peminjaman berakhir dan diperpanjang, akhirnya Kodam IX/Udayana menarik jembatan untuk keperluan penanggulangan bencana di NTT.
Dengan rencana pembangunan jembatan permanen, Pemkab Buleleng menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama ekonomi daerah.(adv/gb)





