spot_img
spot_img
BerandaBaliKetajaman Tumpek Landep, Dari Senjata Tradisional hingga Kesadaran Modern dan Ekologis

Ketajaman Tumpek Landep, Dari Senjata Tradisional hingga Kesadaran Modern dan Ekologis

GATRABALI.COMBULELENG — Setiap 210 hari sekali, umat Hindu di Nusantara merayakan Tumpek Landep, hari suci yang dikenal sebagai waktu untuk menyucikan dan menghias benda-benda berbahan logam.

Di jalan-jalan, kendaraan tampak bersih dan wangi, dihiasi janur, bunga, dan sesajen. Namun, di balik euforia visual ini, muncul pertanyaan mendalam: Apakah cukup hanya menghias besi tanpa mengasah hati dan pikiran?

Pertanyaan tersebut menjadi perenungan penting dalam pemaparan Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan, dalam refleksi spiritualnya, Jumat, 20 September 2025.

“Yang perlu kita tajamkan bukan hanya senjata atau kendaraan, tetapi pikiran. Karena dari pikiranlah segalanya bermula, kata, perbuatan, bahkan kehancuran atau keselamatan bumi,” ujarnya.

Menurut lontar Sundarigama, Tumpek Landep merupakan hari pemujaan kepada Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Pasupati, raja dari segala “pasu” atau binatang. Namun secara simbolik, yang dimaksud dengan “pasupati” adalah kekuatan untuk menaklukkan naluri rendah dalam diri manusia, agar pikiran menjadi jernih dan tajam.

Baca Juga  Dukung Produk Lokal, Wayan Koster Komitmen Tingkatkan Nilai Jual Arak dan Garam Tradisional

Sarana upacara seperti tumpeng putih, ayam sebulu-bulu, hingga canang wangi-wangi, ditujukan bukan hanya untuk benda, tapi untuk memberi tuah pada senjata utama manusia yaitu pikirannya sendiri.

Irma menyoroti bagaimana ritual Tumpek Landep kini sering tampil lebih simbolik daripada substansial. Banyak umat dengan bangga memamerkan kendaraan yang dihias, tetapi lupa menjaga lingkungan.

“Ada motor yang dihias suci, tetapi plastik bekas banten dibuang ke sungai. Kita tidak sedang menyucikan benda, kita justru mencemarkan air,” tutur Irma prihatin.

Untuk itu, ia mengusulkan sebuah gerakan Green Dharma, semangat menjaga alam sebagai bentuk bhakti tertinggi. Green Dharma mengajak umat untuk:

  • Menanam pohon pasca upacara.

  • Mengurangi plastik dalam persembahan.

  • Melakukan bersih-bersih desa saat Tumpek Landep.

  • Menjadikan edukasi lingkungan sebagai bagian dari pembelajaran agama.

Baca Juga  Polsek Kuta Berhasil Amankan Seorang Pelaku Curanmor, Dua Masih Buron

“Banten terbaik untuk Tuhan adalah bumi yang bersih,” ujarnya.

Irma juga mengaitkan makna Tumpek Landep dengan konsep Tri Ṛṇa, tiga hutang yang dibawa setiap manusia sejak lahir:

  1. Dewa Ṛṇa: menjaga ciptaan Tuhan (alam).

  2. Ṛṣi Ṛṇa: menjaga ajaran dan ilmu.

  3. Pitṛ Ṛṇa: menjaga warisan leluhur (bumi yang lestari).

Saat banjir melanda, hutan gundul, dan polusi merajalela, kita sedang diingatkan bahwa hutang itu belum kita bayar.

“Bumi tidak menagih lewat surat, tetapi lewat longsor, banjir, dan krisis. Tumpek Landep adalah waktu untuk merenung dan mulai membayar hutang itu,” tegasnya.

Baca Juga  Astra Motor Hadirkan Promo Tumpek Landep, Konsumen Antusias Manfaatkan Layanan Gratis

Jika dulu senjata umat adalah keris dan tombak, maka kini senjata kita adalah handphone, media sosial, dan teknologi. Pikiran yang tajam bisa menciptakan inovasi yang menyelamatkan, atau juga ujaran kebencian yang melukai.

Menurut Irma, Tumpek Landep harus dimaknai sebagai gerakan ritual, spiritual, dan ekologis. Bukan sekadar menyucikan benda-benda berbahan besi, tetapi juga mengasah kesadaran untuk menjaga bumi. Perayaan ini, ujarnya, bukan hanya tentang menata kendaraan, melainkan juga menata logika dan nurani.

“Mari kita pertajam ‘keris digital’ kita untuk menyebar kebaikan, bukan menusuk sesama, karena dari besi kita belajar ketajaman alat, dari pikiran kita belajar kejernihan niat, dan dari bhakti kita belajar merawat kehidupan,” pungkasnya.(adv/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments