GATRABALI.COM, DENPASAR – Suasana Kalangan Ratna Kanda di Taman Budaya Art Center, Rabu (25/6/2025) malam, mendadak berubah magis.
Cahaya panggung meredup, genderang mulai bertalu, dan Sanggar Purnama dari Banjar Babakan, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung, naik ke pentas, membawakan sebuah pertunjukan yang lebih dari sekadar tari—sebuah kisah yang nyaris terlupakan: Baris Sambeng Agung.
Tarian topeng ini bukan hanya menjadi suguhan artistik dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, tetapi juga menjadi bentuk konkret revitalisasi nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali, khususnya Canggu. Dalam balutan gerak yang dinamis dan musik tabuh yang menghentak, penonton diajak menyusuri lorong waktu ke masa pemerintahan Ida Cokorda Sakti Pemecutan di Bandana Negara, wilayah barat Kerajaan Badung tempo dulu.
Dikisahkan, kala itu Desa Canggu dilanda mrana—bencana berupa hama dan kekeringan yang merusak pertanian. Dalam kondisi genting tersebut, Sang Bendesa desa menghadap ke Puri Pemecutan, memohon petunjuk. Dari pewisik Sang Hyang Widhi, sang Raja memperoleh wangsit: desa harus menggelar ritual sakral menggunakan pusaka leluhur, Sambeng Agung, yang tersimpan di pura desa.
Maka dilaksanakanlah upacara nangkluk merana—ritual spiritual mengelilingi desa sambil membawa pusaka keramat tersebut. Selain sebagai bentuk tolak bala, ritual ini juga memicu semangat para pemuda untuk kembali belajar dan menarikan Baris, tarian kepahlawanan khas Bali yang menggambarkan semangat membela kebenaran.
Dari peristiwa inilah Baris Sambeng Agung lahir, menjelma sebagai lambang pelindung desa, kekuatan leluhur, dan identitas spiritual masyarakat Canggu.
“Pertunjukan ini adalah cara kami membangkitkan kesadaran generasi muda terhadap sejarah dan budaya desa. Ini bukan sekadar hiburan, tapi cermin jati diri,” ujar Koordinator Pementasan, I Made Karjata. Bersama timnya—pembina tari Ketut Narmada dan pembina naskah I Made Agus Adi Santika—Karjata menyusun garapan ini secara matang, termasuk mengaransemen tabuh yang menggugah.
Penampilan Sanggar Purnama pun disambut meriah. Tak hanya karena kualitas artistik dan kemegahan koreografi, tetapi karena pesan budaya yang dikemas dalam narasi yang menyentuh dan kontekstual dengan kehidupan modern.
Melalui Baris Sambeng Agung, Kabupaten Badung tidak hanya hadir sebagai peserta PKB, tetapi tampil sebagai penjaga warisan budaya, yang menancapkan kembali akar tradisi dan spiritualitas dalam jiwa anak-anak muda Bali.
Ini bukan sekadar pentas seni. Ini adalah panggilan jiwa untuk tidak melupakan asal-usul. Sebab dari pusaka, kisah, dan tarian, jati diri Bali terus dirawat dan dihidupkan kembali. (*/gb)





