spot_img
spot_img
BerandaBaliDemi Budaya, Koster Serukan Perlindungan Nama Nyoman dan Ketut di Bali

Demi Budaya, Koster Serukan Perlindungan Nama Nyoman dan Ketut di Bali

GATRABALI.COM, BULELENG – Calon Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali menekankan komitmennya dalam melindungi nama-nama tradisional Bali, seperti “Nyoman” dan “Ketut,” yang semakin berkurang dalam masyarakat Bali. Hal ini disampaikannya dalam uji publik di Kampus Undiksha Singaraja, dua hari lalu, di hadapan sekitar 1.300 mahasiswa dan dosen.

Dalam sesi tersebut, Koster merespons pertanyaan dari Ni Luh Putu Lia Putri, mahasiswi Fakultas Kedokteran Undiksha, yang menyampaikan kekhawatirannya tentang ajakan untuk memiliki lebih dari dua anak. Menurutnya, hal tersebut dapat berdampak pada masalah sosial dan kesehatan, seperti stunting, serta tantangan ekonomi. “Jarak kehamilan yang singkat bisa memicu stunting pada anak,” ujar Lia.

Baca Juga  Dukung Koster-Giri, Kembang Hartawan Optimis Jembrana Jadi Pusat Ekonomi Baru

Menanggapi kekhawatiran ini, Koster menjelaskan bahwa data stunting di Bali pada tahun 2023 mencapai 7,2% dan menurun menjadi 4% di tahun 2024. Ia menargetkan Bali dapat mencapai zero stunting. Selain itu, Koster menyatakan bahwa pemerintah telah menyediakan dukungan berupa pendidikan dan kesehatan gratis bagi keluarga yang memiliki empat anak.

“Dulu, meski keluarga Bali memiliki banyak anak dan hanya bekerja sebagai petani atau penjual canang, anak-anak mereka tetap bisa sukses. Namun, kini dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis, justru anak yang dimiliki semakin sedikit,” ungkapnya.

Baca Juga  Tokoh Buleleng Serukan Dukungan untuk Wayan Koster di Pilgub Bali 2024

Koster menegaskan bahwa pelestarian nama tradisional, seperti Nyoman dan Ketut, adalah bagian dari tanggung jawab pemimpin Bali agar budaya Bali tetap terjaga. Berdasarkan data, jumlah pemilik nama Nyoman kini hanya tersisa 109.198 orang, atau 18%, sementara Ketut hanya 6%. “Jika tidak dilindungi sekarang, maka 10 hingga 20 tahun ke depan kedua nama ini bisa hilang dari Bali,” ujarnya.

Baca Juga  Green Heart, Inisatif Tahunan untuk Berbagi dan Merawat Lingkungan

Koster pun menekankan pentingnya menjaga populasi orang Bali demi keberlangsungan budaya. “Jika orang Bali berkurang, maka budaya Bali akan cepat atau lambat hilang. Orang Bali harus menjadi penjaga utama budayanya sendiri,” pungkas Koster. (gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments