spot_img
spot_img
BerandaBaliPKB Tampilkan Wajah Baru, Inovasi Kuratorial Jawab Tantangan Zaman

PKB Tampilkan Wajah Baru, Inovasi Kuratorial Jawab Tantangan Zaman

GATRABALI.COM, DENPASARPesta Kesenian Bali (PKB), sebagai salah satu festival budaya tahunan paling bergengsi di Pulau Dewata, kembali hadir dengan wajah yang lebih segar dan substansi yang kian kaya.

Dalam pandangan Prof. Dr. I Wayan Dibia, salah satu tokoh penting dalam dunia seni pertunjukan Bali sekaligus kurator PKB, dinamika festival ini telah mengalami perubahan signifikan dari sisi konten, meskipun kerangka program pokoknya terkesan tetap.

Prof. Dibia menyoroti bahwa sejak memasuki dekade ketiga pelaksanaannya, PKB kerap dianggap monoton karena program utama seperti pawai, lomba, dan sejumlah pertunjukan lainnya cenderung sama dari tahun ke tahun.

Namun, ia menegaskan bahwa persepsi tersebut muncul jika seseorang hanya melihat PKB dari permukaan saja.

“Kalau ingin melihat apa yang ada di PKB, jangan hanya melihat pola program pokoknya saja. Masuklah ke bagian-bagian pertunjukan yang ada. Anda akan terkejut melihat betapa kesenian-kesenian yang sejenis bisa menunjukkan perbedaannya sesuai dengan gaya daerahnya masing-masing,” ujar Prof. Dibia.

Menurutnya, justru dalam keberagaman interpretasi seni yang dibawakan tiap daerah itulah letak kekayaan PKB. Meskipun jenis kesenian yang ditampilkan, seperti topeng atau tari-tarian tradisional, mungkin sama dari segi kategori, gaya penyajian, karakter gerak, hingga nuansa musikalnya berbeda dan terus berkembang. Topeng yang tampil 30 tahun lalu sangat berbeda dengan yang bisa disaksikan hari ini.

Baca Juga  Dukung Kelestarian Lingkungan, Bupati Tamba Lepas Ratusan Tukik di Pekutatan

“Bagi saya, ini yang sangat menyenangkan dan bervariasi tetapi tidak kehilangan identitas,” ujarnya.

Dalam PKB tahun ini, terdapat sejumlah inovasi kuratorial yang cukup mencolok. Salah satunya adalah perubahan pendekatan dalam penampilan Gong Kebyar.

Jika sebelumnya seluruh penyajian datang dari satu wilayah, misalnya Denpasar, hingga memicu keluhan karena kelompok yang sama tampil secara berulang, kini telah diterapkan sistem silang atau “cross”. Pendekatan ini memungkinkan lebih banyak grup dari berbagai daerah berpartisipasi, memberikan warna baru dan pemerataan panggung bagi seluruh seniman.

Yang juga menjadi sorotan adalah kemunculan kembali kesenian-kesenian legendaris yang kini diangkat ulang dalam bentuk baru. Karya-karya klasik dari masa lampau, baik berupa arja maupun drama tradisional, dihadirkan kembali ke panggung sebagai bentuk apresiasi dan edukasi bagi generasi muda.

Prof. Dibia menyebut langkah ini sebagai strategi untuk menumbuhkan rasa historis dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Baca Juga  Komang Gede Sanjaya Fokus Bangun Sektor Pertanian dan Libatkan Generasi Muda

“Kita ingin para penonton kita bisa melihat model-model karya lama yang memberikan inspirasi kepada generasi muda,” tegasnya.

Dalam genre sendratari, ada pula pendekatan baru yang diterapkan, salah satunya adalah upaya meminimalkan peran dalang sebagai narator verbal dalam pertunjukan. Tujuannya adalah agar sendratari lebih mengedepankan bahasa tubuh dan gerak tari sebagai media komunikasi universal.

Dalang tetap hadir, namun perannya lebih sebagai aksentuasi, bukan sebagai narator utama yang membatasi interpretasi penonton terhadap cerita.

“Kami ingin sendratari ini lebih berbahasa universal. Mudah-mudahan itu bisa terwujud,” ucap Prof. Dibia penuh harap.

Salah satu program yang sangat ditunggu tahun ini adalah penyajian fragmen tari dalam Gong Kebyar tanpa kehadiran dalang sama sekali. Dan yang paling menarik, Prof. Dibia sendiri menyiapkan sebuah karya fragmen baru yang mengangkat kisah tokoh asing yang sangat berjasa bagi perkembangan seni Bali: Colin McPhee.

Colin McPhee adalah etnomusikolog asal Kanada yang datang ke Bali pada tahun 1930-an. Ia dikenal karena dedikasinya dalam meneliti dan mempopulerkan gamelan Bali ke dunia internasional, namun kisah hidupnya tak hanya soal akademik, melainkan juga menyimpan sisi emosional dan tragis.

Baca Juga  Sekda Adi Arnawa, Pembangunan Pura Hyang Sekar Gadung Perkuat Kebersamaan Masyarakat

Ia sempat mengangkat seorang penari Bali muda dan berbakat untuk tampil di Amerika, namun setelah kembali ke tanah air, sang penari mengalami nasib buruk hingga akhirnya dirampok dan hidupnya berakhir tragis.

Fragmen yang akan disajikan ini diharapkan mampu menggugah emosi dan kesadaran penonton tentang sisi lain dari sejarah seni Bali yang melibatkan hubungan lintas budaya dan dampaknya terhadap individu.

“Cerita ini nanti akan membuat penonton menangis,” ujar Prof. Dibia dengan nada serius, menandakan kekuatan narasi yang akan dibawakan dalam karya tersebut.

Melalui berbagai inovasi tersebut, PKB tidak hanya berupaya menjaga kelestarian seni dan budaya Bali, tetapi juga terus bergerak maju dalam merespons perkembangan zaman dan ekspektasi publik. Dengan tetap mempertahankan ruh tradisi, festival ini menjadi ruang dialog kreatif antar generasi dan antar budaya.

Prof. Dibia meyakini PKB bukan hanya sekadar pawai dan lomba, tapi sebuah laboratorium budaya hidup yang menyimpan kejutan dan pelajaran baru di setiap sudut pertunjukannya.(hri/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments