GATRABALI.COM, DENPASAR – Suasana di panggung “Taman Penasar” Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun ini berubah menjadi ruang refleksi budaya ketika Sanggar Widya Citta dari Desa dan Kecamatan Abang, Karangasem, mempersembahkan garapan sastra berjudul Beberokan.
Penampilan ini tak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga mengangkat kembali filosofi simbolik beberokan, pelindung desa yang nyaris tergerus oleh arus zaman.
Beberokan selama ini dikenal sebagai ornamen fisik yang dipasang di batas desa saat hari Pengrupukan. Namun lebih dari itu, ia merupakan simbol spiritual yang diyakini mampu menangkal aura negatif dan mengusir roh jahat dalam upacara ngelebar atau nangluk merana. Sayangnya, makna mendalam dari simbol ini mulai dilupakan, terutama di kalangan generasi muda.
Melalui pendekatan seni tutur dan sastra yang dikemas dalam gaya arja petegak, Sanggar Widya Citta menghadirkan pertunjukan yang kuat secara naratif dan emosional.
Penembang dan peneges duduk berjejer, menyampaikan alur cerita melalui rangkaian pupuh seperti pangkur, semarandana, durma, ginanti, hingga pucung. Masing-masing pupuh menggambarkan fase perjalanan psikologis tokoh dalam memahami makna beberokan.
Pertunjukan ini menampilkan dua tokoh yang menjadi personifikasi sikap terhadap tradisi. Satu tokoh bersikukuh menjaga nilai-nilai dalam beberokan, sementara tokoh lainnya memandangnya sebagai benda usang tak berguna.

Konflik ideologis mereka memuncak dalam pupuh durma, ketika tokoh penolak tradisi mulai sadar akan pentingnya merawat warisan leluhur.
Ketua Sanggar Widya Citta, Ida Wayan Wahyu Pramana Sugata, menyatakan bahwa garapan ini adalah bentuk ajakan untuk membangkitkan kesadaran kolektif dalam merawat simbol-simbol budaya.
“Beberokan ini tidak boleh hanya jadi benda mati yang dipasang setahun sekali, tapi harus dimaknai dan diwariskan secara hidup oleh generasi muda,” ujarnya tegas.
Koordinator juri Taman Penasar, Sang Ketut Sandiyasa, memberikan apresiasi tinggi atas garapan Sanggar Widya Citta. Ia menilai peserta tahun ini menunjukkan kualitas dan kedalaman yang makin baik, serta menjadikan panggung sebagai media ekspresi, bukan semata ajang lomba.
“Dari 9 kabupaten, 7 ikut ambil bagian. Ini progres luar biasa. Modal mereka bisa nembang dan menghayati sangat penting untuk estafet ke bentuk seni lain seperti drama gong, topeng, wayang, hingga arja,” tuturnya.
“Tahun lalu bagus di satu daerah, tapi tahun ini tidak ada pemain. Itu bukan soal juara atau tidak, tapi soal keberlanjutan. Yang penting anak-anak muda tetap tumbuh dan belajar pakem,” tambahnya menegaskan.
Dengan garapan Beberokan, Sanggar Widya Citta tidak hanya menyajikan seni sastra, tetapi juga menggugah kesadaran publik akan pentingnya merawat akar budaya.
Di tangan mereka, beberokan bukan lagi sekadar simbol penolak bala, melainkan media edukatif dan reflektif agar nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup dan relevan di tengah modernitas.(ism/gb)


