Jumat, April 4, 2025
BerandaBaliTradisi Ngusabha Pekakak di Desa Sudaji Sebagai Perayaan Kesuburan dan Kekompakan Warga

Tradisi Ngusabha Pekakak di Desa Sudaji Sebagai Perayaan Kesuburan dan Kekompakan Warga

GATRABALI.COM, BULELENG – Warga Desa Pakraman Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, menggelar tradisi tahunan selamatan (Ngusabha) Pekakak dengan penuh antusias pada hari Senin malam 22 Juli 2024.

Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas karunia kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen yang diwariskan leluhur dan dilestarikan hingga saat ini.

Jro Made Darsana, selaku pengempon atau Klian Subak, mengungkapkan bahwa Ngusabha Pekakak telah dilaksanakan sejak tahun 1959 dan menjadi sebuah kepercayaan yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya.

“Dulu pernah tidak dilakukan acara Pekakak ini, dan mengakibatkan hasil pertanian di desa kami mengalami penurunan hingga gagal panen,” ungkapnya.

Baca Juga  Kegiatan Yadnya di Pecatu, Plt Bupati Badung Sampaikan Dukungan dan Dana Punia

Pekakak, inti dari upacara ini, merupakan dua ekor babi (celeng) berukuran berbeda yang diikat dengan bambu. Babi yang lebih besar disebut Pekakak Ageng (besar), sedangkan yang lebih kecil dinamakan Pekakak Alit (kecil). Kedua pekakak ini kemudian diarak dari Pura Desa Sudaji menuju Pura Mas Pait Bedugul Subak Dukuh Gede, tempat persembahan Pekakak akan dilaksanakan. Arak-arakan Pekakak diiringi dengan alunan gambelan (gong) dan daun kelapa kering yang dibakar, menghadirkan suasana yang semarak.

Baca Juga  Bupati Tabanan Apresiasi Parade Ogoh-Ogoh, Warisan Budaya yang Tetap Hidup

“Pekakak Ageng memiliki berat 100 kilogram lebih, sedangkan Pekakak Alit memiliki berat 90 kilogram,” tambah Jro Made Darsana.

Uniknya, pembawa Pekakak Ageng dan Alit mengenakan tanda pengenal yang berbeda. Mereka yang mengusung Pekakak Ageng memakai ikat berwarna hijau di leher, melambangkan Dewi Kesuburan, sementara pembawa Pekakak Alit mengenakan ikat berwarna merah, simbol Dewa Brahma.

Tradisi Ngusabha Pekakak tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur, tetapi juga sebagai momen untuk mempererat tali persaudaraan antar warga desa. Seluruh warga bahu membahu dalam mempersiapkan dan melaksanakan upacara ini. Selama prosesi, warga dari berbagai kalangan usia bergotong royong mempersiapkan segala keperluan upacara.

Baca Juga  Paduan Tradisi Tionghoa dan Hindu Warnai Peresmian Balai Serbaguna Dharma Semadhi di Kuta

“Ini merupakan tradisi yang sangat penting bagi kami, dan kami bersyukur dapat terus melestarikannya hingga saat ini,” tutup Jro Made Darsana.

Ngusabha Pekakak menjadi bukti kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki oleh Desa Sudaji. Tradisi ini patut dilestarikan sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya leluhur.(adv/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments