spot_img
BerandaOpini dan ArtikelSerupa Tampak, Tak Sama Hakikat: Antara Bajra Sulinggih dan Genta Pemangku

Serupa Tampak, Tak Sama Hakikat: Antara Bajra Sulinggih dan Genta Pemangku

GATRABALI.COM, DENPASAR –

Antara Bajra dan Genta: Serupa Tampilan, Berbeda Hakiki

Oleh karena bentuk fisiknya yang tampak nyaris serupa, tidak sedikit masyarakat awam yang menyamakan bajra yang digunakan oleh sulinggih dengan genta yang dipegang oleh pemangku. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang bersifat hakiki — bukan sekadar nama, melainkan menyangkut dasar upacara, tata cara pemegangan, makna spiritual, dan tingkatan kesucian pemakainya.

Kerancuan ini bahkan diakui sendiri oleh para pemangku sebagai pemuka upacara. Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa di tengah masyarakat sering terjadi anggapan keliru yang menyamakan Bajra sebagai sekadar “bahasa halus” dari Genta — padahal keduanya adalah benda sakral yang berbeda status, bukan sekadar berbeda tingkat kehalusan bahasa.¹¹

Akar Perbedaan: Eka Jati dan Dwi Jati

Perbedaan nama dan tata cara penggunaan bermula dari perbedaan upacara penyucian diri yang telah dijalani oleh masing-masing pemuka agama. Pemangku melaksanakan upacara Pawintenan, yang dikenal sebagai tingkatan Eka Jati. Sementara itu, sulinggih telah melaksanakan upacara Madiksa, yaitu tingkatan Dwi Jati. Perbedaan dasar inilah yang menentukan perbedaan seluruh sarana dan tata cara pemujaan, termasuk alat bunyi sakral tersebut.¹

“Hal yang mendasari adalah banten yang digunakan, di mana sulinggih melaksanakan upacara Madiksa yang biasa disebut dengan Dwi Jati. Sedangkan pemangku melaksanakan Pawintenan atau dikenal dengan sebutan Eka Jati. Hal inilah menyebabkan adanya perbedaan penggunaan sarana dan prasarana.” — Mangku I Wayan Satra²

Baca Juga  Mengapa Perjalanan Udara dengan Pesawat Terasa Pelan Meskipun Berkecepatan Tinggi

Dengan kata lain, nama alat tersebut bukan ditentukan oleh bentuk fisiknya semata, melainkan siapa yang memakainya dan upacara apa yang telah dijalani. Ketika dipegang oleh pemangku, alat itu disebut Gentā; ketika dipegang oleh sulinggih, alat yang serupa bentuk itu disebut Bajra.³

Tata Cara Pemegangan yang Berbeda

Perbedaan yang paling tampak dalam praktik pemujaan adalah bagian mana yang boleh dipegang.

  • Pemangku (Genta): Hanya diperkenankan memegang pada bagian tangkai saja. Tata cara ini disebut Sāat Meimang. Pemangku belum berhak menyentuh bagian atas yang berlambang Panca Śiwa.⁴
  • Sulinggih (Bajra): Diizinkan memegang bagian atas yang bercabang lima, yang melambangkan Pañca Śiwa — lima unsur kekuatan Tuhan. Hak ini baru diperoleh setelah menjalani upacara Madiksa.⁵

Perbedaan pemegangan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan sesana — aturan sakral yang jika dilanggar dianggap tidak sah dan tidak selaras dengan kesucian ritual.⁶

Kewenangan pemangku memegang genta ini sesungguhnya berakar pada teks klasik. Lontar Dharmaning Kusuma Dewa dan Lontar Lingganing Kusuma Dewa menegaskan bahwa seorang pemangku wajib memegang bajra (genta) saat menghadap batara pada saat upacara; jika tidak, ia dianggap belum sepenuhnya memahami hakikat kepamangkuannya dan permohonannya tidak akan sampai.¹² Ketentuan inilah yang menjadi dasar mengapa genta bukan sekadar aksesori upacara, melainkan syarat keabsahan bagi pemangku dalam menjalankan tugasnya.

Baca Juga  Tiga Pilar Pemeriksaan Menurut KUHAP Baru dalam Upaya Akselerasi Penyelesaian Perkara Pidana

Makna Filosofis dan Asal-Usul Nama

Kata Bajra berasal dari bahasa Sanskerta Vajra, yang berarti keras, tak dapat dipatahkan, senjata khas Dewa Indra yang melambangkan kekuatan tak tergoyahkan. Bentuknya yang bercabang lima di kedua ujungnya melambangkan kelima kekuatan unsur alam semesta.⁷

Sedangkan Gentā dalam Lontar Prakempa dikaitkan dengan suara dan bunyi — getaran yang menyebar ke delapan penjuru mata angin, memanggil kehadiran Ida Sanghyang Widhi. Bunyi genta adalah stana (kediaman) Ida Sanghyang Widhi, sehingga ketika berbunyi, diyakini Tuhan hadir di tengah-tengah umat.⁸

Lebih jauh, penggunaan genta oleh pemangku dimaknai sebagai perwujudan konsep Tri-Guna dalam Lontar Kusumadewa: denting suara genta melambangkan unsur bayu, ucapan mantra melambangkan unsur sabda, dan konsentrasi pikiran sang pemangku melambangkan unsur idep. Ketiganya merupakan anugerah Ida Sanghyang Widhi Wasa kepada manusia yang patut disyukurkan dan dipersembahkan kembali kepada-Nya melalui pemujaan.¹³ Dengan demikian, genta bukan semata alat bunyi, melainkan medium penyatuan tindakan, ucapan, dan pikiran pemangku dalam satu kesatuan persembahan yang utuh.

Baca Juga  Makinsan di Geni Hingga Ngaben

Meski suara yang dihasilkan serupa dan memiliki tiga jenis irama — Lembu Māṅgan Ḍukuṭ untuk Dewa Yadnya, Brāhmaṇa Ṇgisiṅ Sāri untuk Manuṣa dan Ṛṣi Yadnya, serta Bhīma Kroḍa untuk Bhūta Yadnya — teknik membunyikan dan hak membunyikannya berbeda.⁹

Kesimpulan: Bukan soal Bentuk, melainkan Kesucian dan Hak

Masyarakat sulit membedakan karena secara fisik keduanya nyaris sama. Namun perbedaannya bukan pada benda, melainkan pada orang dan hak spiritualnya:

AspekGentaBajra
PenggunaPemangkuSulinggih
Upacara DasarPawintenan (Eka Jati)Madiksa (Dwi Jati)
Bagian yang DipegangTangkai saja (Saat Meimang)Bagian atas (Panca Siwa)
Makna UtamaSuara memanggil kehadiran Tuhan; perwujudan Tri-Guna (bayu-sabda-idep)Kekuatan tak tergoyahkan

Kesimpulannya, benda yang sama namanya berubah sesuai dengan kesucian dan hak pemakainya. Yang satu berdasar satu kelahiran suci (Eka Jati), yang lain berdasar dua kelahiran suci (Dwi Jati). Inilah perbedaan yang bersifat hakiki, bukan sekadar lahiriah. Memahami perbedaan ini berarti menghormati tingkatan kesucian dan tata aturan yang diwarisi leluhur.

Oleh: Dr. I Ketut Sudira, SH., MH

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

Dosen FH. Undiknas Denpasar (gatrabali)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments