spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelRenungan Tentang Kepercayaan, Kebutuhan, dan Penyerahan Diri Kepada Ida Sang Hyang Widhi

Renungan Tentang Kepercayaan, Kebutuhan, dan Penyerahan Diri Kepada Ida Sang Hyang Widhi

GATRABALI.COM, DENPASAR

PENDAHULUAN – KEBUTUHAN DAN KEINGINAN DALAM HIDUP

Prinsip dasar yang menjadi landasan renungan ini tertulis dengan sederhana namun bermakna dalam:

“Keinginan berbeda dengan kebutuhan, apa yang diinginkan belum tentu dibutuhkan, dan apa yang dibutuhkan pasti diinginkan. Jangan pernah mendahulukan keinginan daripada kebutuhan”

Setiap manusia hidup dikelilingi oleh berbagai harapan dan kehendak. Ada yang menginginkan kekayaan melimpah, kedudukan tinggi, kemewahan yang tak terbatas, atau pengakuan dari orang lain. Namun sering kali kita lupa membedakan antara apa yang sungguh-sungguh diperlukan untuk hidup layak, dan apa yang hanya muncul dari keinginan hati yang tak pernah merasa cukup.

Kebutuhan adalah segala hal yang mendasar bagi kelangsungan hidup dan keseimbangan jiwa raga: makanan yang cukup, tempat berteduh, kesehatan, kasih sayang, serta kedamaian hati. Sedangkan keinginan adalah segala sesuatu yang lahir dari selera pribadi, pengaruh lingkungan, atau ambisi yang belum tentu membawa manfaat sejati. Ketika kita membiarkan keinginan menguasai diri, hati menjadi gelisah, hidup menjadi tidak tenang, dan perlahan kita menjauh dari Sang Pencipta.

Memahami perbedaan ini adalah langkah awal untuk memahami janji Tuhan yang sejati.

 Dokumen asli, Janji Tuhan 

Ajaran suci turut mengingatkan agar hati tidak dikuasai oleh keinginan yang tak berkesudahan:

“Sebagaimana lautan yang tenang tetap tenang meski dimasuki oleh berbagai aliran sungai, demikian pula orang yang tidak terganggu oleh gelombang keinginan yang datang silih berganti akan mencapai kedamaian, bukan mereka yang terus memburu keinginan”

² Bhagawadgita II.70. Terjemahan bebas oleh penulis.

SUMBER AJARAN – BHAGAWADGITA BAB IX.22

Ajaran tentang kasih dan pemeliharaan Tuhan tertulis dengan jelas dalam Kitab Suci Bhagawadgita, tepatnya pada Bab IX ayat 22:

“Ananyas cintayanto mam, ye janah paryupasate, tesam nityabhiyuktanam, yoga ksemam vahamny aham.”

Terjemahan dari sloka tersebut berbunyi:

“Mereka yang hanya memujaKu saja, tanpa memikirkan yang lainnya lagi, yang senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka Ku-bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan Ku-lindungi segala apa yang mereka miliki.”

Bhagawadgita merupakan bagian dari wiracarita Mahabharata, berisi ajaran luhur yang disampaikan oleh Sri Krishna kepada Arjuna. Ayat ini secara khusus menegaskan hubungan erat antara kesetiaan berbakti dengan pemeliharaan penuh dari Tuhan. Tidak ada syarat berat yang diminta selain ketulusan hati untuk mengabdi hanya kepada-Nya, serta menjaga kesetiaan dalam setiap langkah kehidupan.

³ Bhagawadgita, terjemahan Panitia Penerjemahan Kitab Suci Hindu Indonesia (Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2018), 147.

MAKNA DUA BAGIAN JANJI TUHAN

Dari sloka tersebut, terlihat jelas ada dua hal utama yang dijanjikan Tuhan bagi hamba-Nya yang setia:

Baca Juga  Menghasilkan Uang dari TikTok, Panduan untuk Monetisasi Konten Anda di Platform Populer

Pertama, pemenuhan segala kekurangan. Tuhan berjanji akan menyediakan apa yang belum dimiliki, namun selalu sesuai dengan apa yang benar-benar dibutuhkan. Ini bukan berarti segala keinginan pribadi akan dikabulkan, melainkan segala hal yang mendukung kelangsungan hidup dan pengabdian kita akan dipenuhi pada waktu yang tepat.

Kedua, perlindungan atas apa yang dimiliki. Segala sesuatu yang telah kita miliki—baik kesehatan, keluarga, harta, maupun ketenangan hati—akan dijaga dan dilindungi oleh-Nya, agar tidak hilang atau rusak sebelum waktunya.

Janji ini berlaku bagi mereka yang rajin melaksanakan ibadah, bekerja keras dengan penuh tanggung jawab, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan. Orang yang hidup dengan cara demikian tidak akan terlantar atau kelaparan, kesehatannya pun akan dijaga, dan segala kebutuhan hidupnya akan dipenuhi dengan cara-Nya yang ajaib.⁵

Dokumen asli, Janji Tuhan,

SIKAP YANG BENAR DALAM BERDOA

Sering kali kita keliru ketika berhadapan dengan Tuhan: kita meminta apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Padahal, Tuhanlah yang paling mengetahui apa yang baik bagi diri kita, jauh lebih baik daripada pengetahuan kita sendiri.

Sikap yang benar adalah berdoa dengan kesadaran penuh bahwa Tuhan tahu apa yang kita perlukan sebelum kita memintanya. Berdoalah dengan rendah hati, sampaikan apa yang menjadi kebutuhan hidup kita, dan serahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan-Nya.

Ketika kita meminta apa yang kita inginkan secara memaksa, kita seolah ingin mengatur Tuhan sesuai kehendak kita. Sebaliknya, ketika kita memohon apa yang kita butuhkan dengan pasrah, kita sedang menyatakan iman bahwa Dia adalah sumber segala kebaikan. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita harapkan, tetapi Dia pasti memberikan apa yang paling baik bagi kita. Kadang apa yang kita inginkan justru membawa kerugian, sedangkan apa yang terasa pahit atau tidak sesuai harapan ternyata membawa berkat yang jauh lebih besar.⁶

Ajaran suci turut menegaskan bahwa setiap perbuatan sepatutnya dipersembahkan tanpa mengharap balasan:

“Engkau berhak melaksanakan kewajibanmu, namun engkau tidak pernah berhak atas buah dari perbuatan itu; jangan jadikan hasil sebagai tujuan bertindak, dan jangan pula terikat pada sikap tidak bertindak.”

⁷ Bhagawadgita II.47. Terjemahan bebas oleh penulis.

BERBAKTI DALAM SEGALA KEADAAN

Perjalanan hidup manusia tidak selalu berjalan mulus. Ada masa kelimpahan dan kebahagiaan, namun ada pula masa kesulitan, kesedihan, kekurangan, maupun ujian penyakit.

Namun janji Tuhan tidak berubah karena keadaan yang berubah. Oleh karena itu, apapun yang kita rasakan saat ini—baik sedang senang maupun sedang susah—jangan pernah melupakan kewajiban untuk berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Pengabdian kita bukanlah upah atas berkat yang telah kita terima, melainkan pengakuan bahwa Dialah sumber segala kehidupan.

Baca Juga  Galungan Sebagai Ketahanan Sosial dan Spiritual

Mempertebal iman dan melaksanakan kewajiban agama akan membawa kesejahteraan lahir batin, menjaga kesehatan tubuh dan jiwa, serta melahirkan kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan harta duniawi. Ketika kita tetap setia melayani-Nya meskipun sedang diuji, iman kita akan semakin matang, dan kita akan semakin yakin bahwa kekuatan sejati datang dari-Nya, bukan dari diri sendiri.⁸

Semangat berbakti dalam segala keadaan ini sejalan dengan seruan untuk mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan:

“Apa pun yang engkau kerjakan, apa pun yang engkau makan, apa pun yang engkau persembahkan atau berikan, apa pun laku tapamu, jadikanlah semua itu sebagai persembahan kepada-Ku.”

 Bhagawadgita IX.27. Terjemahan bebas oleh penulis.

BERSYUKUR DI BALIK KEKURANGAN DAN KESEDIHAN

Sikap terindah sekaligus tersulit untuk dilakukan adalah bersyukur ketika sedang merasakan kekurangan atau kesedihan. Banyak orang mudah memuji Tuhan saat segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, namun mulai meragukan-Nya ketika cobaan datang menghampiri.

Ajaran suci mengajak kita untuk tetap bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam keadaan apa pun. Di balik setiap peristiwa yang terjadi, tersimpan rencana Tuhan yang jauh lebih indah daripada apa yang bisa kita bayangkan. Kita sering hanya melihat kejadian sesaat, tanpa mengerti keterkaitannya dengan masa depan yang sedang Tuhan siapkan.

