spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelTahapan Kehidupan Manusia dalam Upacara Manusia Yadnya Hindu Bali

Tahapan Kehidupan Manusia dalam Upacara Manusia Yadnya Hindu Bali

GATRABALI.COM, DENPASAR

PENDAHULUAN

Manusa Yadnya merupakan salah satu bagian dari Panca Yadnya (lima persembahan suci) dalam ajaran Hindu, yang secara khusus berfokus pada penyucian, pembinaan, dan peningkatan kualitas hidup manusia sejak dalam kandungan hingga memasuki jenjang kedewasaan dan membangun rumah tangga. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta: Manusa berarti manusia, dan Yadnya berarti persembahan suci yang dilandasi ketulusan hati. Dalam tradisi Bali, Manusa Yadnya dikenal juga sebagai rangkaian Sarira Samskara, yaitu ritus sakral yang menyertai setiap peristiwa penting dalam siklus kehidupan manusia guna menjaga keseimbangan antara tubuh, jiwa, dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Widhi Wasa), sesama manusia, serta alam semesta sesuai prinsip Tri Hita Karana.[1] Landasan tekstualnya juga ditemukan dalam kitab suci Hindu, terutama Manawa Dharmasastra (Manu Smrti), yang menempatkan rangkaian penyucian jasmani (sarira samskara) sebagai kewajiban suci yang membawa kemuliaan, baik di dunia ini maupun sesudah kematian.

TAHAPAN DAN MAKNA UTAMA UPACARA MANUSA YADNYA

1. GARBHADANA (MAGEDONG-GEDONGAN)

Waktu pelaksanaan: Dilakukan saat janin berusia sekitar 3–4 bulan dalam kandungan.

Makna utama: Merupakan upacara penyucian benih dan kandungan. Tujuannya adalah memohon keselamatan, kesehatan, dan kekuatan bagi ibu serta calon bayi, sekaligus menjauhkan pengaruh negatif atau gangguan rohani yang dapat mengganggu perkembangan janin. Dalam ajaran lontar Kanda Pat Rare, upacara ini menjadi fondasi awal agar jiwa yang menjelma mendapatkan tempat yang suci dan layak di dalam rahim ibu.

Dasar sucinya termuat dalam kitab Manawa Dharmasastra (Manu Smrti) II.26, yang menyatakan bahwa penyucian jasmani (sarira samskara) bagi kaum dwijati wajib dilaksanakan melalui upacara suci yang berlandaskan Weda, dimulai dari niseka atau garbhadhana (pembuahan), karena penyucian tersebut mendatangkan kesucian baik di dunia ini maupun sesudah kematian.[2]

2. JATAKARMA (UPACARA KELAHIRAN)

Waktu pelaksanaan: Segera setelah bayi lahir dan mendapatkan perawatan dasar.

Makna utama: Ritus penyambutan dan penyucian pertama saat bayi hadir ke dunia. Secara lahiriah bertujuan membersihkan kotoran lahir, sedangkan secara rohani bermakna membebaskan jiwa dari ikatan sebelumnya, memohon perlindungan, serta mengucap syukur atas karunia kehidupan baru yang diberikan Sang Hyang Widhi. Biasanya disertai dengan penanaman ari-ari sebagai simbol persatuan dengan bumi pertiwi.

Manawa Dharmasastra II.27 menegaskan bahwa noda kelahiran yang melekat pada benih (baijika) dan pada kandungan (garbhika) disucikan berturut-turut melalui persembahan masa kehamilan (Garbhadhana), Jatakarma, pencukuran rambut pertama (Chauda), hingga pengikatan tali suci (Maunjibandhana/Upanayana).[3] Ayat ini menempatkan Jatakarma sebagai mata rantai penting dalam rangkaian penyucian yang berkesinambungan sejak masa kandungan.[4]

3. KEPUS PUSER

Waktu pelaksanaan: Dilaksanakan tepat saat tali pusar bayi terlepas secara alami.

Makna utama: Melambangkan pemisahan hubungan fisik terakhir antara ibu dan anak. Upacara ini bermakna penyucian jasmani dan rohani, serta ungkapan terima kasih kepada Tuhan agar bayi tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bersih hati, dan dijauhkan dari segala penyakit dan bahaya.[5]

4. MECOLONGAN / TUTUG KAMBUHAN (ABULAN PITUNG DINA)

Waktu pelaksanaan: Dilaksanakan setelah bayi berusia satu bulan tujuh hari (42 hari) sejak kelahiran menurut perhitungan kalender Bali, sehingga upacara ini juga dikenal dengan sebutan Abulan Pitung Dina.

Makna utama: Upacara penyucian lahir dan batin bagi bayi serta ibu setelah berakhirnya masa nifas, sekaligus mengembalikan Nyama Bajang — roh halus pendamping janin sejak dalam kandungan, yang dalam khazanah Kanda Pat Rare disebut sebagai saudara empat unsur kelahiran — ke asalnya. Melalui prosesi ini, keluarga memanjatkan doa keselamatan, kesehatan, dan masa depan yang baik bagi sang bayi.[6]

Prosesi ini umumnya dipusatkan pada tiga titik suci di rumah sesuai konsep Tri Murti: dapur sebagai perwujudan Brahma, simbol api dan kehidupan; tempat pemandian sebagai perwujudan Wisnu, simbol air dan kesucian; serta Sanggah Kamulan sebagai perwujudan Siwa, simbol roh dan leluhur. Sepasang ayam, jantan dan betina, dihadirkan sebagai lambang Bajang Colong dan hanya disentuhkan ke tubuh bayi tanpa disembelih. Rangkaian ritualnya diawali dengan melukat atau penyucian dengan air suci, dilanjutkan dengan natab yakni persembahan doa dan sesajen di sanggah kamulan, serta penghaturan banten khusus seperti banten kumara, banten pasuwungan, dan banten pacolongan.[7]

Baca Juga  Dimensi Pengetahuan dan Bhakti dalam Tata Cara Pembersihan Diri Umat Hindu

Secara spiritual, upacara ini menandai berakhirnya masa “leter”, yaitu masa ketika ibu dan bayi belum dianggap suci secara niskala, sekaligus menghubungkan bayi dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat serta menjadi wujud rasa syukur keluarga atas kelahiran dan pertumbuhannya. Tradisi 42 hari ini tidak dijumpai secara seragam di seluruh Indonesia dan lebih khas pada masyarakat Hindu Bali; di luar Bali, sejumlah budaya Nusantara juga mengenal perayaan bayi berusia 40–44 hari, tetapi dengan bentuk dan makna yang berbeda, misalnya tradisi selamatan dalam masyarakat Jawa.

5. NELU BULANIN (TIGA BULANAN)

Waktu pelaksanaan: Saat bayi berusia tepat 105 hari (setara 3 bulan menurut perhitungan kalender Bali).

Makna utama: Melambangkan masa peralihan menuju perkembangan lebih lanjut. Bertujuan membersihkan sisa-sisa “kotoran bawaan lahir”, memohon agar anak tumbuh sehat jasmani dan rohani, cerdas, berkarakter baik, serta memperoleh perlindungan dari gangguan alam gaib maupun lingkungan.

Tahapan ini sepadan dengan Niskrama dan Annaprasana dalam daftar enam belas samskara menurut Rsi Angiras, yakni upacara memperkenalkan bayi pada dunia luar serta pemberian santapan padat untuk pertama kalinya.[8] Dalam khazanah kepustakaan Bali, tahapan ini juga dipandang sebagai ungkapan bakti lahir batin kepada Sang Hyang Widhi.[9]

6. OTONAN

Waktu pelaksanaan: Setiap 210 hari sekali sesuai perhitungan kalender Bali (satu siklus Wuku), berlangsung seumur hidup.

