GATRABALI.COM, JEMBRANA — Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengintensifkan penanganan krisis air bersih akibat kekeringan yang terjadi sejak Mei lalu.
Kondisi ini awalnya dilaporkan di SD 2 Pendem, kemudian meluas hingga berdampak pada tujuh desa dan 14 banjar di wilayah Jembrana.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, S.Sos., saat dihubungi Selasa (13/10/2026), menyampaikan bahwa penyaluran air bersih terus dilakukan bersama instansi terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga kini, hampir 600.000 liter air bersih telah didistribusikan kepada 1.048 kepala keluarga (KK) yang terdampak.
“Distribusi air dilakukan secara bergiliran mengingat tingginya kebutuhan serta adanya kendala dari suplai PDAM. Stok air di tandon-tandon biasanya habis dalam waktu kurang dari dua hari,” ungkap Agus Artana Putra saat Rakor OPD.
Untuk mendukung distribusi air di lapangan, Pemkab Jembrana telah menempatkan tandon air di 18 titik strategis dan menyiapkan sekitar 15 terpal sebagai sarana penampungan tambahan. Tandon tersebut memiliki kapasitas antara 2.000 hingga 5.000 liter. Penanganan ini turut mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya PMI, Polres, dan Batalyon.
Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar warga yang mengalami kesulitan air tinggal di sekitar kawasan hutan dengan sumber air yang terbatas. Situasi tersebut semakin sulit akibat kerusakan jaringan pipa air yang terdampak banjir pada Juli lalu.
Selain memenuhi kebutuhan air melalui distribusi darurat, Pemkab Jembrana juga menyiapkan langkah perbaikan infrastruktur untuk mengatasi persoalan tersebut dalam jangka panjang. Perbaikan pipa yang rusak telah dirancang dan dikoordinasikan bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU).
Upaya penambahan pasokan air juga direncanakan melalui pengadaan tiga unit pompa yang akan dibantu oleh Kejaksaan Tinggi Bali. Sementara itu, satu unit pompa telah dibangun di Banjar Pancardawa dengan dukungan Polres. Dengan demikian, total penambahan pompa yang direncanakan mencapai empat unit.
Untuk mendukung kebutuhan air di sektor pertanian, pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan dinas terkait dan Badan Wilayah Sungai (BWS) guna membangun pompa air di kawasan persawahan.
Sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Januari mendatang.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Jembrana mengajak masyarakat menghemat penggunaan air dan mendahulukan pemanfaatannya untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Warga juga diimbau menghindari pemborosan air, termasuk untuk kegiatan menyiram atau memandikan hewan peliharaan secara berlebihan.
Selain menghemat air, masyarakat diharapkan turut menjaga kelestarian alam dan kawasan hutan agar tetap mampu menyimpan cadangan air untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.(ri/gatrabali)


