GATRABALI.COM, BANGLI – Pemerintah Kabupaten Bangli mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam pembangunan rumah jabatan bupati melalui penerapan konsep arsitektur tradisional Sikut Satak. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk menjaga kesinambungan budaya sekaligus mempertegas karakter arsitektur khas Bangli dalam pembangunan daerah.
Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta menegaskan bahwa proyek pembangunan rumah jabatan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya menghadirkan ruang representatif yang mencerminkan filosofi dan identitas budaya Bali.
“Dengan menggunakan Sikut Satak, kami ingin rumah jabatan ini menjadi contoh bagi pembangunan lainnya di Bangli, sekaligus menjadi warisan budaya untuk generasi mendatang,” ujarnya dalam Forum Group Discussion (FGD) di Ruang Rapat Bupati Bangli, Sabtu (24/1/2026).
Forum tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, tokoh Puri Bangli, Majelis Desa Adat (MDA) Bangli, serta para seniman ukir kayu dan paras. Pembahasan difokuskan pada penyelarasan desain arsitektur dengan nilai tradisi, sekaligus memastikan karakter khas Bangli tercermin dalam setiap elemen bangunan.
Rumah jabatan bupati direncanakan dibangun di atas lahan seluas 50 are dengan nilai anggaran lebih dari Rp29 miliar. Desain bangunan mengadopsi arsitektur Bali khas Bangli yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti Bale Ancak Saji, Bale Pertemuan, Bale Paon, Bale Kerta Pengajahan, Bale Munjungsari, Merajan, Bale Gedong, tugu, serta elemen penunjang lainnya.
Pemerintah Kabupaten Bangli juga menaruh perhatian pada aspek tata kelola proyek. Kanit Tipikor Polres Bangli, Iptu I Wayan Dwipayana, menyampaikan bahwa pengawasan akan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan proses pembangunan berjalan sesuai regulasi dan prinsip akuntabilitas.
Dalam FGD, para tokoh adat, MDA, dan seniman yang hadir pada prinsipnya menyepakati konsep pembangunan rumah jabatan tersebut. Namun, mereka menekankan pentingnya penerapan Sikut Satak yang konsisten, khususnya pada panel dan ornamen ukiran bun-bunan (suluran), agar motif yang digunakan benar-benar mencerminkan identitas Bangli.
Pembangunan rumah jabatan bupati ini diharapkan menjadi model integrasi antara pembangunan modern dan pelestarian budaya. Dengan pendekatan arsitektur tradisional, Bangli berupaya menghadirkan pembangunan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat makna budaya bagi masyarakat.(ri/gb)





