GATRABALI.COM, BULELENG – Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, menegaskan bahwa keterbatasan jumlah personel tidak boleh dijadikan alasan atas rendahnya kinerja dalam menegakkan peraturan daerah (Perda).
Penegasan itu disampaikan Dewa Dharmadi dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi SDM Satpol PP Provinsi, Kabupaten, dan Kota se-Bali, yang berlangsung secara hybrid dari Tourism Information Center (TIC) Kabupaten Buleleng, Selasa (11/11).
Menurutnya, Satpol PP memiliki jejaring aparatur yang luas hingga ke tingkat desa, kelurahan, kepala lingkungan, dan kepala dusun. Dengan jaringan yang kuat, koordinasi dan kolaborasi mestinya menjadi solusi, bukan alasan.
“Itu alasan klasik. Kita bisa memanfaatkan jejaring yang ada untuk memperkuat pelaksanaan tugas di lapangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dewa Dharmadi menekankan pentingnya kemampuan komunikasi bagi setiap personel Satpol PP. Ia menyebut, selain tegas dalam penegakan aturan, anggota Satpol PP juga dituntut memiliki kemampuan berinteraksi dengan masyarakat secara baik dan efektif.
“Petugas di sektor pariwisata tentu harus bisa berbahasa Inggris, sementara yang bertugas menjaga ketertiban umum harus mampu bersikap tegas dan berwibawa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas Satpol PP tidak hanya sebatas penegakan perda yang terkait dengan ketenteraman dan ketertiban umum (Trantibum), tetapi juga mencakup semua produk hukum daerah yang memiliki sanksi.
“Misalnya, pelanggaran terkait menara telekomunikasi. Itu memang kewenangan Dinas Kominfo, tapi kalau terjadi pelanggaran, Satpol PP yang harus turun tangan,” jelasnya.
Menutup arahannya, Dewa Dharmadi meminta seluruh jajaran Satpol PP agar tetap mengedepankan sikap humanis dan persuasif dalam menjalankan tugas. Ia menegaskan, citra Praja Wibawa harus dijaga dari tindakan yang bisa mencoreng nama baik institusi, seperti pungli atau sikap arogan di lapangan.
“Jangan permalukan seragam kebesaran Satpol PP. Ingat Praja Wibawa. Jangan petantang-petenteng; niatnya mau terlihat tegas malah jadi resem,” ujarnya sambil berkelakar. (adv/gb)





