GATRABALI.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menggaungkan kembali semangat historis Sunda Kecil melalui penguatan kerja sama regional antara Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi model pembangunan kawasan yang mampu menjawab berbagai tantangan masa depan sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Koster menjelaskan, gagasan membangun kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT telah dirancang melalui serangkaian pertemuan yang berlangsung sejak akhir tahun 2025.
Pertemuan awal digelar pada 3 November 2025 di Kertha Sabha, Jayasabha, Denpasar, yang kemudian dilanjutkan di Mandalika, NTB, pada 25 November 2025, serta dipertegas kembali di Kupang, NTT, pada 28 Januari 2026.
Rangkaian pertemuan tersebut menghasilkan komitmen bersama untuk membangun sinergi antarprovinsi dalam berbagai sektor strategis yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Kerja sama ini dibangun dengan semangat baru sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini, namun tetap menjaga spirit historis Sunda Kecil sebagai fondasi membangun kemajuan bersama,” kata Koster, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurutnya, kerja sama regional tersebut tidak hanya bertujuan memperkuat hubungan antarpemerintah daerah, tetapi juga meningkatkan daya saing kawasan Bali, NTB, dan NTT di tingkat nasional maupun global.
Berbagai bidang menjadi fokus kolaborasi, mulai dari pengembangan energi bersih, peningkatan konektivitas transportasi, penguatan sektor pariwisata, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kapasitas aparatur pemerintahan.
Koster menegaskan seluruh kerja sama tersebut dilaksanakan dalam kerangka memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, kolaborasi yang dibangun bukan untuk menciptakan sekat kewilayahan baru, melainkan menjadi kekuatan bersama dalam mendukung pembangunan nasional.
Ia juga menyoroti hubungan historis yang dimiliki Bali, NTB, dan NTT yang pernah berada dalam satu kesatuan wilayah berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958. Meski kini telah menjadi provinsi yang berdiri sendiri dengan regulasi masing-masing, semangat kebersamaan tersebut dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini.
Lebih lanjut, Koster menilai kerja sama ini memiliki makna khusus karena lahir dari keberagaman. Bali dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, NTB dengan mayoritas Muslim, dan NTT yang mayoritas Kristen berhasil membangun komitmen bersama untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, ketiga kepala daerah juga berasal dari latar belakang politik yang berbeda. Namun perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan dalam membangun sinergi demi kemajuan daerah dan bangsa.
“Perbedaan agama maupun latar belakang politik tidak menjadi penghalang. Justru keberagaman itu menjadi energi untuk membangun sinergi. Yang dikedepankan adalah kepentingan rakyat, memperkuat NKRI, dan mendorong kemajuan Indonesia,” tegasnya.
Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, transisi energi, peningkatan konektivitas, serta persaingan sektor pariwisata yang semakin ketat, Koster menilai kolaborasi antardaerah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.
Karena itu, semangat Sunda Kecil yang kini dibangun bersama Bali, NTB, dan NTT diharapkan mampu menjadi contoh nyata bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, memperkokoh persatuan nasional, dan mempercepat pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.(ism/gb)





