GATRABALI.COM, BADUNG – Areal pertanian di Bali disebut Akademis Unud potensial kembangkan pertanian organik berbasis kearifan lokal, hal ini disebabkan menurut, Guru Besar Universitas Udayana Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. seluruh lahan pertanian di wilayah Bali dulunya dikembangkan menerapkan pertanian tradisional.
Hal tersebut membuat pertanian organik berbasis kearifan lokal dapat dikembangkan di Bali.
‘Faktor utama penyebabnya dikarekan, Seluruh lahan pertanian dengan di Bali potensial untuk pengembangan pertanian organik .Hal ini berdasarkan sejarah pengembangan pertanian tradisional diseluruh Bali,” jelasnya Jumat,(22/5/2026) di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Ia mengatakan, wilayah lahan persawahan sangat potensial dikembangkan di Bali yakni, di daerah lahan pertanian di Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.
“Paling potensial pengembangan pertanian organic adalah daerah yang masih mengembangkan benih lokal seperti padi daerah Jatiluwih,” ujarnya.
Dirinya menyebutkan, adapun varian paling bagus dikembangkan diareal persawah di Bali dengan pertanian organik, yakni Varietas padi lokal paling bagus dikembangkan dengan pendekatan organik, Adaptasi Ekosistem yang Unik: Padi sawah adalah tanaman pangan yang unik karena mampu tumbuh dengan sangat baik di ekosistem air (tergenang) maupun ekosistem darat.
“Hal ini sangat cocok dengan karakteristik lahan persawahan tradisional di Bali yang memiliki sistem irigasi teratur, Kesesuaian dengan Karakteristik Lokal Optimalisasi Pupuk Organik Lokal, Keamanan Konsumsi dan Ketahanan Pangan, Mendukung Pertanian Berkelanjutan,” bebernya.
Dalam upaya, kembangkan pertanian organik Ia menyampaikan, para petani perlu memperhatikan berbagai aspek teknis dan manajemen lahan agar produktivitas tetap optimal tanpa merusak ekosistem.
Selanjutnya ada hal-hal penting harus diperhatikan, mulai Analisis Tanah dan Penentuan Dosis yang Tepat.
Hal ini sangat krusial bagi petani untuk melakukan uji atau analisis tanah secara berkala guna menentukan kebutuhan nutrisi riil tanaman.
Penggunaan dosis yang tepat sesuai rekomendasi ahli dapat mencegah pemborosan pupuk serta menghindari risiko penurunan produktivitas di masa depan akibat ketidakseimbangan hara.
Kemudian, Penerapan Manajemen Nutrisi Terpadu (INM): Petani disarankan untuk tidak hanya bergantung pada satu jenis pupuk, melainkan mengadopsi strategi Integrated Nutrient Management (INM).
“Hal ini melibatkan kombinasi antara pupuk organik (seperti kompos, pupuk kandang, atau vermikompos) dengan sumber daya biologis atau biofertilizer. Contohnya, penggunaan bakteri pelarut fosfat (PSB) yang dikombinasikan dengan pupuk NPK terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi dan hasil panen secara signifikan.
Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Bahan Lokal: Pengembangan pertanian organik berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami di sekitar lahan. Penggunaan gulma kirinyu (Chromolaena odorata) sangat potensial sebagai alternatif pupuk karena mengandung kadar nitrogen yang tinggi serta unsur hara makro (P, K) dan mikro lainnya,” paparnya.
Dirinya melanjutkan, Praktik Budidaya yang Berkelanjutan, Petani perlu menerapkan teknik rotasi tanaman, penanaman penutup tanah (cover crops), dan sistem tumpang sari. Misal, sistem tumpang sari antara jagung dan kacang-kacangan dapat meningkatkan kesuburan tanah secara alami dan mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen kimia.
Kemudian perlu diperhatikna, Kualitas dan Pengolahan Pupuk Organik, Penting untuk memastikan bahwa pupuk organik yang digunakan telah diolah dengan sempurna.
“Pupuk harus dipastikan bebas dari amonia dan patogen berbahaya agar tidak meracuni tanaman atau mengganggu kesehatan tanah secara keseluruhan,” ucapnya.
Ia melanjutkan, diperhatikan juga Manajemen Waktu Pemanenan, Umur tanaman saat dipetik perlu diperhatikan karena berpengaruh pada kadar residu kimia.
Dirinya mencontohkan, Penelitian pada kangkung menunjukkan bahwa, semakin lama umur pemetikan (hari pemanenan), maka kadar nitrat dan nitrit di dalamnya akan semakin meningkat.
Terakhir perlu diperhatikan menurut,Kartini, Irigasi dan Teknologi Pertanian Presisi, Petani didorong untuk menggunakan sistem irigasi yang efisien (seperti irigasi tetes) untuk meminimalkan hilangnya nutrisi yang larut dalam air.
“Selain itu, penggunaan teknologi seperti sensor tanah dan aplikasi berbasis GPS dapat membantu petani menerapkan pemupukan secara lebih terukur dan efisien,” katanya.
Dirinya menerangkan, Tantangan dihadapi dalam pengembangan pertanian organik di Bali saat ini maupun yang akan datang, akan menghadapi berbagai tantangan kompleks bersumber dari dampak praktik pertanian masa lalu serta tuntutan kebutuhan pangan global.
Tantangan terbesar adalah memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah sudah mengalami kerusakan fisik dan kimia akibat penggunaan pupuk kimia secara intensif sejak tahun 1950-an.Gejala Kerusakan: Banyak lahan saat ini memiliki lapisan olah yang dangkal, pH yang sangat asam, serta kondisi fisik tanah yang cepat mengering, retak-retak, atau menjadi lengket saat diolah.
Selanjutnya, Akumulasi Polutan, Penggunaan pupuk fosfat terus-menerus selama puluhan tahun telah menyebabkan akumulasi logam berat berbahaya seperti Timbal (Pb) di dalam tanah yang bersifat tidak dapat terurai secara alami (non-biodegradable), Pertanian organik harus mampu menjawab tantangan peningkatan produksi pangan global yang diperkirakan perlu naik sebesar 70% pada tahun 2050 untuk memberi makan 9 miliar penduduk dunia.
Penggunaan pupuk kimia memberikan hasil yang instan dan melimpah secara jangka pendek,. Peralihan ke sistem organik sering kali dikhawatirkan dapat menurunkan produktivitas pada masa transisi, sementara permintaan pangan terus meningkat.
Kemudian, Petani menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga input pertanian dan keterbatasan modal.Penghapusan Subsidi: Penghapusan subsidi pupuk kimia oleh pemerintah menyebabkan harga pupuk meningkat tajam, yang memaksa petani untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Biaya Input, yang mana Pupuk kimia tertentu (seperti urea atau amonium nitrat) relatif mahal, sehingga biaya pemupukan menjadi faktor beban utama bagi petani dengan anggaran terbatas,.Kesenjangan Pengetahuan dan Akses Teknologi dimana, Masih banyak petani yang belum menerapkan praktik pemupukan yang rasional dan seimbang.
Kemudian, Kurangnya Uji Tanah, Banyak petani tidak melakukan analisis tanah secara berkala, sehingga pemberian nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan riil tanaman (overdosis atau ketidakseimbangan hara),Keterbatasan Edukasi Tantangan ke depan adalah penyediaan edukasi dan pelatihan yang konsisten mengenai Manajemen Nutrisi Terpadu (INM) serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi seperti sensor tanah berbasis GPS.
Pencemaran Lingkungan yang Meluas, Pertanian organik harus dikembangkan di tengah lingkungan yang sudah terkontaminasi residu kimia.Kontaminasi Air Tanah, Di banyak daerah pertanian, kadar nitrat dalam air tanah sudah melebihi batas aman konsumsi, yang menimbulkan risiko kesehatan seperti “sindrom bayi biru”,
Terakhir Dirinya menyebut, Pencemaran Udara, seperti penguapan nitrogen dari lahan pertanian menyumbang emisi gas dinitrogen oksida (N2O) yang memiliki potensi pemanasan global 300 kali lebih tinggi dari CO2.
Sembari Ia berharap, Pemerintah mensosialisasikan Perda no.8 tahun 2019 tentang pertanian organik dan intensip mendampingi petani dari hulu sampai hilir (budidaya sampai ke pemasaran ) pendampingannya pada Produsen (petani), distribututor dan konsumen sehingga terjadi perdagangan adil. (gun/gb)