Rencana Tuhan selalu lebih sempurna daripada rencana manusia. Kita sering merencanakan apa yang tampak menguntungkan untuk saat ini, sedangkan Tuhan merencanakan apa yang terbaik bagi keselamatan jiwa dan pertumbuhan diri kita sepanjang masa. Bersyukur dalam kesulitan adalah bukti kepercayaan mutlak bahwa Tuhan tidak akan menguji seseorang melampaui kekuatannya, dan setiap kejadian pasti mengandung hikmah jika kita mau merenungkannya dengan hati terbuka.¹⁰

Kitab suci pun mengajarkan agar suka dan duka yang silih berganti disikapi dengan ketabahan:

“Sentuhan dunia indera mendatangkan rasa dingin dan panas, suka dan duka; semuanya datang dan pergi, tidak kekal adanya. Karena itu, belajarlah untuk menerimanya dengan sabar.”

¹¹ Bhagawadgita II.14. Terjemahan bebas oleh penulis.

JANGAN MENDAHULUI KEHENDAK TUHAN

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan manusia adalah ingin berjalan mendahului kehendak Tuhan. Kita terburu-buru mengejar apa yang kita inginkan, kadang menggunakan cara yang kurang tepat, atau tidak sabar menunggu waktu yang telah ditetapkan-Nya.

Kita adalah ciptaan yang terbatas pengetahuannya; Tuhanlah Pencipta yang mengetahui segala rahasia masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, namun Dia mengetahui segalanya dengan sempurna. Memaksakan kehendak kita kepada-Nya hanya akan membawa kerugian dan penyesalan.

Baca Juga  Kesaktian Dua Mantra Agung, Gayatri dan Tryambakam

Mendahulukan kehendak Tuhan berarti menyerahkan segala urusan hidup kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menerima segala ketetapan-Nya dengan hati ikhlas. Ketika langkah kita sejalan dengan kehendak-Nya, hidup akan terasa ringan dan penuh kedamaian, meskipun jalan yang dilalui terjal dan berliku.¹²

Puncak dari sikap berserah ini tergambar jelas dalam seruan Tuhan sendiri untuk melepaskan segala kebimbangan:

“Tinggalkanlah segala bentuk kebimbangan dan berserahlah sepenuhnya hanya kepada-Ku; Aku akan membebaskanmu dari segala keresahan, janganlah bersedih hati.”

¹³ Bhagawadgita XVIII.66. Terjemahan bebas oleh penulis.

PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Ajaran ini bukan sekadar kalimat indah, melainkan pedoman nyata yang bisa diterapkan dalam setiap aspek kehidupan.

Seorang petani bekerja keras merawat ladang, namun ia tidak memaksa hasil panen melimpah secara berlebihan. Ia berdoa agar tanahnya tetap subur, tanamannya terhindar dari bahaya, dan hasilnya cukup untuk memberi makan keluarga serta berbagi kepada sesama. Saat panen tiba ia bersyukur, dan saat hasilnya sedikit karena cuaca, ia tetap berserah diri sambil berusaha lebih giat lagi. Ia yakin Tuhan tidak akan membiarkan orang yang rajin dan berbakti menderita kekurangan yang sia-sia.

Begitu pula dalam keluarga, pekerjaan, maupun pergaulan: kita berusaha semaksimal mungkin, namun tetap memohon petunjuk-Nya. Kita belajar membedakan mana yang perlu dikejar dan mana yang hanya keinginan sesaat yang dapat menjauhkan kita dari jalan yang benar.

PENUTUP – BERPEGANG PADA JANJI YANG PASTI

Sebagai penutup, mari kita kembali merenungkan janji agung dari Bhagawadgita Bab IX ayat 22: bagi siapa saja yang mengabdi sepenuh hati kepada-Nya, bekerja keras tanpa menyerah, dan menjaga kesucian hati, Tuhan akan memenuhi segala kebutuhan serta melindungi segala yang dimilikinya.

Jangan biarkan keinginan mengalahkan kebutuhan yang sejati, dan jangan pernah mencoba mendahului kehendak Tuhan dengan kehendak sendiri. Dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, tetaplah berbakti dan tetaplah bersyukur. Percayalah sepenuh hati bahwa rencana-Nya jauh lebih indah dan lebih baik daripada segala rencana yang pernah kita susun.

Semoga renungan ini memperkuat iman kita, menuntun kita kembali pada jalan yang benar, dan menumbuhkan keyakinan penuh bahwa janji Tuhan pasti terlaksana pada waktu yang tepat.

DAFTAR SUMBER

  1. Dokumen asli. Janji Tuhan. N.d.
  2. Bhagawadgita. Terjemahan Panitia Penerjemahan Kitab Suci Hindu Indonesia. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2018.
  3. Bhagawadgita II.14, II.47, II.70, IX.27, dan XVIII.66. Kutipan sloka pada bagian-bagian ini diterjemahkan bebas oleh penulis renungan dari teks Sanskerta asli.

Penulis : Ketut Sudira, SH.,MH

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments