GATRABALI.COM, DENPASAR – Setelah berlangsung selama empat hari penuh semangat dan kreativitas, Rare Angon Festival 2025 resmi ditutup oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar, I.B. Alit Wiradana pada Senin, 4 Agustus 2025 malam di Gedung Dharma Negara Alaya.
Festival tahunan yang digelar oleh Komunitas Rare Angon ini sukses mempertemukan budaya lokal dengan partisipasi internasional dari 23 negara.
Festival yang dipusatkan di Pantai Mertasari ini menampilkan berbagai lomba dan atraksi layangan, mulai dari Janggan, Bebean, Pecukan hingga layangan balon berlampu yang memukau pengunjung pada malam hari. Atraksi tersebut bahkan digelar dua kali karena tingginya antusiasme masyarakat.
Dalam sambutannya, Sekda Alit Wiradana mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi kepada panitia serta seluruh peserta, khususnya Komunitas Rare Angon yang telah menghadirkan festival dengan skala internasional yang berdampak positif bagi citra Denpasar dan Bali.
“Festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga edukasi dan pelestarian budaya yang patut dijaga dan dikembangkan. Ini wajah Bali yang harus terus kita tunjukkan ke dunia,” tegasnya.
Selain penyerahan piala kepada para pemenang, momen penutupan juga ditandai dengan pemberian piagam penghargaan kepada delegasi dari 23 negara sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam memperkaya nilai festival.
Ketua Panitia, Gede Eka Surya Wirawan menambahkan bahwa ke depannya ia berharap pelayangan tak lagi dipandang sebelah mata.
Menurutnya, kegiatan ini adalah bagian dari identitas budaya dan tradisi masyarakat Bali yang dapat dikelola dengan baik melalui koordinasi antar pihak.
Suasana festival juga semakin semarak dengan pertunjukan seni seperti Baleganjur, grup musik Kober, dan hiburan musik gratis yang dapat dinikmati masyarakat secara terbuka.
Kekaguman juga datang dari peserta asing, salah satunya Wolfgang Bieck asal Jerman yang mengaku tersentuh oleh semangat kebersamaan masyarakat Bali.
“Melihat bagaimana satu layangan diterbangkan secara gotong royong adalah pengalaman budaya yang sangat mengesankan. Ini pelajaran tentang kerja sama yang luar biasa,” ujarnya.
Dengan berakhirnya Rare Angon Festival 2025, harapan besar disematkan agar perhelatan ini menjadi ikon budaya tahunan yang konsisten memperkuat posisi Bali sebagai pusat seni dan tradisi dunia.(gb)





