GATRABALI.COM, BANGLI – Dalam beberapa hari terakhir, warganet ramai memperbincangkan sistem sirkulasi air di Toya Devasya Geopark Resorts and Villas, salah satu destinasi wisata pemandian air panas terkenal di kawasan Kintamani, Bali. Pertanyaan utama yang mencuat adalah, “Air kolamnya mengalir ke mana? Apakah dibuang ke Danau Batur? Kalau iya, apakah itu tidak mencemari lingkungan?”
Menjawab keresahan publik, manajemen Toya Devasya memberikan klarifikasi terbuka. General Manager Toya Devasya, I Ketut Mardjana, menjelaskan bahwa air yang digunakan di kolam merupakan air geotermal alami yang dipanaskan oleh aktivitas vulkanik Gunung Batur.
“Air ini sangat murni, tanpa tambahan zat kimia—tidak mengandung klorin, sabun, atau bahan sintetis lainnya. Kami tidak melakukan pencampuran apa pun yang bisa membahayakan lingkungan,” ungkapnya.
Setelah digunakan di kolam, air tersebut dialirkan kembali ke Danau Batur. Namun, proses ini tidak dikategorikan sebagai pembuangan limbah karena tidak terjadi perubahan signifikan secara kimiawi. Air tetap dalam kondisi alami dan tidak mengandung unsur pencemar melebihi ambang batas.
Penegasan juga disampaikan oleh Putu Astiti Saraswati, CEO Toya Devasya. Ia menyatakan bahwa air yang dialirkan ke danau tidak mengandung bahan berbahaya, limbah organik berlebih, maupun zat kimia tambahan.
“Air yang kami alirkan ke danau tetap bersih secara alami. Ini bukan air bekas rumah tangga, apalagi industri. Ini adalah air mineral panas dari dalam bumi, yang hanya singgah sebentar di kolam sebelum mengalir kembali ke alam,” ujar Saraswati, yang akrab disapa Bu Ayu.
Menurut prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan, air hanya dikategorikan sebagai limbah jika mengandung senyawa aktif sintetis atau berpotensi merusak ekosistem. Dalam hal ini, air geotermal yang mengalir dari kolam Toya Devasya tidak memenuhi kategori tersebut.
“Justru proses ini adalah bentuk pemanfaatan sumber daya air yang bijak, di mana air kembali ke siklus alaminya tanpa menimbulkan beban ekologis,” imbuh Bu Ayu.
Toya Devasya berharap penjelasan ini mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka tidak hanya mengutamakan pengalaman wisata, tetapi juga berkomitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. (*/gb)





