spot_img
spot_img
BerandaBaliKolaborasi Mitologi Bali dan Yunani Ramaikan Bali World Culture Celebration

Kolaborasi Mitologi Bali dan Yunani Ramaikan Bali World Culture Celebration

GATRABALI.COM, DENPASAR – Pertemuan lintas budaya antara Bali dan Prancis mewarnai panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) yang digelar pada Sabtu (12/7) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali.

Dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Prancis, pertunjukan teater bertajuk Watugunung//Oedipemenghadirkan kolaborasi unik mitologi Bali dan Yunani dalam medium seni klasik Wayang Gambuh.

Disutradarai oleh seniman teater asal Prancis, Gabriel Laufer, dan dikoreografi oleh maestro tari Bali, I Wayan Budiarsa, pementasan ini mempertemukan dua tokoh mitologi tragis: Watugunung dari kisah Bali dan Oedipus dari tragedi Yunani. Keduanya memiliki takdir serupa—secara tidak sadar menjalin hubungan dengan ibu kandung mereka—yang dijadikan simbol refleksi atas nasib, kesadaran diri, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga  Bupati Badung Tegaskan Komitmen Dukung Petani Melalui Program Pemasaran Beras Lokal

“Watugunung dan Oedipus adalah dua sosok dari dunia berbeda, tapi memiliki nasib yang seirama. Pertunjukan ini tidak untuk menghakimi, melainkan menyampaikan pesan universal tentang kejujuran, kesadaran diri, serta pentingnya menghormati perempuan dan anak,” ujar Laufer.

Pertunjukan ini diperkuat oleh Sanggar Satriya Lelana dari Desa Batuan, Gianyar, dan melibatkan 21 seniman tari dan tabuh yang menampilkan garapan selama tiga babak. Dengan menggabungkan gamelan Pegambuhan, gender wayang, serta unsur naratif-deklamasi khas Wayang Gambuh—yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2015—pementasan ini sekaligus menjadi bentuk pelestarian budaya Bali yang mulai tergerus zaman.

Baca Juga  KRC 2025 Siap Digelar, Wawali Arya Wibawa Apresiasi Semangat Pramuka SMAN 1 Denpasar

Koreografer Budiarsa menjelaskan bahwa proses kreatif berlangsung selama dua bulan. Ia meramu gagasan Laufer dengan pendekatan kontemporer tanpa menghilangkan esensi klasik Gambuh. Salah satu adegan menarik menampilkan Watugunung “bermimpi menjadi Oedipus”, melalui transisi mimpi yang kuat dan simbolik.

Di tengah pementasan, penonton juga diajak merenung melalui dua teka-teki klasik yang harus dijawab Oedipus: “Makhluk apa yang pagi berkaki empat, siang berkaki dua, dan sore berkaki tiga?” serta “Apa itu kakak dan adik yang tak pernah terputus?”—yang mencerminkan pencarian identitas dan kebijaksanaan dalam kehidupan.

Baca Juga  Perjuangan Panjang Gubernur Koster Berbuah Manis, Arak Bali Kini Diproduksi Legal dan Terlindungi Regulasi Lengkap

Dalam penutupnya, Laufer menyampaikan bahwa kebudayaan adalah jembatan damai yang menyatukan manusia lintas bangsa.

“Lewat panggung ini, Bali dan Prancis tidak hanya saling mengenal, tetapi saling memahami,” pungkasnya.

BWCC tahun ini membuktikan bahwa seni mampu melampaui batas geografis dan sejarah, menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan yang tetap relevan dalam kehidupan modern.(*/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments