GATRABALI.COM, DENPASAR – I Gusti Putu Tirtayasa resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor di Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, pada Rabu, 22 Oktober 2025.
Disertasi Tirtayasa berjudul Pembentukan Karakter Unggul Melalui Pendidikan Kepemimpinan Berbasis Asta Brata (Studi Kasus pada Sistem Pendidikan di SMA Taruna Mandara).
“Penelitian ini dilatar belakangi oleh kekhawatiran terhadap krisis kepemimpinan yang tengah melanda berbagai sektor kehidupan, termasuk di ranah pendidikan dan pemerintahan. Tindakan tidak etis seperti korupsi, manipulasi kekuasaan, dan hilangnya keteladanan menunjukkan lemahnya karakter moral dan spiritual para pemimpin,” ujar pria yang akrab dipanggil Ngurah ini.
Ujian Promosi Doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Dra. Relin D.E.,M.Ag dengan didampingi Dewan Penguji lainnya yakni Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag; Prof Dr I Nyoman Segara, M.Hum; Prof. Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Par; Dr I Gusti Made Widya Sena, S.Ag.,M.Fil.H., Dr. I Made Dian Saputra, S.S.,M.Si; dan Dr I Wayan Sujana, S.Ag.,M.Ag.
Sedangkan selaku Promotor Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si, Kopromotor Prof. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag.,M.Fil.H.

Ngurah mengemukakan, penelitian ini mengkaji secara mendalam tiga permasalahan pokok: pertama, bagaimana hakikat kepemimpinan Asta Brata sebagaimana tercermin dalam pustaka suci Hindu; kedua, bagaimana spirit Asta Brata diinternalisasi dalam sistem pendidikan kepemimpinan di SMA Taruna Mandara; dan ketiga, bagaimana implikasi kepemimpinan berbasis Asta Brata dalam mencetak generasi pemimpin masa depan yang unggul secara moral, intelektual, dan spiritual.
SMA Taruna Mandara yang berlokasi di Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng merupakan sekolah berbasis asrama yang menggabungkan sistem pasraman dan kurikulum modern. Sekolah yang didirikan oleh Made Mangku Pastika, Gubernur Bali periode 2008-2018 ini terinspirasi dari SMA Taruna Nusantara di Magelang dan SMAN Bali Mandara.
Menurut Tirtayasa, SMA Taruna Mandara yang mulai beroperasi sejak 2018 ini hadir untuk memberikan solusi di tengah persoalan krisis karakter yang terjadi di sekolah pada umumnya.
“Para guru di sini memiliki tugas tambahan untuk membina dan melatih siswa secara sungguh-sungguh dalam sistem berasrama, sehingga pembentukan karakter dapat dilakukan secara intensif,” ujar pria kelahiran Petang, Badung, 16 Juli 1986.
Hasil penelitian, lanjut Ngurah, menemukan bahwa nilai-nilai Asta Brata tidak hanya hidup sebagai simbol ajaran spiritual, tetapi juga terinternalisasi dalam kultur kepemimpinan di SMA Taruna Mandara. Karakter unggul peserta didik terbentuk melalui program pembinaan yang menekankan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, kecakapan manajerial, serta kepekaan terhadap nilai moral dan kebenaran.
“Temuan ini memperkuat bahwa Asta Brata sebagai ajaran lokalcreligius memiliki daya transformasi besar dalam dunia pendidikan modern, khususnya dalam membentuk pemimpin yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas spiritual,” katanya menambahkan.
Penelitian ini juga menegaskan urgensi penguatan kepemimpinan berbasis nilai lokal dan spiritual sebagai upaya strategis membangun bangsa yang bermartabat dan berdaya saing di masa depan.
Dalam ujian tersebut, I Gusti Putu Tirtayasa dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dengan IPK 3,76. Ia tercatat menjadi doktor ke-168 yang dilahirkan UHN I Gusti Bagus Sugriwa.
SMA Taruna Mandara jadi Contoh
Promotor Tirtayasa, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., menilai disertasi ini memiliki arti penting bagi dunia pendidikan dan penguatan karakter siswa, karena banyak memuat nilai-nilai pendidikan dan kepemimpinan berbasis Hindu.
Demikian pula dengan SMA Taruna Mandara yang telah menerapkan model pendidikan berbasis Asta Brata sangat relevan untuk menyiapkan Generasi Emas 2045.
“Di SMA Taruna Mandara yang para siswanya tinggal di asrama, telah memadukan tradisi pasraman dengan kurikulum modern. Ini salah satu lembaga yang mampu menerapkan nilai-nilai Hindu dalam pendidikan akademis untuk melahirkan generasi unggul,” ujar Prof. Sudiana yang juga Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini
Ia menambahkan, model pendidikan berbasis Asta Brata sangat relevan untuk menyiapkan Generasi Emas 2045. Siswa diarahkan untuk meneladani delapan sifat kepemimpinan para dewa dalam Asta Brata, sehingga menjadi pemimpin yang disiplin, cerdas, dan berkarakter luhur.
“Sistem pendidikan di SMA Taruna Mandara bisa dikembangkan oleh bupati/wali kota di wilayahnya masing-masing untuk menyiapkan generasi unggul,” ucapnya.
Bahkan, kata Prof Sudiana, program Sekolah Rakyat yang digaungkan oleh Presiden Prabowo juga dapat mencontohkan praktik baik yang sudah diterapkan di SMA Taruna Mandara.
Sementara itu, Made Mangku Pastika yang juga selaku pendiri Yayasan Mandara Sejati mengapresiasi SMA Taruna Mandara telah menjadi objek penelitian dari I Gusti Putu Tirtayasa.
“Sekolah ini baru, yang tentunya masih perlu pengembangan ke depan. Banyak memang teori kepemimpinan, tetapi Asta Brata yang menurut saya yang bisa dipakai di SMA Taruna Mandara,” katanya.
Terkait dengan Sekolah Garuda yang baru-baru ini dikenalkan oleh pemerintah, Pastika ingin mengetahui indikator-indikatornya sehingga nantinya bisa disesuaikan di SMA Taruna Mandara dalam mendidik dan mencetak generasi yang unggul. (ism/gb)





