GATRABALI.COM, BULELENG – Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Kebudayaan terus memperkuat pelestarian budaya lokal di tengah pesatnya arus globalisasi. Salah satu langkah nyatanya adalah pelaksanaan sosialisasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang belum lama ini digelar di Wantilan Sasana Budaya, Buleleng.
Kegiatan bertema “Melestarikan Tradisi untuk Generasi Masa Depan” ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya, tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai aset berharga yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.
Kabid Sejarah dan Cagar Budaya Disbud Buleleng, Nyoman Widarma, dalam keterangannya, Jumat (11/07/2025), menyampaikan bahwa pelestarian budaya perlu dilakukan secara menyeluruh. Tak hanya perlindungan fisik, tapi juga menyasar aspek pengembangan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan.
“Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Ini mencakup pembinaan, pemanfaatan, bahkan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya yang hidup di masyarakat. Semuanya telah diatur dalam UU Pemajuan Kebudayaan dan UU Cagar Budaya,” ujarnya.
Menurut data Disbud, Kabupaten Buleleng memiliki 476 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Dua di antaranya, yakni Masjid Jamik dan Rumah Rai Srimben, sudah ditetapkan sebagai cagar budaya resmi tingkat kabupaten. Sementara itu, 16 Warisan Budaya Tak Benda juga telah dicatat oleh Kemendikbudristek. Di antaranya, Tari Teruna Jaya, Nyakan Diwang, dan kesenian Janger Kolok.
WBTB sendiri mencakup ekspresi budaya tak berwujud, seperti tradisi lisan, seni pertunjukan, pengetahuan lokal, hingga permainan rakyat. Widarma menegaskan bahwa pelestarian WBTB tak hanya memperkuat jati diri budaya, tetapi juga dapat menjadi potensi pengembangan pariwisata budaya di Buleleng.
Namun, tantangan tetap ada. Gempuran budaya asing, perubahan gaya hidup, dan minimnya perhatian generasi muda menjadi hambatan utama. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, dan dunia pendidikan dinilai sangat penting.
“Melalui sosialisasi ini kami ingin membangun sinergi. Budaya tidak akan hidup tanpa keterlibatan masyarakatnya sendiri,” tutup Widarma.(adv/gb)