Makna utama: Dikenal sebagai “hari kelahiran kembali”. Upacara ini wujud syukur atas usia yang ditambah, momen evaluasi diri untuk memperbaiki perilaku, serta doa agar mendapatkan keselamatan, umur panjang, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalani hidup.

Permohonan tersebut secara tradisional diucapkan melalui mantra Sapta Wredhi (tujuh anugerah kemajuan): “Om Ayur Wredhi Yaso Wredhi, Wredhi Pradnyan Sukha Sriyam, Dharma Santana Wredhisca, Santute Sapta Wredhayah”, yang bermakna permohonan kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar berkenan memberikan panjang umur, nama harum, kebijaksanaan, kebahagiaan, kemuliaan, kebenaran, dan keturunan yang utama.[10] Perbedaan antara ulang tahun Masehi (±365 hari) dan otonan (210 hari) terletak pada sistem penanggalan yang digunakan, yakni kalender Pawukon.[11]

7. METATAH (POTONG GIGI)

Waktu pelaksanaan: Dilakukan saat anak menginjak masa remaja menjelang dewasa (biasanya usia 16–21 tahun).

Makna utama: Merupakan tanda masuk ke kedewasaan. Secara simbolis, meratakan enam gigi depan melambangkan pengendalian Sad Ripu — enam sifat buruk manusia: kama (hawa nafsu), krodha (marah), lobha(serakah), moha (bingung/tertipu), mada (sombong), dan matsarya (iri hati). Tujuannya agar seseorang mampu mengendalikan diri, mengembangkan akal budi, serta siap memikul tanggung jawab sosial dan agama.

Sarasamuscaya, sebagai saripati ajaran etika Hindu, menegaskan pengendalian pikiran dan amarah sebagai inti pengendalian Sad Ripu: sloka 80 menyatakan bahwa pikiran (manah) adalah sumber segala nafsu indriya yang menggerakkan perbuatan baik maupun buruk, sedangkan sloka 96 menegaskan, “sekalipun seseorang menumpas musuh sepanjang hidupnya, ia yang mampu mengendalikan amarahnya itulah yang sesungguhnya tidak memiliki musuh”, dan sloka 98 menambahkan bahwa orang yang berhasil mengekang amarah serta memandang semua makhluk setara dengan dirinya akan memperoleh kebahagiaan di dunia ini maupun di alam lain.[12] Upacara Metatah menjadi simbol lahir batin dari pengendalian tersebut.[13]

8. PAWIWAHAN (PERKAWINAN)

Waktu pelaksanaan: Saat dua insan sepakat mengikat janji suci menjadi suami istri.

Makna utama: Upacara sakral pengesahan hubungan menurut hukum agama dan adat. Maknanya meliputi: membentuk keluarga (grhastha) yang rukun, harmonis, dan berlandaskan dharma; melanjutkan keturunan yang suputra (berbudi luhur) sebagai pelunasan salah satu dari Tri Rna, yakni hutang kepada leluhur; serta melaksanakan kewajiban sebagai manusia dan umat Tuhan. Pawiwahan juga menjadi sarana penyucian agar rumah tangga senantiasa seimbang dan diberkahi sesuai ajaran Dharma.

Manawa Dharmasastra IX.137 menegaskan pentingnya melanjutkan keturunan sebagai buah dari pawiwahan: “melalui putra manusia menaklukkan dunia ini, melalui cucu ia memperoleh keabadian, dan melalui cucu dari putranya ia mencapai wilayah matahari.”[14] Ayat ini menjadi salah satu landasan tekstual mengapa kelahiran keturunan yang saleh dipandang sebagai salah satu tujuan sakral perkawinan Hindu.[15]

