GATRABALI.COM, JEMBRANA – Pemerintah Kabupaten Jembrana terus memperkuat posisi daerah sebagai sentra kakao fermentasi berkualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Komitmen tersebut kembali mendapat perhatian dunia melalui kunjungan rombongan Media Trip Program ACT (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) dalam kegiatan bertajuk “Dari Sumber Biji Hingga Produk: Menjelajah Praktik Kakao Berkelanjutan”, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Uni Eropa, Rainforest Alliance, Cocoa Sustainability Partnership (CSP), Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Rikolto Indonesia, Yayasan Kalimajari, Co-Founder Pipiltin Cocoa, pengurus Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS), serta jurnalis dari berbagai media nasional dan lokal.
Dipilihnya Jembrana sebagai lokasi kunjungan dinilai mencerminkan pengakuan terhadap keberhasilan daerah dalam mengembangkan sistem budidaya kakao fermentasi yang mengedepankan kualitas sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Jembrana menegaskan bahwa pengembangan kakao fermentasi telah menjadi salah satu program unggulan daerah sejak 2011. Upaya tersebut kini membuahkan hasil dengan terbukanya akses pasar global bagi produk kakao asal Jembrana.
“Kakao fermentasi dari Jembrana, khususnya yang diproduksi oleh Koperasi KSS, bukti nyata keberhasilan menjaga kualitas. Biji kakao kita telah menembus pasar global sejak 2015 dan menyuplai kebutuhan 15 brand nasional maupun internasional, termasuk kemitraan erat bersama Pipiltin Cocoa yang terjalin sejak 2016,” ujar Bupati.
Menurutnya, keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang, terutama dalam mengubah pola pikir petani agar menerapkan fermentasi biji kakao dan mempertahankan sistem budidaya organik maupun agroforestri.
Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor kakao, Pemkab Jembrana telah menjalankan sejumlah kebijakan, mulai dari penyaluran bibit unggul dan sarana produksi, penguatan permodalan Koperasi KSS melalui pinjaman daerah yang meningkat dari Rp200 juta pada 2016 menjadi Rp1,5 miliar pada 2025, hingga penerbitan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao yang mewajibkan proses fermentasi sebagai standar mutu.
Pemerintah daerah juga menggencarkan gerakan penanaman pohon kakao di sekolah dan kawasan perkantoran sebagai upaya memperkuat budaya bertani sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas unggulan tersebut.
Di hadapan para peserta, Bupati turut mengajak media untuk ikut memperkenalkan kisah perjuangan petani kakao Jembrana yang konsisten menjaga kualitas hasil panen dan kelestarian lingkungan.
“Kolaborasi adalah kunci utama. Terima kasih kepada konsorsium ACT! (Rainforest Alliance, SCOPI, CSP) yang didukung Uni Eropa melalui SWITCH-Asia, Rikolto, Pipiltin Cocoa, serta rekan-rekan media. Semoga sinergi ini terus memperkuat posisi Jembrana sebagai Kota Kakao Berkelanjutan,” tutupnya.
Apresiasi juga datang dari Uni Eropa. Program Officer Uni Eropa, Novita Sari, menilai praktik yang diterapkan di Jembrana menjadi contoh nyata bahwa keberlanjutan mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak.
“Dari kebun sampai pasar, dari produsen hingga konsumen, Jembrana berhasil menunjukan kepada kita bahwa keberlanjutan benar benar bisa menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bagi lingkungan dan juga bagi masa depan kita bersama,” pungkasnya.(ism/gb)





