spot_img
BerandaAgamaManusia Sebagai Palinggih Sejati Ilmu Pengetahuan, Refleksi Hari Suci Saraswati

Manusia Sebagai Palinggih Sejati Ilmu Pengetahuan, Refleksi Hari Suci Saraswati

GATRABALI.COM, DENPASAR – Abstrak. Perayaan Hari Suci Saraswati selama ini lebih banyak dipahami sebagai upacara terhadap pustaka: buku, kitab suci, dan lontar dibersihkan, ditata, lalu diupacarai, sementara umat menjalani pantangan membaca dan menulis. Artikel ini menelusuri makna filosofis di balik tradisi tersebut berdasarkan sumber-sumber Weda, Upaniṣad, Bhagavad Gītā,Sārasamuccaya, kakawin, dan lontar, lalu mengajukan sebuah gagasan: bahwa manusialah palinggih (wahana) sejati ilmu pengetahuan. Atas dasar itu, penulis mengusulkan agar puncak perayaan Saraswati diarahkan pada penyucian diri melalui Pawintenan Sari dengan sarana Banten Pejati dan Bungkak Nyuh Gading, serta pada lahirnya inovasi yang menunjang hidup dan kehidupan. Gagasan ini tidak meniadakan tradisi lama, melainkan menyempurnakannya.

Kata kunci: Saraswati, vidyā, palinggih, Pawintenan Sari, wiweka, lontar, inovasi.

PENDAHULUAN

Setiap Saniscara Umanis wuku Watugunung, umat Hindu, khususnya di Bali, merayakan Hari Suci Saraswati, hari yang dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan ke dunia. Pada hari itu buku, kitab suci, lontar, dan alat tulis dikumpulkan, dibersihkan, ditata di tempat suci, lalu dihaturkan upakara sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Saraswati, sakti Dewa Brahma dan sumber segala pengetahuan.[1] Namun, di balik kemeriahan upakara itu ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapakah sebenarnya yang menjadi tempat bersemayamnya ilmu pengetahuan, buku dan lontar yang diupacarai, ataukah manusia yang membacanya?

Weda sendiri sejak awal memperkenalkan Saraswati bukan sekadar sebagai pelindung benda-benda tulis, melainkan sebagai daya yang menyucikan dan membangkitkan pikiran. Ṛgveda menyanjungnya demikian:

pāvakā naḥ sarasvatī vājebhir vājinīvatī, yajñaṃ vaṣṭu dhiyāvasuḥ.

codayitrī sūnṛtānāṃ cetantī sumatīnām, yajñaṃ dadhe sarasvatī.

maho arṇaḥ sarasvatī pra cetayati ketunā, dhiyo viśvā vi rājati.

“Semoga Saraswati yang menyucikan, yang kaya akan anugerah, berkenan pada yadnya kami, ia yang hartanya adalah pikiran yang terang. Pembangkit kata-kata yang benar, penyadar budi yang luhur, Saraswati menopang yadnya kami. Saraswati, samudra agung, membangkitkan kesadaran dengan cahayanya; ia bersinar menerangi segala pikiran.”[2]

Tiga mantra di atas menempatkan Saraswati pada wilayah dhī, yaitu pikiran, budi, dan kesadaran manusia. Yang disucikan dan diterangi oleh Saraswati bukanlah lembaran daun lontar, melainkan batin orang yang memujanya. Dari titik tolak inilah artikel ini mengajukan tesisnya: manusia adalah palinggih sejati ilmu pengetahuan. Buku dan lontar adalah media fisik yang wajib dihormati dan dirawat, tetapi pikiran dan jiwa manusialah yang mengolah, mengamalkan, dan menghidupkan ilmu itu sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Pembahasan disusun dalam empat bagian: makna brata Saraswati, tradisi merawat pustaka, inovasi sebagai wujud vidyā yang menunjang hidup, dan gagasan Pawintenan Sarisebagai puncak perayaan.

I. BRATA SARASWATI: MAKNA DI BALIK LARANGAN MEMBACA DAN MENULIS

Di tengah masyarakat berkembang anggapan bahwa pada Hari Saraswati umat Hindu “dilarang belajar”. Anggapan ini perlu diluruskan. Pantangan membaca dan menulis bukanlah larangan menuntut ilmu, melainkan sebuah brata, yakni bentuk penghormatan dan jeda kontemplasi untuk mengendapkan ilmu pengetahuan. Secara tradisional pantangan ini berlangsung sejak pagi hingga dilaksanakannya persembahyangan bersama (ngayabin) atau sampai matahari terbenam.[3]Setidaknya ada empat lapis makna yang terkandung di dalamnya.

1. Penghormatan kepada Pustaka Suci

Pada hari Saraswati, pustaka sedang berada dalam prosesi penyucian (diaksaran) sebagai simbol syukur atas anugerah ilmu pengetahuan. Karena sedang disucikan dan diupacarai, secara etika ritual pustaka tersebut tidak boleh diganggu, dibuka, atau dibaca selama prosesi berlangsung. Sikap ini sejalan dengan cara orang Bali memperlakukan sesuatu yang sedang “diistanakan”: ia didiamkan, dihormati, dan tidak diperlakukan sebagai barang pakai sehari-hari.

2. Membaca Diri Sendiri

Makna kedua bersifat reflektif. Brata Saraswati memberi jeda satu hari dari rutinitas membaca dan menulis, sekaligus mengalihkan perhatian dari membaca teks di luar diri menuju “membaca diri sendiri”. Umat diajak merenungkan bagaimana ilmu yang dimiliki telah digunakan: untuk kebajikan, atau justru merugikan sesama. Ṛgvedasudah lama mengingatkan bahwa bersentuhan dengan teks belum tentu berarti memahami:

uta tvaḥ paśyan na dadarśa vācam, uta tvaḥ śṛṇvan na śṛṇoty enām.

“Ada orang yang melihat, namun tidak melihat Sabda; ada orang yang mendengar, namun tidak mendengarnya.”[4]

Mantra ini menegaskan bahwa ilmu baru menjadi milik seseorang apabila ia meresap ke dalam kesadaran. Hari tanpa membaca justru menjadi hari untuk menguji apakah bacaan selama setahun telah benar-benar “terlihat” dan “terdengar” oleh batin.

3. Mengendapkan Pikiran

Jika setiap hari pikiran terus diisi informasi baru, Hari Saraswati adalah momen untuk mengendapkan pikiran. Ibarat air keruh yang didiamkan agar kotorannya mengendap dan airnya menjadi jernih, pikiran manusia juga perlu diistirahatkan sejenak agar kebijaksanaan (wiweka) dapat muncul. Bhagavad Gītā menyebut pengendalian diri sebagai syarat diperolehnya pengetahuan sejati:

śraddhāvāṃl labhate jñānaṃ tatparaḥ saṃyatendriyaḥ, jñānaṃ labdhvā parāṃ śāntim acireṇādhigacchati.

“Orang yang memiliki keyakinan, yang tekun, dan yang menguasai indrianya memperoleh pengetahuan; setelah memperoleh pengetahuan itu, ia segera mencapai kedamaian tertinggi.”[5]

4. Sambang Samadhi dan Banyu Pinaruh

Pantangan membaca umumnya hanya berlaku sampai sore. Pada malam harinya umat justru dianjurkan melaksanakan Sambang Samadhi, yaitu berjaga (mekemit) sambil membaca dan merenungkan kitab-kitab suci seperti itihāsa dan purāṇa, setelah pemujaan Dewi Saraswati selesai. Dengan demikian, brata Saraswati tidak berujung pada berhentinya belajar, melainkan pada belajar yang lebih khusyuk. Ini selaras dengan pesan guru kepada murid dalam Taittirīya Upaniṣad:

satyaṃ vada, dharmaṃ cara, svādhyāyān mā pramadaḥ.

“Berkatalah yang benar, jalankanlah dharma, janganlah lalai mempelajari kitab suci.”[6]

Kewajiban belajar sepanjang hayat juga ditegaskan dalam sastra Jawa Kuno yang diwarisi Bali. Kakawin Nītiśāstramemetakan tahapan hidup manusia dan menempatkan penguasaan ilmu sebagai tugas pertama:

Taki-takining sewaka guṇa widya, smara-wiṣaya rwang puluhing ayuṣya, tengahi tuwuh san-wacana gegen ta, patilaring atmeng tanu paguroken.

