GATRABALI.COM, DENPASAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayahnya hingga Juli 2025 tetap stabil dan tumbuh positif.
Perbankan menunjukkan fungsi intermediasi yang sehat, disertai likuiditas dan permodalan yang kuat.
Penyaluran kredit perbankan di Bali mencapai Rp116,26 triliun, tumbuh 6,50 persen (yoy). Pertumbuhan tertinggi berasal dari kredit investasi sebesar 13,61 persen, yang menggambarkan kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Bali.
Kredit kepada UMKM juga tetap dominan dengan porsi 51,19 persen, mencerminkan dukungan nyata bagi sektor produktif lokal.
Sektor perdagangan besar dan eceran serta akomodasi dan makan minum menjadi kontributor utama penyaluran kredit seiring meningkatnya aktivitas ekonomi daerah.
Kualitas kredit tetap terjaga, dengan NPL gross 3,06 persen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp202,85 triliun atau tumbuh 9,42 persen yoy, terutama didorong peningkatan tabungan masyarakat. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada 57,31 persen, menandakan fungsi intermediasi berjalan optimal.
Ketahanan perbankan daerah juga tercermin dari kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan Cash Ratio 14,60 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) 31,87 persen, jauh di atas batas aman.
Kinerja sektor pasar modal juga menggembirakan. Hingga Juli 2025, jumlah investor saham di Bali mencapai 163.889 SID, naik 25,87 persen yoy, sementara nilai kepemilikan saham meningkat menjadi Rp6,21 triliun. Nilai transaksi saham juga melonjak 65,27 persen yoy, menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi yang legal dan produktif.
Sektor perusahaan pembiayaan dan modal ventura turut tumbuh positif. Piutang pembiayaan mencapai Rp11,89 triliun (naik 8,55 persen yoy) dengan NPF 1,37 persen, sedangkan modal ventura mencapai Rp99,43 miliar dengan pertumbuhan 9,52 persen yoy.
Selain menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK Bali juga aktif meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Hingga Agustus 2025, OJK telah melaksanakan 133 kegiatan edukasi keuangan dengan jangkauan lebih dari 18 ribu peserta, serta 1.271 kegiatan edukasi tambahan oleh pelaku industri jasa keuangan, menjangkau total lebih dari 610 ribu masyarakat Bali.
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, menyampaikan bahwa OJK terus memperkuat pengawasan dan sinergi dengan pemerintah serta industri untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
“Kami berkomitmen agar sektor keuangan di Bali tetap stabil, kontributif, dan inklusif, sambil memastikan perlindungan bagi konsumen dan masyarakat,” ujarnya.
OJK juga kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap investasi ilegal dan selalu mengecek legalitas lembaga keuangan melalui www.sipasti.ojk.go.id atau Kontak OJK 157.(ism/gb)





