GATRABALI.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video yang beredar di media sosial Facebook yang menampilkan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, seolah-olah mengumumkan program undian berhadiah HUT ke-81 Republik Indonesia dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali.
Pemprov Bali menegaskan video tersebut merupakan informasi palsu atau hoaks yang dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI), sehingga masyarakat diminta tidak mengikuti ajakan maupun mengakses tautan yang disertakan dalam unggahan tersebut.
Dalam video itu, Ny. Putri Suastini Koster digambarkan mengajak masyarakat mengikuti undian berhadiah dengan total hadiah Rp2 miliar melalui proses pendaftaran gratis. Informasi tersebut dipastikan tidak pernah diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Bali maupun BPD Bali.
Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Ida Bagus Surja Manuaba, mengatakan hasil analisis menunjukkan video tersebut merupakan hasil rekayasa digital yang dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“Setelah kami lakukan analisis, video tersebut merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Informasi yang disampaikan dalam video tersebut tidak benar,” kata Surja Manuaba di Denpasar, Minggu, 2 Agustus 2026.
Ia menegaskan tidak ada program undian seperti yang disebutkan dalam video tersebut. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah terpancing dengan tawaran hadiah yang beredar melalui media sosial, terutama jika disertai tautan yang tidak jelas asal-usulnya.
Pemprov Bali juga meminta masyarakat selalu memastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi pemerintah maupun BPD Bali sebelum mempercayai atau menyebarluaskan informasi yang diterima.
Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan unggahan serupa yang mencatut nama pejabat atau instansi pemerintah untuk menawarkan hadiah, investasi, atau promosi yang mencurigakan.
Pemanfaatan teknologi AI untuk membuat konten palsu dinilai menjadi tantangan baru dalam penyebaran hoaks. Karena itu, peningkatan literasi digital dan kehati-hatian masyarakat menjadi langkah penting untuk menghindari potensi penipuan serta penyalahgunaan data pribadi.(ism/gb)