Baca Juga  Ini Manfaat Bambu Kuning bagi Masyarakat di Bali
CATATAN BETAPA PENTINGNYA UPACARA YANG MENYERTAI TAHAPAN HIDUP UMAT HINDU DI BALI
PENDIDIKAN PRENATAL
PERSPEKTIF MITOLOGI, SAINS, DAN AGAMA

Konsep bahwa pendidikan dan pembentukan karakter anak telah dimulai sejak dalam kandungan, sebagaimana tercermin dalam upacara Garbhadana di atas, ternyata juga hadir dalam berbagai khazanah lain di luar tradisi Hindu Bali, mulai dari sastra epik, ilmu pengetahuan modern, hingga ajaran agama. Ketiganya secara bersama-sama menegaskan bahwa masa prenatal merupakan fondasi penting bagi kehidupan manusia.

KISAH ARJUNA, SUBHADRA, DAN ABIMANYU DALAM MAHABHARATA

Salah satu kisah yang paling sering dijadikan rujukan mengenai pendidikan prenatal adalah episode Arjuna dan Subhadra dalam epos Mahabharata. Subhadra, istri Arjuna sekaligus adik Sri Kresna, digambarkan kerap mendengarkan penjelasan Arjuna tentang strategi perang, termasuk cara menembus formasi militer Cakravyuha, yakni formasi lingkaran berlapis yang hanya dapat ditembus dan ditinggalkan oleh sedikit ksatria yang menguasai kedua caranya. Dari dalam kandungan, Abimanyu, putra Arjuna dan Subhadra, dikisahkan turut menyerap penjelasan tersebut. Namun ketika Arjuna hendak menuturkan cara keluar dari Cakravyuha, Subhadra tertidur, sehingga bagian pengetahuan itu tidak sempat diwariskan kepada janin yang dikandungnya.[16]

Kelak dalam perang Kurukshetra, Abimanyu yang baru berusia enam belas tahun berhasil menembus formasi Cakravyuha dengan keberanian luar biasa, sesuatu yang hanya mampu dilakukan oleh ksatria besar. Akan tetapi, karena tidak mengetahui cara keluar dari formasi tersebut, ia terjebak dan dikepung oleh prajurit Korawa hingga gugur secara heroik. Kisah ini kerap dimaknai sebagai perumpamaan bahwa pengetahuan yang diserap sejak dalam kandungan dapat sangat berpengaruh, namun bila hanya diterima secara sebagian, dapat pula membawa risiko fatal bagi anak di kemudian hari.

PERSPEKTIF ILMIAH

Ilmu kedokteran dan psikologi perkembangan turut mengakui bahwa masa prenatal, yang meliputi tahap germinal, embrionik, dan fetal, merupakan periode krusial bagi pembentukan fisik, psikologis, dan karakter anak. Faktor genetik menentukan ciri fisik dan potensi bawaan, sementara kesehatan ibu, asupan gizi seimbang, kondisi emosional, serta lingkungan tempat ibu hidup turut memengaruhi perkembangan janin; stres berlebihan pada ibu, misalnya, dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan tumbuh kembang janin, sedangkan paparan polusi, rokok, alkohol, dan obat-obatan berbahaya dapat merusak perkembangan otak janin. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa stimulasi positif, seperti musik lembut, komunikasi verbal, dan sentuhan pada perut ibu, dapat mendukung perkembangan otak serta memperkuat ikatan emosional antara ibu dan anak.

PERSPEKTIF KEAGAMAAN

Agama menjelaskan penciptaan manusia secara bertahap, dan pendidikan prenatal dipahami dapat dimulai sejak bayi ada dalam Rahim  ibu, ritual  diyakini memberi ketenangan dan stimulasi spiritual, serta dukungan emosional dan spiritual dari ayah, dengan ibu yang dipandang sebagai pilar utama pendidikan anak sejak masa kandungan.

Baik kisah Mahabharata, kajian ilmiah tersebut memperlihatkan benang merah yang senada dengan semangat upacara Garbhadana dalam Manusa Yadnya: bahwa pendidikan anak semestinya dimulai sedini mungkin, bahkan sebelum ia lahir ke dunia, dan hendaknya dilakukan secara utuh, bukan setengah-setengah, agar anak tidak menghadapi risiko besar akibat pengetahuan yang tidak lengkap di kemudian hari.

KESIMPULAN

Rangkaian Manusa Yadnya bukan sekadar seremonial adat, melainkan sistem pendidikan dan pembinaan nilai yang menyertai setiap tahap kehidupan, dengan landasan yang dapat ditelusuri hingga ke kitab suci Hindu seperti Manawa Dharmasastra dan Sarasamuscaya. Mulai dari kandungan hingga membangun rumah tangga, setiap upacara memiliki tujuan yang saling berkaitan: menjaga kesucian, membentuk akhlak mulia, dan memastikan keseimbangan hubungan vertikal dengan Tuhan serta horizontal dengan sesama dan alam. Dengan melaksanakan Manusa Yadnya, umat Hindu Bali meyakini bahwa manusia dapat menjalani hidup dengan penuh makna, keberkahan, dan kesejahteraan lahir batin.

Daftar Pustaka

Bali Express. “Ini 14 Ritual Hindu dari Masa Kehamilan Hingga Meninggal.” 23 Oktober 2020. https://baliexpress.jawapos.com/.

Balinese Ceremony. “Manusa Yadnya: A Ceremony of Wholehearted Devotion.” Diakses 5 Juli 2026. https://www.balineseceremony.com/manusa-yadnya.html.

Baca Juga  Cahaya Sradha dalam Tindakan Umat Hindu

Bhagavata Purana. Kanto I.

Kadjeng, I Nyoman, dkk. Sarasamuscaya dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna. Surabaya: Paramita, 1997.

Lontar Smarareka. Naskah kuno tradisi Bali. Diterjemahkan dan dikaji oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Bali, 2024.

Manu. Manusmrti with the Commentary of Medhatithi. Diterjemahkan oleh Ganganatha Jha. Calcutta: University of Calcutta, 1920.

Parisada Hindu Dharma Indonesia. Makna dan Filosofi Upacara Metatah. Jakarta: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2025.

Parisada Hindu Dharma Indonesia. Upacara Panca Yadnya dalam Kehidupan Beragama. Jakarta: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2026. http://phdi.parisada.or.id/.

Putra, Agung. “Dharma Wacana dalam Arisan Tempek Tambun.” Yayasan Graha Santika Bhuana (blog), Maret 2010. http://grahasantikabhuana.blogspot.com/2010/03/dharma-wacana-dalam-arisan-tempek.html.

Suwena, I Wayan. “Implementasi Sarira Samskara dalam Upacara Manusa Yadnya di Bali.” Jurnal Sphatika 10, no. 1 (2025): 45–58.

Suwija, I Made. “Manusa Yadnya dalam Perspektif Sastra dan Tradisi.” Jurnal Kalangwan 9, no. 2 (2025): 78–92.

Vyasa. Mahabharata, Drona Parva.

[1] Parisada Hindu Dharma Indonesia, Upacara Panca Yadnya dalam Kehidupan Beragama (Jakarta: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2026), http://phdi.parisada.or.id/.

[2] Manu, Manusmrti with the Commentary of Medhatithi, trans. Ganganatha Jha (Calcutta: University of Calcutta, 1920), 2.26: “vaidikaih karmabhih punyair nisekadir dvijanmanam, karyah sarirasamskarah pavanah pretya caiha ca” (“Bagi kaum dwijati, penyucian jasmani wajib dilakukan dengan upacara suci berlandaskan Weda, dimulai dari niseka [pembuahan]; penyucian ini membawa kesucian, baik di dunia ini maupun sesudah kematian.”)

