spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungTopik Cinta Kasih, Kesadaran, hingga Tahapan Berpikir Dikulik dalam Diskusi Maruti Suta

Topik Cinta Kasih, Kesadaran, hingga Tahapan Berpikir Dikulik dalam Diskusi Maruti Suta

GATRABALI.COM, BADUNG – Masih dalam suasana Valentine Day atau Hari Kasih Sayang, cinta kasih menjadi satu diantara topik menarik yang dikulik dalam diskusi Paguyuban Maruti Suta. Cinta kasih yang bermakna luas, hendaknya dapat diwujudkan setiap waktu.

Nengah Yasa sebagai salah satu narasumber diskusi mengatakan cinta kasih yang diwujudkan setiap insan manusia tentunya akan melahirkan kebaikan. Cinta kasih tidak hanya menjadi sekadar wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan atau perilaku sehari-hari.

“Cinta kasih atau kasih sayang harus diwujudkan dimanapun dan kapanpun kita berada, salah satu contoh perilakunya adalah dengan berderma atau membantu orang yang membutuhkan,” kata Yasa dalam diskusi yang dipandu mahasiswa FISIP Unwar Ni Kadek Cintya Devi Lestari di Kabupaten Badung, pada Minggu, 15 Februari 2026 ini.

Menurut Yasa, orang yang memiliki cinta kasih ketika diperlakukan tidak baik atau difitnah misalnya, dia tidak akan membalas, tetapi justru akan memaafkan. Dengan diliputi cinta kasih, kita dapat menumbuhkan empati pada sesama.

Baca Juga  Rapat Paripurna Ke-6 DPRD Provinsi Bali Bahas Raperda Insentif dan Kemudahan Investasi

Selain Nengah Yasa, turut hadir sebagai pembicara Guru Made Widiarma dan Wayan Taman, dengan diskusi yang berjalan hangat dan penuh suasana keakraban.

Sementara itu Wayan Taman, narasumber berikutnya mengawali pemaparannya menyampaikan bahwa tujuan utama kehidupan umat Hindu adalah Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma.

“Sebelum mencapai pembebasan yang makro, bersatu dengan Tuhan (moksa), harus dimulai dengan pembebasan dari hal yang kecil-kecil, dan tubuh menjadi sarana untuk membuat kita bebas,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Taman, perlu ada kesadaran pada diri kita untuk selalu mencintai tubuh agar senantiasa tetap sehat. Jangan sampai kita terus fokus bekerja keras dan melupakan waktu beristirahat.

“Tubuh kita juga harus dijaga jangan sampai rusak dengan pikiran kecewa dan pikiran buruk lainnya. Kita harus bisa menyadari setiap tindakan yang kita lakukan,” ucap Taman yang juga praktisi usada Bali ini.

Baca Juga  Jatiluwih Raih Pengakuan Internasional, Menteri Pariwisata Puji Keberhasilan Tabanan

Demikian pula esensi ritual dan spiritual hendaknya diseimbangkan dan kita dapat menyadari setiap titik esensi Ketuhananan. Dengan spiritualitas, dapat membuat kita lebih lapang dalam menjalankan kehidupan.

Guru Nengah Widiarma dalam diskusi kali ini mengulas mengenai tahapan berpikir menurut Auguste Comte yang terbagi menjadi tiga yakni tahapan berpikir Teologis, Metafisika dan Positif.

Tahap berpikir Teologis yakni hidup dengan mempercayai hukum Tuhan dan dogma, sedangkan berpikir Metafisika (abstrak) sudah mengarah berpikir adanya nasib, takdir, hingga hal-hal supranatural. Sedangkan tahap berpikir Positif, apa yang dilihat, maka itu yang dipercaya.

“Penderitaan yang kita alami adakalanya disebabkan karena pikiran kita mengimajinasikan yang jelek-jelek. Padahal terkadang faktanya tidak selaras dengan yang kita imajinasikan,” ujar Guru Widiarma sembari mengingatkan, jika secara kasat mata kita tidak bisa melihat dengan baik, maka lihatlah dengan hati.

Selain rutin menggelar diskusi, Maruti Suta yang telah terbentuk sejak 1994 tersebut juga aktif melakukan sejumlah kegiatan sosial seperti membantu warga miskin maupun yang sakit hingga ke wilayah pelosok-pelosok di berbagai kabupaten di Bali.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Gandeng Kemenhub Tingkatkan Efisiensi Transportasi Laut

Dengan anggotanya dari berbagai profesi ini, ada dosen, pengusaha, guru, pimpinan hotel, sebagian anggota Maruti Suta juga merupakan instruktur yoga yang aktif mengajarkan yoga kepada warga sekitar hingga kalangan wisatawan.

Pembina Paguyuban Maruti Suta Dr. I Made Yudhiantara, M.AP, mengatakan melalui berbagai diskusi yang digelar secara rutin itu untuk memberikan wawasan pengetahuan terkait kehidupan keduniawian dan menuntun ke arah spiritual bagi para anggotanya. Menurutnya, ketika kita memilih jalan spiritual, maka yang penting fokuskan saja pada tindakan yang baik, terserah hasilnya nanti seperti apa.

“Intinya kami senantiasa berupaya untuk menuntun para anggota dapat melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupannya,” ucap Yudhiantara yang juga Dekan FISIPOL Universitas Warmadewa Denpasar tersebut. (ism/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments