GATRABALI.COM, DENPASAR – Di balik kemeriahan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, terdapat narasi panjang mengenai pelestarian budaya dan regenerasi seni yang terus dijaga.
Salah satu tokoh sentral dalam proses itu adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, budayawan dan maestro tari Bali yang telah terlibat sejak awal perjalanan PKB.
Dalam dialog inspiratif melalui Podcast PKB 2025 yang diselenggarakan di Art Centre Denpasar, Dibia menceritakan kiprahnya yang dimulai sejak 1979 ketika turut menghadirkan sendratari Ramayana Tujuh Kanda, kolaborasi antara ASTI dan KOKAR. Sejak saat itu, ia terus terlibat aktif dalam pengembangan format dan isi pergelaran PKB.
“Desa-desa di Bali bukan sekadar tempat tinggal masyarakat adat, tetapi juga pusat penciptaan seni yang hidup. Tiap desa menyimpan kekayaan estetika yang sangat khas,” ujarnya pada Senin, 23 Juni 2025.
Bagi Dibia, PKB bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang edukasi, interaksi lintas generasi, dan penguatan identitas lokal. Melalui pawai budaya Peed Aya, misalnya, keterlibatan anak-anak muda menjadi bagian penting dari proses estafet seni.
Terkait tema “Seni Semesta Raya” yang diusung tahun ini, Dibia menjelaskan bahwa proses kurasi disusun agar setiap daerah dapat menampilkan ciri khasnya sendiri. Ia memastikan tidak ada keseragaman yang mematikan kreativitas lokal.
“Kami ingin menjaga keberagaman seni antar wilayah. Panggung PKB harus menjadi refleksi kekuatan kultural masing-masing daerah,” katanya.
Salah satu isu yang menjadi perhatian Dibia adalah keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Ia menyebut bahwa karya seni sakral seperti wewalian bisa diolah menjadi bentuk pertunjukan yang tetap menghormati nilai spiritualnya.
Dari sisi kurasi, ia menerapkan pendekatan 60 persen konservasi dan 40 persen pengembangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga otentisitas budaya Bali sekaligus membukanya terhadap dialog dengan perkembangan zaman.
“Pengaruh luar tidak harus ditolak. Yang penting, bagaimana kita bisa memprosesnya menjadi bagian dari identitas Bali,” ucapnya.
Dibia juga menilai meningkatnya perhatian dunia internasional terhadap PKB sebagai peluang besar untuk memperluas pengaruh budaya Bali tanpa kehilangan akarnya.
“Lewat PKB, saya melihat generasi muda mulai berani tampil dan menunjukkan jati diri mereka melalui seni. Ini yang membuat saya optimis,” tutupnya.(ism/gb)





