GATRABALI.COM, TABANAN – Fight For A Cure kembali hadir di Nuanu Creative City dan memasuki penyelenggaraan yang keempat. Acara ini melibatkan lebih dari 30 gym atau pusat kebugaran dari berbagai wilayah di Bali, 40 petarung, serta lebih dari 1.500 pendukung yang berkumpul untuk satu tujuan, yakni menggalang dukungan bagi riset kanker. Edisi keempat Fight For A Cure digelar di Block 42, Nuanu Creative City.
Dukungan Nuanu Social Fund (NSF) tahun ini juga mengalami peningkatan. Untuk inisiatif tahunan Germ Cell, NSF memberikan dukungan hampir Rp117 juta atau sekitar US$6.500. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontribusi Rp45 juta atau sekitar US$2.500 pada 2025.
Kenaikan dukungan ini meneruskan momentum dari penyelenggaraan sebelumnya sekaligus menjadi bagian dari komitmen NSF dalam mendukung berbagai inisiatif berbasis komunitas yang memberikan dampak sosial terukur.
Kontribusi Germ Cell terhadap riset kanker juga terus berkembang. Sampai saat ini, Germ Cell telah menyalurkan sekitar Rp1,5 miliar atau US$83.000 untuk mendukung riset kanker. Dukungan tersebut mencakup kegiatan di Chris O’Brien Lifehouse serta penelitian yang dilakukan Dr. Kim Alexander dan Profesor Jeremy Crook.
Riset yang didukung Germ Cell mencakup berbagai tantangan dalam penanganan kanker, termasuk upaya deteksi dini, mengenali kekambuhan, hingga mencari terapi yang lebih efektif untuk kanker agresif.
Dr. Kim Alexander tengah melakukan penelitian mengenai kemungkinan penggunaan tes darah sederhana untuk mendeteksi kembalinya glioblastoma sekaligus memantau respons pasien terhadap pengobatan. Di sisi lain, Profesor Jeremy Crook meneliti cara agar obat kanker dapat menjangkau sel tumor dengan lebih efektif. Dukungan kepada Chris O’Brien Lifehouse juga mencakup riset dan layanan perawatan kanker yang lebih luas.
Germ Cell didirikan Kai Suteja, seorang penyintas kanker yang telah dua kali berhasil melawan penyakit tersebut. Berawal dari komunitas kebugaran di Bali, Germ Cell kemudian berkembang menjadi kegiatan penggalangan dana tinju tahunan yang mempertemukan petarung, gym, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mendukung riset kanker.
Kisah pribadi juga menjadi bagian dari perjalanan para petarung yang tampil dalam Fight For A Cure. Anatoli dari Lions MMA kehilangan bibinya akibat kanker darah ketika masih kecil. Pengalaman tersebut turut membawanya ke dunia tinju dan pada tahun ini ia bertanding untuk mengenang sang bibi.
Sementara itu, Jake dari The Block mendedikasikan pertandingannya bagi kedua orang tuanya yang sama-sama telah berhasil melewati kanker. Pengalaman tersebut memperkuat sisi personal dari gerakan yang dibangun melalui Fight For A Cure, dengan petarung, gym, pelaku usaha, dan pendukung bersatu untuk tujuan yang sama.
“Bagi banyak orang yang terlibat dalam Fight For A Cure, kanker adalah sesuatu yang sangat personal. Banyak dari mereka yang pernah kehilangan orang terdekat, atau melihat orang yang mereka sayangi berjuang melawan kanker. Fight For A Cure menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berarti. Banyak petarung yang naik ring untuk mewakili mereka yang tidak bisa melakukannya sendiri. Menang atau kalah, kemenangan yang sebenarnya adalah dana yang berhasil kami kumpulkan untuk mendukung riset kanker. Dengan sains yang lebih baik, kita bisa mendapatkan hasil yang lebih baik, dan saya rasa itu adalah sesuatu yang bisa didukung oleh semua orang,” ujar Kai Suteja, Founder Germ Cell.
Bagi Nuanu Social Fund, peningkatan dukungan tersebut menjadi wujud komitmen untuk terus mendukung inisiatif yang mampu menggerakkan komunitas di Bali dan memiliki tujuan sosial yang jelas.
“Kami meningkatkan dukungan karena Fight For A Cure telah membuktikan kemampuannya dalam menggerakkan komunitas dan mengubah partisipasi tersebut menjadi dukungan yang nyata,” kata Ida Ayu Astari Prada, Head of Nuanu Social Fund.
“Inisiatif ini berhasil membangun partisipasi yang konsisten dari komunitas kebugaran di Bali, sekaligus menghubungkan semangat gotong royong tersebut dengan dukungan nyata untuk riset kanker. Bagi NSF, ini merupakan model dampak yang kuat, bagaimana partisipasi dari komunitas lokal dapat diwujudkan menjadi dukungan bagi riset yang relevan dan berdampak bagi pasien,” imbuhnya.
Fight For A Cure digelar pada 3 Oktober 2026 di Block 42, Nuanu Creative City. Memasuki edisi keempat, kegiatan ini kembali menyatukan komunitas kebugaran Bali untuk memberikan dukungan terhadap riset kanker, dengan semangat kolaborasi yang dampaknya diharapkan terus melampaui arena pertandingan.(ri/gatrabali)


