GATRABALI.COM, DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 kembali menegaskan dirinya sebagai ajang budaya yang tak pernah kehilangan pesona. Digelar rutin setiap tahun, perhelatan ini menjadi ruang ekspresi bagi para seniman lokal dan sekaligus simbol kuat kolaborasi lintas budaya, bahkan hingga melibatkan seniman dari luar negeri.
Bagi Ni Wayan Dita Maharani, warga Denpasar, tahun ini menjadi pengalaman pertamanya menyaksikan PKB secara langsung, setelah sebelumnya hanya bisa mengikuti dari siaran televisi. Ia mengaku terkesima melihat kekayaan budaya Bali yang begitu hidup di atas panggung.
“Kita bisa menonton berbagai atraksi budaya dari delapan kabupaten di Bali. Yang membuat saya kagum, ada juga partisipasi warga asing yang tampil di atas panggung. Artinya, seni Bali bisa menjangkau dunia,” ujarnya saat ditemui di kawasan Renon, Denpasar.
Menurut Dita, PKB bukan hanya milik masyarakat lokal. Akulturasi budaya yang terjadi begitu alami di arena festival memperlihatkan bahwa panggung PKB terbuka untuk siapa saja yang mencintai seni dan budaya.
Senada dengan itu, I Made Marga Santika, warga Bali lainnya, menyebut PKB sebagai ruang eksplorasi budaya yang tak pernah kehilangan kejutan. Ia bahkan rutin hadir dalam dua tahun terakhir bersama keluarganya.
“Sudah dua tahun berturut-turut saya hadir. Tiap tahun beda. Misalnya, Jembrana tampilkan Kokokan, Badung hadirkan Ogoh-Ogoh yang biasanya hanya bisa dilihat saat pengerupukan. Saya ke sini sama istri dan keponakan. Seru dan tidak pernah membosankan,” tuturnya.
Dengan antusiasme yang tak surut dari masyarakat, PKB ke-47 membuktikan bahwa warisan budaya Bali tetap hidup, berkembang, dan mampu menjalin koneksi lintas budaya tanpa kehilangan identitasnya.(gun/gb)