[3] Manu, Manusmrti, trans. Jha, 2.27: “garbhair homair jatakarma cauda maunji nibandhanaih, baijikam garbhikam cainam dvijanam apamrjyate” (“Noda benih [baijika] dan noda kandungan [garbhika] pada kaum dwijati disucikan melalui persembahan masa kehamilan [Garbhadhana], Jatakarma, pencukuran rambut pertama [Chauda], dan pengikatan tali suci [Maunjibandhana].”)

[4] I Wayan Suwena, “Implementasi Sarira Samskara dalam Upacara Manusa Yadnya di Bali,” Jurnal Sphatika 10, no. 1 (2025): 45–58.

[5] Lontar Smarareka, naskah kuno tradisi Bali, diterjemahkan dan dikaji oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Bali (2024).

[6] Bali Express, “Ini 14 Ritual Hindu dari Masa Kehamilan Hingga Meninggal,” 23 Oktober 2020, https://baliexpress.jawapos.com/.

[7] Lontar Smarareka, naskah kuno tradisi Bali, diterjemahkan dan dikaji oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Bali (2024).

[8] Angiras, dikutip dalam Manu, Manusmrti with the Commentary of Medhatithi, trans. Jha, catatan perbandingan pada 2.27–28. Berbagai daftar samskara dalam tradisi Dharmasastra mencantumkan Niskrama dan Annaprasana sebagai upacara yang sepadan dengan Nelu Bulanin dalam tradisi Bali.

[9] Balinese Ceremony, “Manusa Yadnya: A Ceremony of Wholehearted Devotion,” diakses 5 Juli 2026, https://www.balineseceremony.com/manusa-yadnya.html.

[10] Dikutip dalam Agung Putra, “Dharma Wacana dalam Arisan Tempek Tambun” (Ketua PHDI Kabupaten Bekasi), Yayasan Graha Santika Bhuana (blog), Maret 2010, http://grahasantikabhuana.blogspot.com/2010/03/dharma-wacana-dalam-arisan-tempek.html. Mantra: “Om Ayur Wredhi Yaso Wredhi, Wredhi Pradnyan Sukha Sriyam, Dharma Santana Wredhisca, Santute Sapta Wredhayah” (“Semoga Sang Hyang Widhi Wasa berkenan memberikan panjang umur, nama harum, kebijaksanaan, kebahagiaan, kemuliaan, kebenaran, dan putra yang utama”).

[11] Bali Express, “Ini 14 Ritual Hindu dari Masa Kehamilan Hingga Meninggal,” 23 Oktober 2020, https://baliexpress.jawapos.com/.

[12] I Nyoman Kadjeng et al., Sarasamuscaya dengan Teks Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna (Surabaya: Paramita, 1997), sloka 80, 96, 98.

[13] Parisada Hindu Dharma Indonesia, Makna dan Filosofi Upacara Metatah (Jakarta: Parisada Hindu Dharma Indonesia, 2025).

[14] Manu, Manusmrti, trans. Jha, 9.137: “putrena lokan jayati pautrenanantyam asnute, atha putrasya pautrena bradhnasyapnoti vistapam” (“Melalui putra manusia menaklukkan dunia ini, melalui cucu ia memperoleh keabadian, dan melalui cucu dari putranya ia mencapai wilayah matahari.”)

[15] I Made Suwija, “Manusa Yadnya dalam Perspektif Sastra dan Tradisi,” Jurnal Kalangwan 9, no. 2 (2025): 78–92.

[16] Kisah pendidikan prenatal Abimanyu populer dalam tradisi lisan dan tafsir purana seputar Mahabharata, antara lain disinggung dalam Bhagavata Purana, Kanto I, saat Dewi Kunti memuji kesaktian Sri Kresna; sementara episode pertempuran dan gugurnya Abimanyu di dalam formasi Cakravyuha termuat dalam Vyasa, Mahabharata, Drona Parva.

Penulis : Dr I Ketut Sudira, SH.,MH.

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments