GATRABALI.COM, BADUNG – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir sekaligus menjadi upasaksi pada Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mapedudusan Alit Wraspati Kalpa Agung Walik Sumpah di Pura Dalem Cedok Waru, Kuta, Senin, 15 September 2025.
Upacara ini diawali dengan pelaksanaan Pecaruan Rsi Gana Medasar Caru Manca Kelud serta Melaspas Mupuk Pedagingan yang dipuput oleh Tri Sadaka, yakni Ida Pedanda Gede Djelantik Putra dari Griya Cau Belayu Manuaba, Ida Pedanda Gede Jelantik Giri dari Griya Gunung Sari Peliatan, serta Ida Rsi Bw Putra Sara Shri Satya Jyoti.
Rangkaian karya akan berlanjut hingga puncaknya pada Saniscara Kliwon Wuku Landep, 20 September 2025, dan mesineb pada 23 September 2025.
Dalam kesempatan itu, Bupati Adi Arnawa bersama krama pengempon melaksanakan persembahyangan serta menyerahkan hibah dana sebesar Rp 450 juta secara simbolis kepada Ketua Panitia, Wayan Astika.
Bupati dalam sambrama wacananya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas terlaksananya karya suci tersebut.
“Karya ngenteg linggih merupakan penyucian tempat berstana Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semoga karya ini memberi keselamatan, kerahayuan, dan kedamaian untuk seluruh masyarakat Badung,” ungkapnya.
Selain makna spiritual, Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan di tengah cuaca ekstrem yang belakangan memicu banjir di sejumlah titik.
“Jagalah sungai dari sampah, jangan ada aktivitas yang merusak fungsi aliran air. Bencana tidak bisa hanya diatasi pemerintah, tetapi harus dicegah bersama masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Para Bakta Pura Dalem Cedok Waru, Nyoman Graha Wicaksana, menyampaikan bahwa rangkaian karya telah diawali dengan upacara Ngeruak pada 23 Agustus 2025. Ia berterima kasih atas dukungan pemerintah daerah.
“Dana hibah Rp 450 juta sangat membantu kelancaran karya ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan kerahayuan bagi masyarakat Badung,” katanya.
Acara turut dihadiri Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, anggota DPRD Badung sekaligus Ketua Para Bakta Nyoman Graha Wicaksana, perwakilan Dinas Kebudayaan, jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan, Bendesa Adat Kuta, tokoh masyarakat, serta krama pengempon pura.(gb)


