GATRABALI.COM, BADUNG – Gubernur Bali, Wayan Koster, memaparkan arah kebijakan pembangunan serta sejumlah program prioritas pemerintah daerah dalam Diskusi Publik “Sang Pewahyu Rakyat” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Udayana di Aula Widya Sabha, Jimbaran, Badung, Rabu (18/2/2026).
Dalam pemaparannya, Koster menegaskan bahwa berbagai program pemerintah saat ini difokuskan pada penurunan angka stunting, pengangguran, serta putus sekolah. Ia juga menyoroti fenomena semakin berkurangnya penggunaan nama anak ketiga dan keempat dalam tradisi Bali, yang dinilai berpotensi memengaruhi keberlanjutan identitas budaya masyarakat Bali.
Selain itu, ia menguraikan tantangan pembangunan Bali yang mencakup persoalan lingkungan, sosial, hingga ketimpangan ekonomi antarwilayah.
“Selain memberi manfaat positif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat Bali, pembangunan Bali juga menimbulkan permasalahan terhadap Alam, Manusia, dan Kebudayaan Bali. Yakni alih fungsi lahan sawah terus meningkat, sampah semakin banyak, kerusakan ekosistem lingkungan, ancaman ketersediaan air bersih, dan kemacetan semakin tinggi serta terjadinya kesenjangan ekonomi wilayah Sarbagita dan luar Sarbagita. Kapasitas infrastruktur dan transportasi publik Jauh dari memadai, kesempatan berusaha Masyarakat lokal Bali semakin berkurang, praktek pembelian aset dengan memakal nama masyarakat lokal Bali semakin tinggi, kasus narkoba, prostitusi, dan keamanan semakin meningkat, dan munculnya komunitas orang asing yang eksklusif, serta penodaan tempat-tempat suci semakin meningkat, serta rusaknya pakem dan keorisinilan budaya Bali,” jelas Gubernur Koster.
Ia juga menjelaskan upaya pemerintah menjaga ketahanan populasi Bali melalui kebijakan insentif kelahiran anak ketiga dan keempat, yang terintegrasi dengan peningkatan kualitas pendidikan melalui program 1 Keluarga 1 Sarjana.
“jadi untuk melestarikan suku Bali, ibu-ibu yang hamil anak ke-3 dan ke-4 dari sejak hamil hingga melahirkan, dibantu sekolahnya sampai dengan Sarjana, melalui program 1 Keluarga 1 Sarjana sehingga terwujud sumber daya manusia (SDM) Bali unggul,” imbuhnya.
Koster menambahkan, arah pembangunan Bali periode 2025–2030 disusun dalam kerangka Haluan Pembangunan Bali Masa Depan menuju visi 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, yang menitikberatkan keseimbangan antara pelestarian alam, penguatan budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Rektor I Ketut Sudarsana menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan forum diskusi yang menghadirkan dialog terbuka antara mahasiswa dan pemerintah daerah.
“Sebagai Perguruan Tinggi, Universitas Udayana tidak boleh menjadi menara gading, melainkan kampus harus menjadi ruang refleksi kritis dan mitra strategis pemerintah daerah. Sehingga forum ini dapat membangun dialog dalam merumuskan rekomendasi kebijakan serta memperkuat peranan dan misi dalam memperkuat peran akademisi dalam menjaga transparansi, akuntabilitas pemerintah,” ungkapnya.
Forum yang digelar mahasiswa tersebut menjadi ruang evaluasi kebijakan publik sekaligus sarana penyerapan aspirasi masyarakat melalui pendekatan akademis dan dialog terbuka.(ism/gb)





