GATRABALI.COM, MANGUPURA – Bisnis dekorasi pernikahan tidak selalu soal banyaknya pesanan. Bagi pelaku usaha, tantangan justru muncul ketika harus mengeluarkan modal jauh sebelum dekorasi terpasang dan pembayaran diterima.
Kondisi itu dialami Dehana Decoration, usaha dekorasi pernikahan di Bali yang dirintis sejak 2017. Untuk memperluas pilihan dekorasi, pemilik usaha harus lebih dulu mengeluarkan biaya membuat berbagai properti yang belum tentu langsung menghasilkan pemasukan.
Pemilik Dehana Decoration, Nyoman Tangga Nalika, mengatakan pembuatan properti baru bisa membuat arus kas usaha tertekan. Properti tersebut baru memberikan pengembalian setelah digunakan dalam beberapa pekerjaan.
“Kalau pembuatan barang baru, kita bisa minus dulu. Kita harus jalanin sekitar lima kali dulu baru bisa balik modal,” ujar Tangga.
Dehana kini memiliki sekitar tujuh orang dalam tim dan menawarkan paket dekorasi mulai sekitar Rp10 juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung konsep dan kebutuhan pelanggan.
Persoalan modal semakin terasa ketika memasuki musim ramai. Dalam satu musim, Dehana mampu menangani sekitar lima pekerjaan. Namun, kapasitas tersebut terbatas karena setiap pesanan membutuhkan waktu persiapan yang tidak singkat.
Untuk paket sekitar Rp10 juta, persiapannya dapat memakan waktu tiga hingga empat hari. Sementara dekorasi bernilai ratusan juta rupiah membutuhkan persiapan sekitar satu minggu atau lebih.
“Kalau satu musim yang paling enak lima. Kalau lebih dari itu kayaknya kewalahan,” katanya.
KUR BRI jadi Tambahan Modal
Di tengah kebutuhan tersebut, Dehana Decoration memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekitar Rp25 juta sebagai tambahan modal.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan usaha, terutama pengembangan properti dekorasi yang menjadi aset produktif. Tangga berharap ke depan dapat memperoleh tambahan modal di atas Rp50 juta sehingga jumlah dan variasi properti bisa diperbanyak.
Menurut dia, kebutuhan pembiayaan bukan semata untuk menutup biaya operasional harian. Dalam bisnis dekorasi, modal juga dibutuhkan untuk menciptakan properti yang nantinya dapat digunakan berulang kali pada berbagai pesanan.
Di sisi lain, biaya produksi juga menghadapi tekanan harga bahan baku. Dehana menggunakan material seperti bunga segar, gemitir, busung atau janur, hingga ambu untuk memenuhi kebutuhan dekorasi.
Kenaikan harga bahan tidak serta-merta dibebankan kepada konsumen. Penyesuaian harga biasanya dilakukan dalam rentang enam bulan hingga satu tahun, sekaligus dengan pembaruan paket dekorasi.
Tangga Nalika mengatakan peluang pasar bisnis dekorasi pernikahan di Bali masih terbuka. Dehana mendapatkan pelanggan melalui media sosial seperti Instagram, TikTok dan Facebook, selain mengandalkan rekomendasi pelanggan serta jaringan pertemanan.
Pertumbuhan permintaan tersebut sekaligus memperlihatkan persoalan klasik UMKM: peluang pasar bisa datang lebih cepat dibanding kemampuan modal dan kapasitas produksi.
Ketika kebutuhan dekorasi semakin beragam dan sebagian pekerjaan dalam penyelenggaraan perkawinan dialihkan kepada vendor profesional, peluang ekonomi pun ikut terbuka bagi pelaku usaha lokal, mulai dekorasi, properti, tenaga kerja, dokumentasi hingga katering.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya mengatakan akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu pelaku usaha mikro dan kecil meningkatkan kapasitas bisnis.
“BRI terus berkomitmen untuk hadir di tengah masyarakat, khususnya para pelaku usaha mikro dan kecil, melalui akses pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha,” ujarnya.
Bagi Dehana Decoration, tambahan modal bukan sekadar menjaga bisnis tetap berputar. Modal menjadi jembatan antara pesanan yang datang dan kemampuan usaha untuk memenuhi permintaan. Semakin besar kapasitas properti dan tim yang dimiliki, semakin besar pula peluang UMKM dekorasi untuk mengambil pekerjaan dengan konsep dan nilai yang lebih tinggi.(ism/gatrabali)


