GATRABALI.COM, KARANGASEM — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya dalam menjaga keberlanjutan tanaman lokal Bali yang memiliki nilai adat dan spiritual tinggi.
Hal tersebut disampaikannya saat meninjau Taman Gumi Banten dan Usadha yang berlokasi di Banjar Kedungdung, Desa Besakih, Karangasem, Sabtu, 26 Oktober 2025.
Taman seluas 4,2 hektar yang dikelola oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali ini menjadi rumah bagi lebih dari 800 jenis tanaman lokal, mulai dari cempaka, kenanga, majegau, hingga berbagai jenis kelapa upakara seperti kelapa daksina dan kelapa mulung.
Tanaman-tanaman ini digunakan dalam berbagai upacara di Pura Agung Besakih yang setiap tahunnya melaksanakan lebih dari 100 jenis yadnya.
“Keberadaan taman ini sangat penting karena menjadi sumber utama bahan upakara di Pura Besakih. Tanaman lokal ini tidak hanya memiliki fungsi ritual, tapi juga merepresentasikan kekayaan hayati dan spiritual Bali,” ujar Koster.
Gubernur asal Sembiran, Buleleng ini menambahkan, ke depan taman akan dikembangkan menjadi kawasan edukatif berbasis budaya. Setiap tanaman akan dikelompokkan sesuai jenis dan makna filosofisnya agar pengunjung, termasuk generasi muda, dapat memahami keterkaitannya dengan kehidupan religius masyarakat Bali.
“Saya ingin taman ini bukan sekadar kebun tanaman, tetapi juga tempat belajar tentang filosofi dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di balik setiap tanaman suci,” tegasnya.
Pembangunan Taman Gumi Banten dan Usadha ini merupakan implementasi dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020 tentang Pelestarian Tanaman Lokal Bali untuk Taman Gumi Banten, Usadha, dan Penghijauan.
Melalui kebijakan tersebut, Pemprov Bali berupaya menjaga tanaman langka yang kian sulit ditemukan akibat alih fungsi lahan dan perubahan lingkungan.
“Dengan taman ini, kita punya sumber konservasi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Masyarakat kini tidak lagi kesulitan mencari tanaman langka untuk keperluan upacara atau pengobatan tradisional,” jelas Koster.
Lebih lanjut, Gubernur Koster juga membuka peluang untuk memperluas konsep serupa ke daerah lain. Pihaknya sedang mengidentifikasi lahan milik Pemprov yang cocok untuk pengembangan taman upakara dan usada di berbagai wilayah Bali.
“Inisiatif ini sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, di mana pelestarian alam, budaya, dan spiritual berjalan beriringan. Kita ingin Bali tetap ajeg secara ekologis dan kultural,” pungkasnya.(ism/gb)