“Kewajiban (masa muda) adalah menuntut kebajikan dan ilmu pengetahuan; urusan asmara pada usia dua puluh tahun; pada pertengahan usia peganglah tutur yang luhur; dan (menjelang akhir hayat) pelajarilah lepasnya atma dari badan.”[7]

Baca Juga  Perbedaan Gelar Sulinggih Berdasarkan Soroh

Keesokan harinya, pada Redite Paing wuku Sinta, umat melaksanakan Banyu Pinaruh: membersihkan diri di sumber air, laut, atau dengan air kumkuman, sebagai lambang penyucian diri dengan “air ilmu pengetahuan”.[8]Rangkaian ini, dari brata, Sambang Samadhi, hingga Banyu Pinaruh, sesungguhnya sudah memperlihatkan bahwa ujung dari perayaan Saraswati adalah manusia, bukan benda.

II. UPAKARA PUSTAKA: MERAWAT DAN MENYUCIKAN WADAH ILMU

Kebiasaan membersihkan buku, kitab, dan lontar menjelang Hari Saraswati dikenal sebagai tradisi membantenin pustaka, bagian dari persiapan Upakara Pustaka. Tradisi ini sekaligus merupakan pemeliharaan fisik dan penyucian spiritual terhadap sumber-sumber ilmu pengetahuan sebelum dipuja pada hari H.

1. Aspek Teknis: Perawatan Fisik agar Tidak Rusak

Buku dan lontar rentan rusak oleh kelembapan, jamur, rayap, dan debu. Menjelang Saraswati, umat Hindu, terutama di gria, puri, dan perpustakaan tradisional, melakukan perawatan khusus:[9]

  • Pembersihan debu. Buku dan lontar dikeluarkan dari tempat penyimpanannya (kropak atau lemari), lalu dibersihkan dari debu dan kotoran serangga dengan kain halus atau kuas.
  • Pengolesan minyak khusus. Lontar dirawat dengan olesan minyak kemiri yang dicampur minyak serai atau pala. Minyak ini berfungsi sebagai antimikroba alami yang mencegah jamur, mengusir rayap, menjaga daun lontar tetap lentur, sekaligus menghitamkan kembali goresan aksara Bali agar mudah dibaca.
  • Proses angin-angin. Pustaka yang lembap diangin-anginkan di tempat teduh, tidak dijemur di bawah terik matahari karena dapat merusak kertas dan daun lontar.

2. Aspek Spiritual: Penyucian

Setelah dibersihkan, pustaka ditata rapi di tempat suci seperti pamerajan, palangkiran, atau meja khusus, sering dibungkus kain bersih berwarna putih atau kuning. Pembersihan ini memastikan bahwa tempat bersemayamnya Dewi Saraswati, dalam wujud aksara dan ilmu pengetahuan, berada dalam keadaan bersih, suci, dan sakral. Kesucian (śauca) dan ilmu pengetahuan (vidyā) memang disebut berdampingan sebagai ciri dharma:

dhṛtiḥ kṣamā damo ’steyaṃ śaucam indriya-nigrahaḥ, dhīr vidyā satyam akrodho daśakaṃ dharma-lakṣaṇam.

“Keteguhan, pemaaf, pengendalian diri, tidak mencuri, kesucian, penguasaan indria, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, kebenaran, dan tidak marah: itulah sepuluh ciri dharma.”[10]

3. Makna Filosofis: Membersihkan Wadah Ilmu

Secara metaforis, membersihkan pustaka mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan yang suci hanya dapat bersemayam di dalam wadah yang bersih. Sebelum memohon ketajaman pikiran (landeping idep) kepada Dewi Saraswati, umat diwajibkan menghargai dan merawat sarana memperoleh ilmu. Kebiasaan ini melatih disiplin dan tanggung jawab terhadap warisan leluhur serta literasi. Namun logika yang sama mengantar kita pada pertanyaan yang lebih dalam: bila buku harus dibersihkan agar layak menjadi wadah ilmu, bukankah wadah yang paling utama, yaitu pikiran manusia, lebih patut lagi disucikan?

III. SARASWATI, PARĀ VIDYĀ DAN APARĀ VIDYĀ: INOVASI YANG MENUNJANG HIDUP

Memaknai Hari Saraswati melalui penciptaan inovasi berakar pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan (vidyā) bersifat dinamis, transformatif, dan harus membumi untuk menjawab tantangan nyata, yakni menunjang hidup dan kehidupan. Dewi Saraswati tidak hanya menaungi ilmu spiritual, tetapi juga ilmu duniawi. Muṇḍaka Upaniṣad membedakan keduanya:

dve vidye veditavye iti ha sma yad brahmavido vadanti, parā caivāparā ca. Tatrāparā ṛgvedo yajurvedaḥ sāmavedo ’tharvavedaḥ śikṣā kalpo vyākaraṇaṃ niruktaṃ chando jyotiṣam iti. Atha parā yayā tad akṣaram adhigamyate.

“Dua macam pengetahuan yang patut diketahui, demikian kata para pengetahu Brahman: yang lebih tinggi (parā) dan yang lebih rendah (aparā). Yang lebih rendah ialah Ṛgveda, Yajurveda, Sāmaveda, Atharvaveda, fonetik, tata upacara, tata bahasa, etimologi, metrum, dan astronomi. Yang lebih tinggi ialah pengetahuan yang dengannya Yang Tak Termusnahkan (akṣara) dicapai.”[11]

Menarik dicatat bahwa kata akṣara yang dalam teks ini berarti “Yang Tak Termusnahkan” juga berarti “huruf”. Aksara yang kita upacarai pada Hari Saraswati dengan demikian menunjuk pada dua hal sekaligus: huruf sebagai sarana aparā vidyā, dan Yang Abadi sebagai tujuan parā vidyā. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, sebagaimana ditegaskan Īśa Upaniṣad:

vidyāṃ cāvidyāṃ ca yas tad vedobhayaṃ saha, avidyayā mṛtyuṃ tīrtvā vidyayāmṛtam aśnute.

“Ia yang memahami vidyā dan avidyā bersama-sama, dengan avidyā (pengetahuan duniawi) ia menyeberangi kematian, dan dengan vidyā (pengetahuan rohani) ia mencapai keabadian.”[12]

Karena itu inovasi yang lahir dari refleksi Saraswati harus mampu menjadi solusi atas persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sikap terbuka terhadap gagasan baru juga merupakan doa Weda: ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvataḥ, “semoga pikiran-pikiran yang mulia datang kepada kami dari segala penjuru.”[13] Berikut beberapa gagasan inovasi sebagai wujud nyata Hari Saraswati modern.

1. Konservasi Literasi Budaya: Digitalisasi Lontar dan Kecerdasan Buatan

  • Digitalisasi dan transliterasi otomatis. Mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mampu membaca aksara Bali pada lontar dan mengalihaksarakan serta menerjemahkannya ke bahasa modern. Inovasi ini menyelamatkan naskah yang rapuh sekaligus membukanya bagi generasi muda di seluruh dunia.
  • Perpustakaan digital kebajikan (Dharma Cloud). Membangun platform berbasis komunitas untuk mendokumentasikan, mendiskusikan, dan membagikan kajian sastra suci agar ilmu tidak mandek di rak perpustakaan fisik.

2. Pendidikan Inklusif: Saraswati Edu-Tech

  • Pembelajaran berbasis wiweka. Aplikasi edukasi yang tidak hanya mengasah kecerdasan akademik, tetapi juga melatih kemampuan memilah baik dan buruk, misalnya dengan mengemas nilai moral cerita Tantri atau Sārasamuccaya dalam metode gamifikasi untuk anak-anak.
  • Beasiswa komunitas berkelanjutan. Sistem dana punia berbasis teknologi yang transparan, khusus untuk membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu hingga tuntas, sebagai persembahan nyata kepada Dewi Saraswati.

3. Inovasi Ekologis: Tri Hita Karana Tech

Pengetahuan yang menunjang kehidupan tidak dapat dilepaskan dari hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan Tuhan. Bhagavad Gītā menggambarkan ciptaan sebagai jalinan yadnya yang saling menghidupi:

saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā purovāca prajāpatiḥ, anena prasaviṣyadhvam eṣa vo ’stv iṣṭa-kāma-dhuk.

