GATRABALI.COM, BANGLI – I Nengah Mudiarsa, pengusaha batu alam dari Banjar Dukuh, Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, sukses mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai tambahan modal.
Sebelum membangun usaha batu alam secara mandiri pada akhir 2012, Mudiarsa telah menekuni pekerjaan batu alam sejak 1995 Pengalaman selama bertahun-tahun itu membuatnya memahami proses pengolahan batu alam, sekaligus karakter material yang digunakan untuk kebutuhan bangunan.
Kini, usaha yang dirintis Mudiarsa terus berkembang dengan mempekerjakan sekitar 10 orang. Para pekerja sebagian berasal dari lingkungan sekitar sehingga usaha tersebut sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat setempat. “Dari tahun 1995 memang kerja batu alam. Dulu ikut orang,” ujar Mudiarsa.
Mudiarsa memproduksi berbagai kebutuhan batu alam untuk bangunan, mulai dari elemen rumah hingga pagar. Nilai produk menyesuaikan jenis, ukuran, dan kualitas batu yang digunakan.
Harga produk batu alam yang dihasilkan mulai sekitar Rp5,5 juta per unit, sementara produk dengan ukuran dan kualitas tertentu dapat mencapai puluhan juta rupiah. Untuk pagar batu alam, harganya sekitar Rp3,5 juta per meter.
Menurut dia, usaha batu alam masih memiliki pasar tersendiri, terutama untuk kebutuhan rumah tinggal dan bangunan dengan konsep tertentu. Permintaan juga datang dari sektor akomodasi pariwisata.
Untuk menjaga sekaligus mengembangkan usahanya, Mudiarsa kemudian memanfaatkan KUR BRI. Pembiayaan tersebut menjadi tambahan modal untuk mendukung kebutuhan usaha yang terus berkembang. “Kalau sekarang dapat KUR sekitar Rp150 juta,” katanya.
Dukungan permodalan tersebut memberi ruang bagi Mudiarsa untuk mengembangkan usaha tanpa harus mengandalkan perputaran modal dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya.
Bagi Mudiarsa, akses pembiayaan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan usaha. Modal yang memadai membuat pelaku usaha lebih leluasa memenuhi kebutuhan operasional sekaligus menangkap peluang usaha.
Selain mengembangkan usaha, Mudiarsa juga berupaya menjaga keberlangsungan pekerjaan bagi para tukang yang bekerja bersamanya. Ia memilih mempertahankan jumlah tenaga kerja sesuai kapasitas usaha agar pengelolaan bisnis tetap berjalan sehat.
Tidak hanya bekerja di sektor batu alam, Mudiarsa juga mendorong para pekerjanya mengembangkan usaha produktif di rumah, termasuk peternakan.
“Tambahan usaha tersebut dapat membantu pekerja meningkatkan sumber pendapatan keluarga,” katanya.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan, akses permodalan menjadi salah satu faktor penting bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
BRI berkomitmen untuk terus mendukung pelaku usaha melalui penyaluran KUR yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas usaha, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat di lingkungan sekitar.
“Kami melihat banyak pelaku UMKM di Bali yang memiliki potensi untuk terus berkembang, namun membutuhkan dukungan permodalan agar dapat meningkatkan skala usahanya,” ucapnya.
Melalui KUR, BRI berupaya memberikan akses pembiayaan yang dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya, sehingga tidak hanya mendorong pertumbuhan usaha, tetapi juga memberikan “multiplier effect” bagi perekonomian dan masyarakat di sekitarnya.
Perjalanan Mudiarsa menjadi gambaran bagaimana pelaku usaha mikro dan kecil dapat mengembangkan bisnis secara bertahap dengan memanfaatkan pengalaman, keterampilan, tenaga kerja lokal, serta dukungan akses permodalan.
“Melalui KUR BRI, kebutuhan modal usaha dapat disesuaikan dengan rencana pengembangan bisnis, sehingga pelaku usaha seperti Mudiarsa memiliki ruang untuk terus bertumbuh dan memperluas manfaat usahanya bagi lingkungan sekitar,” kata Hery.(ism/gatrabali)


