GATRABALI.COM, BADUNG – Pemerintah Kabupaten Badung terus mendorong keseimbangan antara perkembangan pariwisata dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa saat menghadiri puncak Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Medasar Caru Rsi Gana dan Caru Panca Rupa di Pura Maspahit, Banjar Kayutulang, Canggu, Kuta Utara, Rabu (12/8/2026).
Rangkaian karya yang bertepatan dengan Rahina Tilem Sasih Karo tersebut digelar oleh krama pengempon Pura Maspahit. Bupati Adi Arnawa hadir bersama Anggota DPRD Badung I Made Suryananda Pramana, Camat Kuta Utara Nyoman Tirtayasa, Perbekel Desa Adat Canggu I Wayan Suarya, Jro Bendesa Adat Canggu I Nyoman Siana, Ketua Kadin Badung serta jajaran pengurus desa adat.
Dalam kunjungannya, Bupati Adi Arnawa menandatangani prasasti karya. Pemerintah Kabupaten Badung juga memberikan dukungan berupa dana hibah sebesar Rp800 juta.
Di hadapan krama, Adi Arnawa mengapresiasi kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat dalam menyukseskan rangkaian karya. Ia berharap pelaksanaan upacara berlangsung lancar serta membawa kerahayuan bagi seluruh masyarakat.
Pembahasan kemudian mengarah pada perkembangan Canggu yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat sebagai kawasan pariwisata. Kondisi tersebut menurut Adi Arnawa harus diikuti dengan penataan kawasan yang terencana, khususnya berkaitan dengan infrastruktur, lalu lintas, tata ruang, dan kualitas sumber daya manusia.
Ia menyebut persoalan kemacetan dan pelanggaran tata ruang menjadi tantangan yang perlu segera ditangani. Pemerintah daerah pun menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga daya tarik Canggu sebagai destinasi wisata.
“Canggu adalah daerah tujuan wisata yang berkembang luar biasa. Namun, kita harus tegas terhadap pelanggaran tata ruang, seperti bangunan yang melanggar sempadan jalan atau sungai. Jika dibiarkan, wisatawan tidak akan merasa nyaman lagi, dan hal itu akan menurunkan kunjungan yang berdampak langsung pada pendapatan daerah,” tegasnya.
Untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, Pemkab Badung merancang penerapan sistem satu arah dari timur menuju barat. Penanganan infrastruktur jalan juga menjadi bagian dari rencana tersebut.
Selain solusi jangka pendek, pemerintah daerah tengah mengkaji pembangunan jalur bawah tanah atau underground. Rencana ini telah dibahas bersama konsultan internasional sebagai bagian dari konsep penataan jangka panjang yang menghubungkan sejumlah titik strategis menuju jalur utama, termasuk Gatot Subroto.
Adi Arnawa juga memaparkan kondisi pendapatan daerah. Hingga 31 Juli 2026, penerimaan yang masuk ke kas daerah tercatat mencapai Rp4,1 triliun. Menurutnya, peningkatan pendapatan tersebut harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui program perlindungan sosial dan peningkatan kualitas pendidikan.
“Beberapa program santunan yang berjalan otomatis antara lain santunan kematian sebesar Rp 10 juta, santunan hari raya Galungan sebesar Rp 2 juta, serta santunan bulanan sebesar Rp1 juta bagi penyandang disabilitas. Di sektor pendidikan, Pemkab Badung meluncurkan kebijakan baru untuk menghapus kesenjangan akses pendidikan antara warga kaya dan miskin,” ucap Adi Arnawa.
Dalam sektor pendidikan, Pemkab Badung mulai memberlakukan pembebasan biaya sekolah bagi siswa krama Badung dari jenjang SD, SMP hingga SMA atau sederajat. Kebijakan tersebut diterapkan pada sekolah negeri dan swasta, dengan pengecualian sekolah internasional.
Pemkab Badung juga tengah mempersiapkan program beasiswa untuk pendidikan jenjang S1 bagi generasi muda Badung sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia.
“Kami tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun ekosistemnya. Kesejahteraan krama dan masa depan pendidikan anak-anak kita di Badung harus berjalan beriringan dengan kemajuan pariwisatanya,” pungkasnya.
Rangkaian Karya di Pura Maspahit sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat sinergi. Di tengah perkembangan kawasan Canggu, pembangunan diharapkan tetap berjalan dengan memperhatikan nilai sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat setempat.(nov/gb)


