GATRABALI.COM, JEMBRANA – Polemik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kecamatan Melaya kembali memantik gelombang kekecewaan dan keresahan dari masyarakat.
Sejumlah orang tua siswa menyuarakan keluhan lantaran anak-anak mereka justru diterima di sekolah yang jauh dari tempat tinggal, sementara mereka yang berdomisili paling dekat dengan SMA Negeri Melaya malah tak lolos seleksi.
Tak hanya persoalan jarak, penempatan jurusan pun tak sesuai dengan minat dan bakat siswa. Sejumlah siswa yang berminat jurusan tata boga ditempatkan di jurusan perikanan, dan yang ingin belajar akuntansi malah dimasukkan ke jurusan keperawatan. Situasi ini membuat banyak siswa yang awalnya penuh semangat, kini merasa goyah dan kebingungan menentukan langkah.
“Kami kecewa, tapi lebih dari itu, kami bingung dan merasa tidak dihargai. Harapan anak-anak untuk bersekolah sesuai pilihan dan di dekat rumah menjadi sulit karena sistem yang tidak berpihak,” keluh salah seorang orang tua siswa.
Kekecewaan ini pun mendorong puluhan warga mendatangi kediaman Ketua Komisi II DPRD Jembrana, I Ketut Suastika, S.Sos., MH. Mereka datang bukan dengan amarah, melainkan dengan membawa harapan agar suara mereka sampai ke pemangku kebijakan.
“Kami datang karena percaya Pak Suastika bisa menyampaikan suara kami. Kami tidak menuntut yang muluk-muluk. Kami hanya ingin anak-anak kami bisa bersekolah dengan layak, dekat dari rumah, dan sesuai minat mereka,” ujar perwakilan warga.
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keprihatinan itu, warga menyampaikan sejumlah aspirasi, di antaranya:
Pembangunan ruang kelas baru di SMA Negeri Melaya agar dapat menampung lebih banyak siswa lokal.
Penyediaan angkutan sekolah gratis bagi siswa yang terpaksa bersekolah di tempat jauh.
Pembenahan sistem PPDB agar lebih manusiawi, adil, dan mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.
“Kami tidak menolak aturan, tapi mohon sistem dibuat lebih bijak. Jangan sampai anak-anak kehilangan haknya hanya karena terganjal teknis dan administrasi,” tambah warga lainnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Komisi II DPRD Jembrana, I Ketut Suastika menyatakan keprihatinannya dan berjanji akan segera menindaklanjuti keluhan warga.
“Saya sangat memahami kekecewaan masyarakat. PPDB harusnya jadi momentum menyambut masa depan anak-anak, bukan membuat mereka patah semangat. Saya akan teruskan aspirasi ini ke pihak terkait, dan mendorong solusi konkret secepatnya,” ujar Suastika.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan masyarakat agar sistem PPDB di Jembrana bisa benar-benar mencerminkan keadilan dan keberpihakan terhadap masyarakat.
“Pendidikan adalah pondasi masa depan. Jangan sampai rusak hanya karena sistem yang tidak tepat sasaran,” tutupnya.(gb)


