GATRABALI.COM, KARANGASEM — Gubernur Bali Wayan Koster memastikan penataan kawasan Pura Agung Besakih akan berlanjut ke tahap restorasi total Parahyangan, usai tuntasnya pembenahan kawasan dan pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2026.
Koster menegaskan, Besakih harus diposisikan sebagai pusat spiritual utama, bukan sekadar destinasi wisata. Ia menyebut, seluruh upaya penataan merupakan bentuk tanggung jawab menjaga warisan leluhur Bali.
“Ini tempat suci, bukan untuk kepentingan komersial. Yang utama adalah menjaga kesucian dan keharmonisan,” ujarnya.
Menurutnya, penataan tahap awal yang mencakup parkir, kebersihan, dan ketertiban telah memberikan dampak signifikan. Lingkungan kawasan kini lebih tertata, bersih, serta menghadirkan kenyamanan bagi pemedek yang datang bersembahyang.
Perubahan perilaku masyarakat juga menjadi sorotan, terutama dalam menjaga kebersihan dan kedisiplinan selama berada di kawasan pura. Koster menilai, kesadaran tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga kesucian Besakih ke depan.
Memasuki tahap berikutnya, Pemerintah Provinsi Bali akan melakukan restorasi terhadap 26 pelinggih di kawasan Parahyangan yang kondisinya dinilai tidak layak, mulai dari kerusakan struktur hingga berjamur.
“Tidak pantas rumah Ida Bhatara dalam kondisi seperti itu. Semua harus diperbaiki dengan standar terbaik,” tegasnya.
Restorasi dilakukan secara menyeluruh dengan mengacu pada pakem arsitektur tradisional Bali. Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran bagi pedharman yang membutuhkan, sementara Parahyangan Utama menjadi tanggung jawab penuh provinsi.
Proyek ini akan dimulai pada awal Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun, dengan total anggaran mencapai ratusan miliar rupiah.
Selain penataan fisik, Koster juga menyoroti pentingnya pengelolaan kawasan secara profesional. Ia meminta sistem manajemen diterapkan dengan standar tinggi, tetap mengedepankan nilai ngayah dan pelayanan berbasis kesucian.
Di sisi lain, peningkatan akses menuju Besakih juga menjadi agenda lanjutan. Pemerintah merancang pelebaran jalan dan pembukaan jalur baru dari berbagai arah guna mengurangi kemacetan yang kerap terjadi saat hari besar keagamaan.
“Perjalanan ke Besakih harus memberi ketenangan sejak berangkat, bukan justru menimbulkan stres di jalan,” katanya.
Koster menambahkan, keberhasilan penataan Besakih akan menjadi model untuk pura-pura besar lainnya di Bali, termasuk Pura Ulun Danu Batur.
Menurutnya, menjaga kesucian pura tidak hanya soal ritual, tetapi juga bagaimana kawasan dikelola secara berkelanjutan dan berintegritas.(ism/gb)





