GATRABALI.COM, DENPASAR – Diskusi Paguyuban Maruti Suta yang digelar bertepatan dengan Hari Suci Banyupinaruh kali ini mengangkat topik bertajuk “Orientasi Spiritual Advaita Vedanta, Pendekatan Multi Dimensi”. Advaita Vedanta merupakan inti dari ilmu yang juga telah diajarkan di paguyuban yang berfokus pada kegiatan sosial dan spiritual ini.
Dengan dihadiri perwakilan anggota Maruti Suta dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Bali, diskusi pada Minggu, 5 April 2026 ini menghadirkan empat pemateri yakni dosen Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional Dr Putu Sabda Jayendra, SPd.H., MPd.H., MPar serta Drs Made Widiarma, Jero Nengah Yasa SM, dan Nyoman Siaga, SPd, MPd selaku anggota Paguyuban Maruti Suta.
Advaita Vedanta adalah aliran filsafat Hindu non-dualistik (non-dualisme) yang mengajarkan bahwa diri individu (Atman) adalah satu dan identik dengan realitas mutlak tertinggi (Brahman). Ajaran yang dipopulerkan oleh Adi Shankaracharya tersebut menegaskan bahwa dunia material adalah ilusi (maya) dan satu-satunya realitas adalah kesadaran tunggal, Brahman.
Putu Jayendra mengawali pemaparannya menyampaikan Advaita itu konsepnya sebagai Tuhan yang tidak berwujud, nirguna dan tidak berkepribadian. “Selanjutnya konsep Advaita dijabarkan dalam ajaran Tri Purusa,” ujar Jayendra dalam acara yang dipandu oleh tiga mahasiswa FISIP Unwar, Cintya Dewi Lestari, Tasya Pranama dan Gung Gek Indah ini.
Tri Purusa, lanjut dia, terdiri dari Paramasiwa (Tuhan dalam keadaan absolut/nirguna), Sada Siwa (Tuhan sebagai pencipta/saguna), dan Siwa (Tuhan yang bersemayam dalam diri makhluk hidup).
Di Bali, gabungan antara Advaita (non-dualisme) dan Dvaita (dualisme) di Bali bersifat komplementer, keduanya tidak terpisahkan dalam praktik keagamaan sehari-hari. Advaita memberikan landasan filosofis tertinggi bahwa Brahman dan Atman adalah satu, sementara Dvaita mendasari praktik ritual dan bhakti (pemujaan) kepada Tuhan.
Leluhur orang Bali kemudian mengambil jalan tengah menuju Advaita melalui Dvaita. Salah satunya dengan mengkonsepkan dalam Panca Sembah mulai dari Sembah Puyung yang berfokus pada penyucian atma dan penghormatan kepada Sang Hyang Widhi, kemudian sembah kepada Dewa Surya sebagai saksi agung kehidupan, sembah kepada Dewa yang berstana di tempat suci, hingga sembah kehadapan dewa-dewi sekalian.
“Mengapa harus menggunakan persembahan? Karena persembahan itu merupakan rasa cinta kasih yang diwujudkan. Selain itu, di Bali juga mengenal konsep Tapak Dara yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama dan alam,” katanya pada acara yang juga dihadiri Penasihat Paguyuban Maruti Suta sekaligus Dekan FISIP Universitas Warmadewa Dr I Made Yudhiantara, MAP.
Jayendra menambahkan, leluhur orang Bali lebih terpaku pada laku tradisi sehingga kadang-kadang tidak sadar apa yang dilakukan sesungguhnya sudah mengarah kepada Advaita Vedanta. Termasuk dengan filsafat “anak mula keto” yang juga merupakan terjemahan dari Bahasa Sansekerta.
“Proses yadnya sesungguhnya juga sudah dimulai dari proses majejahitan. Oleh karena itu, dalam majejahitan jangan sampai berdebat karena kritik berarti simbol ketidak-ikhlasan. Ketika proses yadnya sudah dimulai jangan diperdebatkan supaya pikiran kita fokus menuju Tuhan,” ucapnya.
Sementara itu, Nengah Yasa, pembicara berikutnya menekankan untuk mengenal Brahman, maka harus mengenal dulu atman yang ada dalam diri.
I Nyoman Siaga, pembicara selanjutnya menyampaikan apapun itu ilmu agama yang sudah diketahui dan dipahami, tentunya harus dilaksanakan. “Kita harus bijaksana dengan ilmu yang dimiliki,” katanya.
Made Widiarma tidak memungkiri di lapangan ada sejumlah kegagalan transmisi ajaran agama Hindu dari tokoh-tokoh agama kepada generasi muda sehingga membuat pemahaman menjadi kurang tepat. Selain itu, ada kalanya umat dalam beryadnya itu ada unsur kontestasi sehingga mengesampingkan keikhlasan. (ism/gb)





