spot_img
spot_img
BerandaBaliPesona Fragmentari 'Ngeraja Singa', Eksplorasi Keperkasaan Raja Singa dalam Ritme Gong Kebyar

Pesona Fragmentari ‘Ngeraja Singa’, Eksplorasi Keperkasaan Raja Singa dalam Ritme Gong Kebyar

GATRABALI.COM, DENPASAR – Sekaa Gong Dharma Pradangga, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng tampil sukses memukau ribuan penonton dalam gelaran Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, Pesta Kesenian Bali ke – 46 dengan membawakan garapan Fragmentari “Ngeraja Singa” di Panggung Terbuka Ardha Candra, Denpasar, Sabtu, 22 Juni 2024.

Pembina Sekaa Gong Dharma Pradangga, Komang Trisna Ardiana mengungkapkan bahwa Sekaa Gong yang sudah memulai latihan sejak 14 Januari lalu, membawakan beberapa garapan seperti Tabuh Kreasi Pepanggulan “Gagak Gora”, Tari Wiranjaya, dan Fragmentari “Ngeraja Singa” dengan mebarung bersama Sekaa Gong Batur Mahaswara Duta Kabupaten Gianyar.

Baca Juga  Enam Tangki Air dan 25 Personil USB DLH Diterjunkan Jaga Kebersihan BDF 2023

Ardiana menjelaskan konsep dari Fragmentari Ngeraja Singa mengisahkan seorang raja yang berwatak seperti singa. Di mana singa itu adalah hewan yang dengan haus kepuasan atau kekuasaan yang dikaitkan dengan kisah Ki Barak Panji Sakti.

“Garapan ini di adopsi dari kisah Ki Barak Panji Sakti dari lahir beliau kita ceritakan sampai akhirnya berperang menyerang ke Belambangan,”jelasnya.

Baca Juga  Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Buleleng Tampil Memukau dengan Garapan 'Meslodoran'

Selain garapan Fragmentari yang disambut meriah oleh Penonton, Garapan tabuh Gagak Gora yang mengisahkan pandangan kepada Burung Gagak memiliki seni tinggi yang bisa membuat sarang sehingga terlihat cantik, dan burung gagak ini juga di kenal sebagai kesadaran sensorik dengan mengombinasikan dengan pola gending kekebyaran dan lelongoran tradisional khas Buleleng.

Tidak hanya itu, juga ditampilkan Tari Wiranjaya yang merupakan tari kakebyaran Buleleng yang terdapat di daerah Dauh Enjung, dimana tari ini diciptakan oleh seniman asli Bali utara yang kerap di panggil Nang Ayon atau Bapak I Ketut Merdana dan di kembangkan oleh Putu Sumiasa pada tahun 1957.

Baca Juga  Elizabeth International Sukses Raih Penghargaan Paritrana Award 2024 Kategori Pendidikan

“Astungkara penampilan kita berjalan baik dan tidak mengecewakan penonton, karena ini mengambil cerita sejarah buleleng,”tutupnya. (adv/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments