GATRABALI.COM, TABANAN – Nuanu Creative City resmi membuka Nusantara, sebuah destinasi kuliner dan budaya yang mengangkat kekayaan cita rasa, kopi, seni, serta tradisi dari berbagai daerah di Indonesia dalam satu kawasan di Tabanan, Bali.
Kehadiran Nusantara menjadi alternatif di tengah dominasi konsep hospitality internasional yang berkembang di Pulau Dewata.
Nusantara dirancang sebagai perjalanan budaya yang membawa pengunjung menjelajahi sembilan pulau di Indonesia melalui ragam kuliner khas daerah.
Pengalaman tersebut dimulai dari Warung Nine Island yang menyajikan masakan tradisional dari Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumba, Flores, dan Madura dengan teknik memasak autentik serta penggunaan rempah yang diracik langsung setiap hari.
Selain itu, bahan-bahan dari berbagai daerah tersebut juga diolah menjadi sajian kontemporer melalui Meja 36 tanpa menghilangkan karakter cita rasa aslinya. Sementara The Mangrove Café menawarkan kopi single-origin dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Flores yang dipadukan dengan aneka jajanan pasar bercita rasa lokal.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengatakan Bali memiliki peran penting sebagai gerbang Indonesia bagi wisatawan dunia. Karena itu, Nusantara dihadirkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner dari berbagai daerah lain di Indonesia kepada para pengunjung.
“Bali adalah pintu gerbang Indonesia, dan kami ingin Nuanu membuka pintu tersebut lebih lebar. Para tamu kami telah jatuh cinta pada budaya Bali, Nusantara merupakan undangan bagi mereka untuk mencintai kekayaan kepulauan Indonesia lainnya: kulinernya, karya seninya, dan keberagaman daerahnya,” ujar Lev Kroll.
Pengalaman budaya di Nusantara juga diperkuat melalui The Gallery yang dibuka dengan pameran INDONESIAN VISION. Pameran tersebut menampilkan 1.000 artefak suku asli Indonesia yang dikurasi oleh Pascal Morabito dan dilengkapi panduan digital mengenai sejarah, teknik, serta konteks budaya dari setiap karya.
Pemilik Nusantara, James Ephraim, menjelaskan seluruh bahan dan inspirasi kuliner diperoleh melalui perjalanan langsung ke berbagai daerah di Indonesia untuk memastikan keaslian rasa yang disajikan.
“Kami datang langsung ke para produsennya. Selama beberapa bulan menjelajahi sembilan pulau, duduk bersama nelayan, pemasok bahan pangan lokal, dan para juru masak yang telah membuat racikan bumbu yang sama selama empat puluh tahun. Tolok ukurnya sederhana: jika seorang nenek dari Padang mencicipi rendang kami dan langsung mengenalinya, berarti kami telah melakukan pekerjaan dengan benar,” kata James Ephraim.
Selain menghadirkan pengalaman kuliner dan budaya, Nusantara juga menjadi bagian dari komitmen sosial Nuanu melalui Nuanu Social Fund (NSF). Sebagian pendapatan yang dihasilkan akan dialokasikan untuk mendukung berbagai program di bidang budaya, lingkungan, dan masyarakat Bali.
Nusantara dibuka untuk umum mulai 15 Agustus 2026 dan melengkapi berbagai program yang telah dikembangkan Nuanu Creative City di bidang pendidikan, seni, wellness, serta pengembangan berbasis alam di kawasan seluas 44 hektare di Tabanan. (ri/gatrabali)


