GATRABALI.COM, BULELENG – Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, mendorong Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga serta Dewan Pendidikan untuk segera mengambil tindakan terkait rendahnya kemampuan membaca dan menulis di kalangan siswa SMP di Kabupaten Buleleng.
Hal ini menyusul temuan Dewan Pendidikan yang menunjukkan adanya siswa yang masih kesulitan dalam kemampuan literasi dasar tersebut.
Pada pertemuan yang digelar pada Senin 14 April 2025 di ruang kerjanya, Supriatna memanggil Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga serta Dewan Pendidikan untuk membahas permasalahan ini dan mencari solusi yang tepat. Dalam pertemuan tersebut, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Putu Ariadi Pribadi, memaparkan data terkait siswa yang mengalami kesulitan membaca dan menulis.
Ariadi menjelaskan bahwa dari total 34.062 siswa SMP di Kabupaten Buleleng, terdapat 155 siswa yang tergolong dalam kategori Tidak Bisa Membaca (TBM) dan 208 siswa yang Tidak Lancar Membaca (TLM), dengan total 363 siswa atau sekitar 0,011 persen. Beberapa faktor penyebab kesulitan literasi di antaranya adalah kurangnya motivasi, pembelajaran yang belum tuntas, adanya gangguan disleksia, disabilitas, serta kurangnya dukungan dari keluarga. Selain itu, faktor eksternal seperti dampak negatif dari pembelajaran jarak jauh (PJJ), kesenjangan literasi sejak jenjang SD, dan pengaruh lingkungan keluarga yang tidak kondusif turut mempengaruhi.
“Beberapa siswa mungkin menghadapi masalah psikologis akibat trauma masa kecil, seperti kekerasan dalam rumah tangga atau kehilangan anggota keluarga, yang berpengaruh pada kemampuan belajar mereka,” terang Ariadi.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan I Made Sedana menilai bahwa rendahnya literasi ini menunjukkan perlunya penanganan yang lebih serius. Ia mengusulkan agar Dinas Pendidikan melakukan pemetaan awal untuk mengetahui kebutuhan masing-masing siswa, apakah ada yang memerlukan perhatian khusus, dan juga mengevaluasi pola pengajaran yang diterapkan oleh guru.
“Perlu dicermati apakah administrasi yang ada justru mengalihkan perhatian guru dari tugas utamanya dalam mengajar,” ujar Sedana.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Supriatna mengajak Dinas Pendidikan dan Dewan Pendidikan untuk segera bersinergi dalam mencari solusi, antara lain dengan memberikan waktu khusus bagi siswa yang kesulitan membaca dan menulis. Ia juga mendorong Dinas Pendidikan untuk membentuk tim relawan yang melibatkan perguruan tinggi untuk membantu mendampingi siswa-siswa tersebut.
Supriatna juga menekankan pentingnya pengaturan penggunaan teknologi di sekolah.
“Kami menemukan bahwa banyak siswa yang kesulitan menulis namun lancar menggunakan ponsel pintar atau bersosial media. Meskipun teknologi sangat penting, kami perlu membatasi penggunaannya agar siswa lebih fokus dalam belajar,” jelas Supriatna.
Lebih lanjut, Supriatna juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua.
“Pendidikan yang baik membutuhkan kerjasama antara guru dan orang tua untuk menciptakan anak-anak yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki moral dan kepribadian yang baik,” tambahnya.(adv/gb)