“Pada zaman dahulu Prajāpati menciptakan manusia bersama yadnya, lalu bersabda: dengan ini engkau akan berkembang, dan semoga ini menjadi sapi perah pemenuh keinginanmu.”[14]

Baca Juga  Keunikan Cara Penyampaian Weda Dibanding Kitab Suci Lainnya

Atharwaweda bahkan menyatakan hubungan itu sebagai hubungan anak dengan ibu: mātā bhūmiḥ putro ahaṃ pṛthivyāḥ, “Bumi adalah ibu, aku adalah putra Pertiwi.”[15] Dari sini lahir dua gagasan:

  • Pertanian berbasis wariga Kalender wariga dalam bentuk aplikasi yang dipadukan dengan data meteorologi modern, untuk membantu petani menentukan masa tanam, menjaga ketahanan pangan, dan melestarikan keselarasan bhuana alit dan bhuana agung.
  • Pengelolaan sampah upacara berbasis desa adat. Mengolah limbah upacara (janur, bambu, dan sarana banten lainnya) menjadi pupuk organik bermutu atau energi terbarukan.

4. Literasi Digital Melawan Disinformasi: Aksara Suci

Di era media sosial, kata-kata menyebar lebih cepat daripada kebenarannya. Ajaran tentang tapa ucapan dalam Bhagavad Gītā terasa sangat relevan:

anudvega-karaṃ vākyaṃ satyaṃ priya-hitaṃ ca yat, svādhyāyābhyasanaṃ caiva vāṅ-mayaṃ tapa ucyate.

“Perkataan yang tidak menimbulkan keresahan, yang benar, menyenangkan, dan bermanfaat, serta ketekunan mempelajari kitab suci: itulah yang disebut tapa ucapan.”[16]

Sārasamuccaya lebih tegas lagi menyebut empat jenis ucapan yang harus dihindari:

Nyang tanpa prawṛttyaning wāk, pāt kwehnya, pratyekanya, ujar ahala, ujar aprgas, ujar piśuna, ujar mithyā; nahan tang pāt sanggahaneng wāk, tan ujarakena, tan angena-ngenan, kojaranya.

“Inilah perbuatan ucapan yang tidak patut dilakukan, empat banyaknya, yaitu: perkataan jahat, perkataan kasar, perkataan memfitnah, dan perkataan bohong. Keempatnya harus dikendalikan, jangan diucapkan, bahkan jangan dipikirkan.”[17]

  • Gerakan literasi digital umat. Wadah kreatif yang memproduksi konten edukatif, infografis, dan video pendek bernilai filosofis untuk menangkal hoaks dan ujaran kebencian.
  • Etika komunikasi berbasis satya. Momentum Saraswati dijadikan saat peluncuran kode etik berkomunikasi digital yang bersumber dari Panca Satya (satya hredaya, satya wacana, satya semaya, satya mitra, satya laksana), demi menjaga keharmonisan sosial di ruang maya.

IV. MANUSIA SEBAGAI PALINGGIH SEJATI ILMU PENGETAHUAN

Seluruh uraian di atas bermuara pada gagasan inti artikel ini: menggeser fokus perayaan dari sekadar mengupacarai benda (buku dan lontar) menuju penyucian diri manusia melalui Pawintenan Sari (Pawintenan Alit) dengan sarana Banten Pejati dan Bungkak Nyuh Gading. Penulis memandang langkah ini sebagai pembaruan teologis yang mendasar, sebab ia mengembalikan upacara kepada subjeknya.

1. Landasan Filosofis: Manusia sebagai “Buku Hidup”

Kitab Sārasamuccaya dibuka dengan penegasan tentang keistimewaan kelahiran sebagai manusia:

mānuṣaḥ sarvabhūteṣu varttate vai śubhāśubhe, aśubheṣu samāviṣṭaṃ śubheṣvevāvakārayet.

Ri sakwehning sarwa bhūta, iking janma wwang juga wenang gumawayakena ikang śubhāśubhakarma; kuneng panentasakena ring śubhakarma juga ikang aśubhakarma, phalaning dadi wwang.

“Di antara semua makhluk, hanya yang lahir sebagai manusia yang dapat melakukan perbuatan baik dan buruk; adapun mengentaskan perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik, itulah hasil (gunanya) menjadi manusia.”[18]

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang śubhakarma; hinganing kottamaning dadi wwang ika.

“Sebab menjadi manusia sungguh utama; karena itu ia dapat menolong dirinya dari kesengsaraan dengan sarana perbuatan baik. Demikianlah keutamaan menjadi manusia.”[19]

Hanya manusia yang dapat mengolah pengetahuan menjadi kebajikan. Buku tidak dapat berbuat baik; manusialah yang berbuat baik dengan pengetahuan dari buku. Dalam teologi Hindu, tubuh manusia adalah bhuana alit(mikrokosmos) yang mencerminkan bhuana agung (makrokosmos). Aksara suci dan daya Dewi Saraswati sesungguhnya bersemayam di dalam keheningan pikiran dan kesucian jiwa manusia.[20]

Dari sudut ini, mengupacarai buku tanpa menyucikan pikiran pemiliknya membuat perayaan Saraswati kehilangan daya transformatifnya. Bhagavad Gītā sendiri menempatkan yadnya pengetahuan di atas yadnya kebendaan:

śreyān dravya-mayād yajñāj jñāna-yajñaḥ parantapa, sarvaṃ karmākhilaṃ pārtha jñāne parisamāpyate.

“Yadnya berupa pengetahuan lebih mulia daripada yadnya berupa benda, wahai Parantapa; sebab segala perbuatan, wahai Pārtha, mencapai kesempurnaannya dalam pengetahuan.”[21]

Dan pengetahuan itu sendiri adalah penyuci yang tiada banding: na hi jñānena sadṛśaṃ pavitram iha vidyate, “sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang menyucikan seperti pengetahuan.”[22] Bila pengetahuan adalah penyuci, maka manusia yang menjadi wadahnya harus terlebih dahulu dipersiapkan. Melalui Pawintenan Sari pada Hari Saraswati, fokus upacara dikembalikan kepada manusia. Ia menjadi ritual inisiasi spiritual agar setiap individu siap menjadi wadah yang suci bagi vidyā.

2. Makna Teologis Sarana: Banten Pejati dan Bungkak Nyuh Gading

Dalam tradisi Bali, banten bukan sekadar persembahan, melainkan bahasa simbol yang menghadirkan diri sang pemuja, wujud Tuhan, dan alam semesta. Lontar Yadnya Prakerti menyatakan:

Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhaṭāra, pinaka aṇḍa bhuana.

“Segala banten adalah lambang dirimu sendiri, lambang wujud Ida Bhaṭāra, dan lambang alam semesta.”[23]

Banten Pejati: lambang kesungguhan tekad. Kata pejati berasal dari jati, yang berarti nyata, sungguh-sungguh, atau tulus. Menghaturkan pejati dalam pawintenan melambangkan pernyataan tekad yang bulat dan tulus dari sang pembelajar di hadapan Sang Hyang Saraswati bahwa ia bersedia menuntut ilmu di jalan dharma. Unsur-unsurnya (daksina, peras, ajuman, soda) melambangkan dukungan makrokosmos terhadap proses belajar sang individu.

Bungkak Nyuh Gading: lambang Tirta Sanjiwani. Kelapa gading muda melambangkan kesucian dan dipandang sebagai simbol Tirta Sanjiwani, air kehidupan yang menghidupkan. Airnya dipercikkan atau diminum dalam pawintenansebagai sarana panglukatan, untuk meluruhkan kekotoran pikiran dan ego yang menghambat proses belajar.[24] Secara simbolik, saat air suci itu menyentuh dan masuk ke dalam diri, kesucian Saraswati “menyatu” (senyawa) dengan diri sang pembelajar, sehingga pikirannya menjadi tajam (landep) dan peka terhadap kebenaran.

Doa yang paling tepat mengiringi prosesi ini adalah Gāyatrī Mantra, yang tidak memohon kemuliaan bagi kitab, tetapi penerangan bagi pikiran:

tat savitur vareṇyaṃ bhargo devasya dhīmahi, dhiyo yo naḥ pracodayāt.

“Kami merenungkan cahaya mulia Dewa Savitṛ yang patut dipuja; semoga Ia membangkitkan pikiran kami.”[25]

3. Dampak Psikologis dan Spiritual

Dengan melaksanakan pawintenan pada setiap Hari Saraswati, umat tidak lagi memandang ilmu pengetahuan sebagai objek luar yang asing, melainkan bagian dari identitas spiritualnya. Prosesi ini menyelaraskan getaran batin manusia dengan kesucian Dewi Saraswati. Individu yang telah “senyawa” dengan kesucian Saraswati akan memiliki benteng moral berupa wiweka. Ia tidak akan menggunakan ilmunya untuk menipu, menyebarkan hoaks, atau merusak tatanan hidup, melainkan untuk menunjang kehidupan bersama.

Baca Juga  Opini Hukum (Legal Opinion) Perihal: Relevansi dan Integrasi Hukum Adat Bali Sebagai Living Law Dalam Implementasi Undang-Undang Nomor 1 TAHUN 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

4. Menyempurnakan, Bukan Meniadakan

Perlu ditegaskan bahwa gagasan ini bukan meniadakan tradisi lama, melainkan menyempurnakannya.Upakara pustaka tetap dilaksanakan sebagai wujud syukur atas aspek fisik literasi, namun puncak perayaan Saraswati adalah Pawintenan Sari umat itu sendiri. Inilah restorasi spiritual untuk melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga suci dan bijaksana secara rohani.

PENUTUP

Hari Suci Saraswati mengandung pesan yang berlapis. Brata membaca dan menulis mengajarkan jeda dan introspeksi; Sambang Samadhi dan Banyu Pinaruh mengajarkan penyucian diri; upakara pustaka mengajarkan penghormatan dan tanggung jawab terhadap warisan literasi. Semua itu menunjuk ke satu arah: ilmu pengetahuan baru hidup ketika ia bersemayam dalam diri manusia yang suci dan bijaksana.

Karena itu, penulis mengajak umat untuk memaknai Saraswati bukan hanya dengan mengupacarai buku, tetapi dengan menyucikan diri sebagai palinggih ilmu melalui Pawintenan Sari, dan dengan melahirkan inovasi yang menunjang hidup dan kehidupan. Bila Weda menyebut Saraswati sebagai samudra agung yang menerangi segala pikiran,[26] maka tugas manusia adalah menjadi wadah yang jernih bagi cahaya itu, agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai aksara di atas daun lontar, melainkan menjelma menjadi laku hidup yang membawa kesejahteraan bagi semua makhluk.

DAFTAR PUSTAKA

Hooykaas, C. Āgama Tīrtha: Five Studies in Hindu-Balinese Religion. Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1964.

Jamison, Stephanie W., dan Joel P. Brereton, penerj. The Rigveda: The Earliest Religious Poetry of India. New York: Oxford University Press, 2014.

Kajeng, I Nyoman, dkk. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita, 2005.

Lontar Bhuwana Kosa. Naskah lontar, tradisi pernaskahan Bali.

Lontar Sundarigama. Naskah lontar, tradisi pernaskahan Bali.

Lontar Yadnya Prakerti. Naskah lontar, tradisi pernaskahan Bali.

Poerbatjaraka, R. Ng. Niti Çāstra: Oud-Javaansche tekst met vertaling. Bibliotheca Javanica 4. Bandung: A. C. Nix, 1933.

Pudja, G. Bhagawad Gita (Pancama Veda). Surabaya: Paramita, 2005.

Pudja, G., dan Tjokorda Rai Sudharta. Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Weda Smrti. Surabaya: Paramita, 2004.

Radhakrishnan, S. The Principal Upaniṣads. London: George Allen & Unwin, 1953.

Rubinstein, Raechelle. Beyond the Realm of the Senses: The Balinese Ritual of Kekawin Composition. Leiden: KITLV Press, 2000.

Titib, I Made. Veda: Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Paramita, 1996.

Whitney, William Dwight, penerj. Atharva-Veda Saṃhitā. Harvard Oriental Series 7–8. Cambridge, MA: Harvard University, 1905.

Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan, 1983.

[1]Ketentuan mengenai pemujaan Sang Hyang Saraswati pada Saniscara Umanis Watugunung bersumber dari lontar Sundarigama, yang mengatur hari-hari suci beserta upakara dan brata yang menyertainya. Uraian dalam artikel ini merupakan parafrase penulis atas isi lontar tersebut sebagaimana dihayati dalam tradisi Bali; pelaksanaannya di lapangan bervariasi menurut desa, kala, patra.

[2]Ṛgveda I.3.10–12; terjemahan penulis. Bandingkan Stephanie W. Jamison dan Joel P. Brereton, penerj., The Rigveda: The Earliest Religious Poetry of India (New York: Oxford University Press, 2014); dan I Made Titib, Veda: Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan (Surabaya: Paramita, 1996).

[3]Lontar Sundarigama. Lihat catatan 1 mengenai sifat parafrase dan variasi pelaksanaannya.

[4]Ṛgveda X.71.4; terjemahan penulis. Bandingkan Jamison dan Brereton, The Rigveda.

[5]Bhagavad Gītā IV.39; terjemahan penulis. Bandingkan G. Pudja, Bhagawad Gita (Pancama Veda) (Surabaya: Paramita, 2005).

[6]Taittirīya Upaniṣad I.11.1; terjemahan penulis. Bandingkan S. Radhakrishnan, The Principal Upaniṣads (London: George Allen & Unwin, 1953).

[7]Kakawin Nītiśāstra V.3; terjemahan penulis. Bandingkan R. Ng. Poerbatjaraka, Niti Çāstra: Oud-Javaansche tekst met vertaling, Bibliotheca Javanica 4 (Bandung: A. C. Nix, 1933).

[8]Lontar Sundarigama, bagian tentang Banyu Pinaruh; parafrase penulis.

[9]Tentang lontar sebagai media utama tradisi tulis Jawa Kuno dan Bali, lihat P. J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang(Jakarta: Djambatan, 1983). Tentang kedudukan aksara dan lontar dalam kehidupan religius Bali, lihat Raechelle Rubinstein, Beyond the Realm of the Senses: The Balinese Ritual of Kekawin Composition (Leiden: KITLV Press, 2000).

[10]Mānava Dharmaśāstra VI.92; terjemahan penulis. Bandingkan G. Pudja dan Tjokorda Rai Sudharta, Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Weda Smrti (Surabaya: Paramita, 2004).

[11]Muṇḍaka Upaniṣad I.1.4–5; terjemahan penulis. Bandingkan Radhakrishnan, Principal Upaniṣads.

[12]Īśa Upaniṣad 11; terjemahan penulis. Bandingkan Radhakrishnan, Principal Upaniṣads.

[13]Ṛgveda I.89.1; terjemahan penulis.

[14]Bhagavad Gītā III.10; terjemahan penulis. Bandingkan Pudja, Bhagawad Gita.

[15]Atharvaveda XII.1.12; terjemahan penulis. Bandingkan William Dwight Whitney, penerj., Atharva-Veda Saṃhitā, Harvard Oriental Series 7–8 (Cambridge, MA: Harvard University, 1905).

[16]Bhagavad Gītā XVII.15; terjemahan penulis. Bandingkan Pudja, Bhagawad Gita.

[17]Sārasamuccaya 75; terjemahan penulis. Bandingkan I Nyoman Kajeng dkk., Sarasamuccaya (Surabaya: Paramita, 2005).

[18]Sārasamuccaya 2; terjemahan penulis. Bandingkan Kajeng dkk., Sarasamuccaya.

[19]Sārasamuccaya 4; terjemahan penulis.

[20]Paham kesejajaran bhuana alit dan bhuana agung serta penempatan aksara-aksara suci dalam tubuh manusia diuraikan dalam berbagai lontar tattwa, antara lain Bhuwana Kosa. Uraian di sini merupakan ringkasan penulis atas gagasan pokoknya.

[21]Bhagavad Gītā IV.33; terjemahan penulis. Bandingkan Pudja, Bhagawad Gita.

[22]Bhagavad Gītā IV.38; terjemahan penulis.

[23]Lontar Yadnya Prakerti; terjemahan penulis.

[24]Tentang kedudukan sentral tirtha (air suci) dalam agama Hindu Bali, lihat C. Hooykaas, Āgama Tīrtha: Five Studies in Hindu-Balinese Religion (Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1964).

[25]Ṛgveda III.62.10; terjemahan penulis. Bandingkan Titib, Veda.

[26]Ṛgveda I.3.12.

Oleh: Dr. I Ketut Sudira, S.H., M.H.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments