GATRABALI.COM, BADUNG – Menjelang Hari Raya Galungan, permintaan ceniga—hiasan dari daun lontar—mengalami lonjakan tajam.
Namun, para perajin di Desa Mengwi, Kabupaten Badung, justru menghadapi tantangan besar akibat naiknya harga bahan baku daun lontar yang berasal dari luar Bali.
Ni Kadek Sani Astuti, salah satu perajin ceniga di Mengwi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga sudah mulai terasa sejak sebelum perayaan Tumpek Landep.
“Bahan bakunya dari Sumba. Karena musim hujan, ental jadi sulit didapat. Sekarang harganya sudah naik dua kali lipat,” ujarnya saat ditemui, Sabtu, (19/4/2025).
Menurutnya, jika sebelumnya satu gabung ental (daun lontar) berisi 25 lembar dihargai kurang dari Rp1 juta, kini harganya mencapai Rp1 juta per gabung, meskipun kualitasnya tak semuanya baik.
Kondisi ini membuat harga jual ceniga pun ikut terkerek, dari yang semula Rp1.000 kini menjadi Rp1.800 per biji. Meski ada keluhan dari pelanggan, ceniga tetap dicari karena merupakan perlengkapan penting untuk menghias Pelinggih dan rumah tangga saat perayaan Galungan.
“Sekarang saya hanya layani pelanggan lama yang sudah pesan jauh-jauh hari. Biasanya mereka pesan 30 sampai 35 biji,” jelasnya.
Ia mengaku dalam sehari masih bisa memproduksi 300 hingga 400 ceniga, meskipun banyak pelanggan kini mulai membatasi pembelian atau bahkan memilih membuat sendiri dari janur.(gun/gb)





