GATRABALI.COM, GIANYAR — Memasuki hari ketiga, BaliSpirit Festival edisi ke-17 menghadirkan ruang dialog dan refleksi lintas budaya yang menekankan nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan keberagaman global.
Co-Founder BaliSpirit Festival, I Kadek Gunarta, menyampaikan bahwa festival ini tidak sekadar menjadi ajang pertemuan, tetapi juga ruang kolaborasi antara komunitas lokal dan internasional. Ia menegaskan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk membangun persamaan.
“Bali itu wali dan wali itu persembahan. Kita ingin mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu semangat kemanusiaan,” ujarnya saat konferensi pers Sabtu, 18 April 2026.
Dalam sesi diskusi, Direktur Rumi Institute sekaligus pakar bahasa Persia, Uztad Zabir, mengangkat pemikiran Jalaluddin Rumi yang menekankan pentingnya melihat manusia dari sisi batin, bukan sekadar perbedaan lahiriah.
“Kita semua akan berjumpa di ruang yang sama,” ungkapnya, menegaskan bahwa nilai kemanusiaan melampaui batas budaya dan agama.
Sementara itu, Budho Adhi Saddharmo atau Bodas membagikan perjalanan transformasinya dari musisi metal menjadi praktisi yoga.
Melalui pendekatan “Meridian Yoga dan Sound Therapy”, ia mengajak peserta memahami pentingnya keseimbangan, kesadaran diri, dan welas asih.
“Saya ingin memanusiakan manusia. Yoga mengajarkan kita tentang kedamaian dan kesadaran diri,” katanya.
Partisipasi internasional juga terlihat dari kehadiran Barbara, yang menilai yoga sebagai sarana penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, sekaligus membangun koneksi lintas budaya.
Selain itu, penari muda seperti Jo dan El turut berbagi pengalaman dalam melestarikan tari Jawa yang sarat filosofi. Keduanya mengaku bangga tetap menekuni budaya tersebut meski sempat menghadapi tantangan sosial.
Hari ketiga BaliSpirit Festival menjadi bukti bahwa keberagaman dapat dirayakan sebagai kekuatan bersama.
Melalui perpaduan diskusi, praktik yoga, dan seni budaya, festival ini menyuarakan pesan persatuan dan perdamaian di tengah perbedaan.(ri/gb)


