GATRABALI.COM, TABANAN – Pameran seni internasional Art & Bali 2025 resmi dibuka hari ini di Nuanu Creative City, menandai debut perayaan seni kontemporer berskala global di Bali.
Dengan menghadirkan 17 galeri, lebih dari 150 seniman, serta 50 program seni, Art & Bali menegaskan posisi Bali sebagai pusat budaya Asia Tenggara.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengatakan bahwa Art & Bali merefleksikan semangat Nuanu itu sendiri.
“Nuanu dibangun sebagai ruang di mana kreativitas menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Kami ingin menunjukkan bahwa filosofi serta semangat Bali bisa menyapa dunia melalui seni dan budaya,” ujarnya.
Mengusung tema “Bridging Dichotomies”, pameran ini merangkai pertemuan antara tradisi dan modernitas, alam dan teknologi, hingga kreativitas manusia dan kecerdasan buatan.
“Art & Bali bagi saya adalah upaya menanamkan percakapan global di tanah Bali. Ini tentang memberi penghormatan pada tradisi yang membentuk kita, sekaligus membuka pintu bagi suara-suara baru,” ujar Kelsang Dolma, Director of Art & Bali.

Salah satu sorotan utama datang dari pameran Terra Nexus yang dikuratori Mona Liem. Pameran ini menghadirkan lebih dari 30 seniman dengan karya yang melintasi batas medium, dari instalasi imersif hingga kolaborasi seniman digital dengan pemahat tradisional.
“Terra Nexus adalah perwujudan ekspresi holistik, sebuah panggung di mana teknologi dan sains menari bersama seni. Semua ini tetap berakar pada budaya lokal, sehingga inovasi yang lahir tetap memiliki jiwa Bali,” jelas Mona.
Perhatian publik juga tertuju pada karya monumental Trokomod dari Heri Dono, patung setinggi 7,5 meter yang pernah tampil di Venice Biennale 2015.
“Trokomod adalah simbol suara Indonesia di panggung global. Membawanya ke Bali bagi saya berarti menghadirkan dialog baru antara warisan budaya nusantara dengan dunia,” kata Heri.
Selain itu, peluncuran fase baru THK Tower juga menyedot antusiasme. Instalasi karya Arthur Mamou-Mani bersama seniman Bali Chiko Wirahadi ini dibangun dari material daur ulang dan dirancang sebagai karya interaktif.
“Kami merancang menara ini sebagai ruang bagi masyarakat untuk menitipkan harapan. Setiap suara dan emosi yang diproyeksikan akan menjadi bagian dari perpustakaan hidup yang terus tumbuh di Bali,” ungkap Chiko.
Bagi Bali, Art & Bali bukan hanya perayaan seni, tetapi juga babak baru.
“Lebih dari sekadar pameran, Art & Bali adalah sebuah ruang pertemuan global dimana seni menjadi jembatan untuk mempererat komunitas sekaligus membuka percakapan dunia tentang Bali,” tutup Lev Kroll.(hri/gb)





