spot_img
BerandaBaliDari Pesisir Tabanan, Harapan Pelestarian Penyu Terus Menyala

Dari Pesisir Tabanan, Harapan Pelestarian Penyu Terus Menyala

GATRABALI.COMTABANAN – Kepedulian masyarakat terhadap kelestarian penyu di pesisir Kabupaten Tabanan mulai menunjukkan perkembangan positif. Popularitas penyu sebagai satwa yang harus dilindungi dinilai terus meningkat, seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman kepunahan.

Ketua Yayasan Bali Turtle Conservation Farm (BTCF) Surabrata, I Gede Sastra Kumala Putra, Minggu (20/9/2026) di Kabupaten Tabanan, menyebutkan, hingga saat ini kondisi popularitas penyu di kawasan pesisir cukup baik dan mulai mengalami peningkatan.

Menurut Dirinya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari mulai tumbuhnya kepedulian masyarakat maupun negara terhadap keberadaan penyu yang saat ini menghadapi berbagai ancaman.

Namun, di tengah meningkatnya kepedulian tersebut, ancaman terhadap penyu masih cukup besar.

Sastra Kumala Putra menjelaskan, tingkat keberhasilan tukik untuk bertahan hidup di alam sangat rendah.

Baca Juga  Bupati Tamba Lepasliarkan Belasan Penyu Hijau hasil Tangkapan Penyelundupan

“Dari sekitar seribu tukik yang dilepasliarkan, diperkirakan hanya satu ekor yang mampu bertahan hidup hingga dewasa,” jelasnya.

Dirinya menerangkan, Ancaman tidak hanya berasal dari kondisi alam. Predator seperti anjing liar, kadal, dan ular menjadi salah satu ancaman bagi tukik ketika masih berada di daratan.Selain itu, faktor manusia juga masih menjadi persoalan.

“Kesadaran sebagian masyarakat yang masih mengonsumsi telur maupun daging penyu secara diam-diam dinilai turut mengancam kelestarian satwa tersebut,” katanya.

Dirinya menyampaikan, Di wilayah Tabanan Barat, khususnya kawasan Selbar, aktivitas penyu bertelur masih ditemukan setiap tahun.Rata-rata terdapat sekitar 70 hingga 100 sarang penyu dalam satu tahun.

“Jumlah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7.000 hingga 10.000 telur penyu setiap tahunnya,” cetusnya.

Baca Juga  Tanam Mangrove di Tahura Benoa, Gubernur Koster Dorong Perluasan Ruang Hijau dan Jaga Pesisir Bali

Sastra menyampaikan, musim kawin penyu umumnya berlangsung pada awal tahun. Sementara musim bertelur berlangsung sekitar Maret hingga Agustus.

Setelah telur ditanam di pasir, proses penetasan membutuhkan waktu sekitar 55 hingga 60 hari.

Tukik yang berhasil menetas kemudian dilepasliarkan kembali ke laut, di sekitar lokasi tempat telur tersebut ditemukan.

“Sejumlah jenis penyu pernah juga ditemukan di kawasan tersebut, di antaranya penyu lekang, penyu sisik, dan penyu belimbing. Namun, penyu lekang menjadi jenis yang paling dominan ditemukan di kawasan Tabanan Barat,” terangnya.

Dirinya pun mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, baik ekosistem darat maupun laut.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah persoalan sampah plastik. Penyu kerap mengira plastik sebagai makanan sehingga ketika tertelan dapat menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian.

Baca Juga  Diduga Mengantuk, APV Tabrak Balita di Desa Pandak Gede

Karena itu, kebersihan kawasan pesisir dinilai menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlangsungan hidup penyu.

Selain mengajak masyarakat menjaga lingkungan, Sastra juga berharap pemerintah semakin memberikan perhatian kepada kelompok-kelompok yang selama ini bergerak dalam pelestarian penyu.

“Dukungan tersebut, kata dia, dapat diberikan dalam bentuk pembinaan, pendampingan, maupun dukungan moril dan materiil sehingga upaya konservasi penyu dapat dilakukan secara berkelanjutan,” sebutnya..

Sastra Kumala menambahkan, Dengan meningkatnya kepedulian masyarakat, Dirinya berharap keberadaan penyu di pesisir Tabanan tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga terus berkembang dan terhindar dari ancaman kepunahan.(gun/gatrabali)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments